Teknologi
Bos OpenAI: Perusahaan Pakai AI sebagai Alasan PHK?
CEO OpenAI, Sam Altman, menilai bahwa sebagian gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belakangan dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI)
Ringkasan Berita:
- Sam Altman menyebut sebagian PHK yang dikaitkan dengan kecerdasan buatan hanyalah fenomena “AI washing”, di mana perusahaan menyalahkan AI atas keputusan bisnis lain.
- Sejumlah riset global menunjukkan faktor tradisional seperti overhiring dan kinerja keuangan lemah masih menjadi penyebab utama PHK.
- Meski begitu, AI tetap diprediksi akan mengubah jutaan pekerjaan dalam beberapa tahun ke depan, terutama di sektor white collar.
TRIBUNGORONTALO.COM -- CEO OpenAI, Sam Altman, menilai bahwa sebagian gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belakangan dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI) sebenarnya bukan murni disebabkan oleh teknologi tersebut.
Ia menyebut ada tren “AI washing”, yakni praktik perusahaan yang menyalahkan AI untuk keputusan PHK yang pada dasarnya dipicu faktor bisnis lain.
Pernyataan itu disampaikan Altman saat berbicara dalam wawancara di ajang AI Impact Summit di New Delhi pekan ini.
Kepada CNBC-TV18, ia mengatakan bahwa meski tidak mengetahui persentase pastinya, ada perusahaan yang menggunakan AI sebagai alasan atas PHK yang kemungkinan tetap akan mereka lakukan meski tanpa kehadiran teknologi tersebut.
Baca juga: Putusan Mahkamah Agung Gagalkan Tarif Darurat, Trump Balas dengan Skema 10 Persen
“Saya tidak tahu persentase pastinya, tetapi ada semacam AI washing, di mana orang-orang menyalahkan AI untuk PHK yang sebenarnya akan tetap mereka lakukan,” ujar Altman.
AI Dijadikan Alasan PHK?
Fenomena ini sebelumnya juga disorot sejumlah lembaga riset. Studi yang dirilis Oxford Economics pada Januari lalu menyebut sebagian besar PHK lebih banyak dipicu faktor tradisional seperti perekrutan berlebihan (overhiring) dan kinerja keuangan yang lemah, bukan karena otomatisasi AI.
Laporan tersebut bahkan menduga ada perusahaan yang mencoba “membungkus” PHK sebagai kabar baik dengan menyebutnya bagian dari transformasi AI, alih-alih mengakui kesalahan strategi bisnis di masa lalu.
Baca juga: Sejak 1985, Ridwan Baat Setia Jual Balon Karakter di Kota Gorontalo, Terbukti Mampu Sekolahkan Anak
Temuan serupa juga diungkap Morgan Stanley yang menyatakan sejumlah bisnis memanfaatkan narasi AI sebagai “lisensi untuk mengurangi jumlah karyawan”.
Meski begitu, Altman tidak menampik bahwa AI tetap membawa dampak nyata terhadap pasar kerja. Ia mengakui ada pergeseran pekerjaan yang benar-benar terjadi akibat adopsi teknologi ini.
“Ada beberapa jenis pekerjaan yang memang tergeser oleh AI,” kata Altman. “Namun seperti setiap revolusi teknologi, kita akan menemukan jenis pekerjaan baru. Saya memperkirakan dalam beberapa tahun ke depan dampak nyata AI terhadap pekerjaan akan mulai terasa.”
Prediksi Jutaan Pekerjaan Terdampak
Proyeksi lembaga riset global turut memperkuat pandangan bahwa perubahan akan terjadi, meski tidak sepenuhnya berupa kiamat pekerjaan.
Forrester memperkirakan sekitar 10 juta pekerjaan di seluruh dunia berpotensi hilang seiring percepatan adopsi AI oleh perusahaan.
Namun, laporan itu juga menekankan bahwa peran-peran baru akan muncul untuk menggantikan sebagian pekerjaan yang terdampak.
Sementara itu, Gartner memproyeksikan sekitar 32 juta pekerjaan akan “dikonfigurasi ulang, didesain ulang, atau digabungkan” setiap tahun mulai 2028 akibat integrasi AI. Artinya, banyak peran tidak sepenuhnya hilang, melainkan berubah bentuk dengan dukungan sistem otomatis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TEKNOLOGI-Siri-akan-punya-teknologi-AI-sekelas-ChatGPT.jpg)