Teknologi
Bos OpenAI: Perusahaan Pakai AI sebagai Alasan PHK?
CEO OpenAI, Sam Altman, menilai bahwa sebagian gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belakangan dikaitkan dengan kecerdasan buatan (AI)
Helen Poitevin dari Gartner bahkan menyebut situasi ini bukanlah “kiamat AI”, melainkan “kekacauan pekerjaan” yang menuntut upaya besar dalam pelatihan ulang (reskilling).
Diperkirakan sekitar 150.000 orang per hari perlu meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Pekerjaan White Collar di Ujung Tanduk?
Perdebatan makin memanas ketika sejumlah tokoh industri teknologi mengeluarkan prediksi berbeda-beda.
Studi dari National Bureau of Economic Research (NBER) di Amerika Serikat menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas akibat AI sejauh ini masih minim, sehingga memunculkan tanda tanya soal seberapa cepat AI benar-benar menggantikan manusia.
Namun pandangan lebih agresif datang dari CEO AI Microsoft, Mustafa Suleyman. Dalam wawancara dengan Financial Times, ia memperkirakan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan AI akan mampu menjalankan sebagian besar tugas profesional, termasuk pekerjaan pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga staf pemasaran.
Altman sendiri hadir dalam forum AI Impact Summit bersama sejumlah tokoh industri lain seperti CEO Anthropic, Dario Amodei, serta CEO Google, Sundar Pichai.
Forum tersebut menjadi panggung diskusi global tentang dampak AI terhadap ekonomi, industri, dan tenaga kerja.
Di tengah silang pendapat itu, satu hal menjadi jelas: AI memang mengubah lanskap pekerjaan.
Namun apakah perubahan itu akan menjadi bencana besar atau justru membuka peluang baru, sangat bergantung pada kesiapan perusahaan dan pekerja dalam beradaptasi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TEKNOLOGI-Siri-akan-punya-teknologi-AI-sekelas-ChatGPT.jpg)