Harga Emas

Proyeksi Harga Emas Dunia Melonjak, Bisa Sentuh Rp3 Jutaan per Gram

menunjukkan tren positif. Bahkan beberapa analis menyebut harga emas berpotensi menyentuh US$7.000 atau sekitar Rp109,9 juta per ons

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
HARGA EMASI -- Diskusi panel kemudian mengarah pada proyeksi harga emas jangka panjang. Garofalo menilai harga emas berpotensi mencapai US$7.000 hingga US$8.000 per ons atau sekitar Rp109,9 juta hingga Rp125,6 juta per ons. 

Ringkasan Berita:
  • Harga emas dunia diperkirakan terus menguat, bahkan berpotensi mencapai sekitar US$7.000 atau setara Rp109,9 juta per 31,1 gram, yang jika dikonversi
  • Kenaikan ini didorong pembelian besar-besaran bank sentral, ketidakpastian ekonomi global, serta meningkatnya minat sektor kripto
  • Para analis menilai tren penguatan tersebut bersifat jangka panjang karena emas semakin dipandang sebagai instrumen moneter 

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga emas diprediksi menunjukkan tren positif. Bahkan beberapa analis menyebut harga emas berpotensi menyentuh US$7.000 atau sekitar Rp109,9 juta per ons dalam waktu dekat.

Dilansir dari Nasdaq, emas masih menjadi sorotan utama dalam Konferensi Investasi Sumber Daya Vancouver (VRIC) tahun ini.

Topik emas muncul dalam sejumlah diskusi seiring melonjaknya harga logam mulia tersebut yang telah menembus US$5.000 atau sekitar Rp78,5 juta per ons.

Konferensi yang digelar pada 25–26 Januari itu mempertemukan sejumlah pakar melalui panel “Prakiraan Emas” yang dipandu Direktur Media Global ITM Trading, Daniela Cambone.

Baca juga: 4 Bansos Cair Februari 2026, Ini Cara Cek Penerima dan Tahapan Penyaluran

Panel tersebut menghadirkan CEO dan salah satu pendiri GoldMining Alastair Still, Ketua dan CEO Gold Royalty David Garofalo, mitra Von Greyerz Matthew Piepenburg, penulis Rich Dad Poor Dad Robert Kiyosaki, serta mitra Incrementum Ronald-Peter Stöferle.

Bank Sentral Jadi Penopang Harga Emas

Kenaikan harga emas sepanjang 2025 hingga awal 2026 dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia.

Berdasarkan laporan World Gold Council, bank sentral membeli 863 metrik ton emas sepanjang tahun lalu.

Angka ini memang lebih rendah dibanding pembelian lebih dari 1.000 metrik ton dalam tiga tahun sebelumnya, namun masih jauh di atas rata-rata historis.

Baik World Gold Council maupun panelis VRIC memprediksi tren pembelian emas oleh bank sentral masih akan berlanjut pada 2026, sehingga menopang harga logam mulia tersebut.

Langkah ini dipicu upaya diversifikasi cadangan devisa dari aset berbasis dolar AS, seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Menurut laporan tersebut, defisit anggaran besar serta utang Amerika Serikat yang mencapai lebih dari US$34 triliun atau sekitar Rp533.800 triliun dinilai mengurangi daya tarik obligasi pemerintah sebagai instrumen investasi.

Piepenburg menyebut tren bank sentral menumpuk emas semakin meningkat setelah Amerika Serikat menggunakan dolar sebagai alat tekanan ekonomi terhadap Rusia pasca invasi Ukraina tahun 2022.

Namun ia menilai, langkah tersebut bukan berarti bank sentral meninggalkan dolar AS, melainkan sebagai strategi menyesuaikan risiko nilai mata uang.

Stablecoin Ikut Dorong Permintaan Emas

Dalam forum tersebut, panelis juga menyoroti meningkatnya ketertarikan penerbit stablecoin terhadap emas.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved