Polemik Bansos Gorontalo
2 Nenek Tunanetra di Gorontalo Mengeluh Bansos Terhenti, Lurah Padebuolo Duga Ulah Oknum Aparat
Dua nenek kakak beradik penyandang disabilitas netra di Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
Ringkasan Berita:
- Dua nenek tunanetra di Kelurahan Padebuolo, Aisyah (80) dan Hapisah (76), mengeluhkan bantuan sembako dan uang tunai yang biasa mereka terima tiba-tiba terhenti
- Lurah Padebuolo menemukan fakta bahwa kedua nenek tersebut sebenarnya masih terdaftar sebagai penerima prioritas
- Pihak kelurahan memastikan kedua nenek tersebut tetap menjadi prioritas utama dan berjanji akan memperketat pengawasan penyaluran bantuan di masa mendatang
TRIBUNGORONTALO.COM – Dua nenek kakak beradik penyandang disabilitas netra di Kelurahan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur, Kota Gorontalo, mengeluhkan bantuan sosial yang biasa mereka terima tiba-tiba terhenti dalam beberapa bulan terakhir.
Mereka adalah Aisyah Katili (80) dan Hapisah Katili (76). Keduanya tinggal di sebuah rumah kecil sederhana di salah satu lorong, berdampingan dengan bengkel las dan tempat penyewaan tenda.
Saat TribunGorontalo.com tiba di lokasi pada Senin (9/2/2026), suasana rumah tampak sunyi. Ruangan sempit itu hanya diisi perabot seadanya.
Dua kursi tampak kosong, sementara dua lainnya diduduki oleh mereka. Seekor kucing tampak meringkuk di antara kaki meja, seolah ikut merasakan keheningan di sana.
Kedua nenek tersebut hanya duduk berdiam diri tanpa aktivitas, menghabiskan waktu di dalam rumah yang sesak.
Aktivitas harian mereka sangat terbatas; hanya makan, mandi, lalu kembali berbaring atau duduk termenung.
Dalam kondisi tersebut, Aisyah menceritakan bahwa bantuan yang dulu rutin ia terima kini tak lagi datang. Dengan suara pelan, ia mengenang masa ketika bantuan masih menyentuh tangan mereka.
"Dulu ada (terima bantuan), sekarang sudah tidak ada lagi," ungkap Aisyah.
Ia menjelaskan bahwa namanya kini tidak lagi tercatat di kantor kelurahan saat hendak mengambil bantuan.
Padahal sebelumnya, ia rutin menerima bantuan berupa beras dan minyak goreng. Aisyah merinci, dulu ia mendapatkan dua karung beras masing-masing seberat 5 kilogram (kg) serta empat botol minyak goreng ukuran 1 liter. Selain sembako, mereka juga pernah menerima bantuan tunai.
"Iya, dulu terima uang juga, tapi sekarang sudah tidak," ujarnya lirih.
Aisyah mengaku tidak mengetahui alasan pasti mengapa bantuan tersebut terhenti. Anak-anak mereka sudah mencoba menanyakan kejelasan ke pihak terkait, namun belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Untuk kebutuhan makan sehari-hari, mereka sangat bergantung pada anak-anak dan kebaikan hati tetangga. Salah satu anak mereka biasanya memasak, namun tidak jarang warga sekitar datang mengantarkan makanan.
Ning Pou, salah satu tetangga, mengaku tidak tega melihat kondisi kakak beradik tersebut. Ia rutin mengantarkan makanan jika memiliki kelebihan rezeki.