Minggu, 15 Maret 2026

Berita Internasional

Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Trump Ingin Bikin Kesepakatan Baru Libatkan China

Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir, Trump Ingin Bikin Kesepakatan Baru Libatkan China
TribunGorontalo.com
PERJANJIAN NUKLIR -- Berakhirnya perjanjian nuklir Rusia-AS. Donald Trump kini ingin China terlibat. 
Ringkasan Berita:
  • Berakhirnya Perjanjian New START mengakhiri pembatasan persenjataan nuklir antara Amerika Serikat dan Rusia yang telah berlangsung lebih dari lima dekade. 
  • Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya kesepakatan tersebut, sementara AS mendorong keterlibatan China dalam perjanjian baru yang hingga kini ditolak Beijing. 
  • Para pengamat memperingatkan situasi ini berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir baru yang melibatkan tiga kekuatan besar dunia.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintah Rusia menyatakan penyesalan atas berakhirnya perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir antara Moskow dan Washington.

Berakhirnya Perjanjian New START menandai pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad tidak ada lagi pembatas jumlah persenjataan nuklir antara dua negara dengan arsenal atom terbesar di dunia tersebut.

Para pakar pengendalian senjata menilai berakhirnya perjanjian tersebut berpotensi membuka jalan bagi perlombaan senjata nuklir tanpa batas. Situasi ini menimbulkan kekhawatiran meningkatnya ketegangan global di tengah rivalitas kekuatan besar.

Putin Tawarkan Perpanjangan, AS Belum Pastikan Sikap

Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyatakan kesiapan mempertahankan batasan yang diatur dalam perjanjian tersebut selama satu tahun tambahan, asalkan Amerika Serikat melakukan langkah serupa.

Namun, Presiden AS Donald Trump belum menunjukkan komitmen jelas terkait perpanjangan perjanjian tersebut.

Trump justru menginginkan agar China turut dilibatkan dalam kesepakatan baru. Usulan ini mendapat penolakan dari Beijing yang menilai kekuatan nuklirnya masih jauh lebih kecil dibandingkan AS dan Rusia.

Baca juga: Debut Gemilang Karim Benzema di Al Hilal, Cetak Hattrick dan Satu Assist

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa pengendalian senjata nuklir di abad ke-21 tidak akan efektif tanpa melibatkan China, mengingat persediaan senjata nuklir negara tersebut terus berkembang pesat.

Rusia Tegaskan Tetap Bertindak ‘Bertanggung Jawab’

Putin diketahui membahas berakhirnya perjanjian tersebut dengan Presiden China Xi Jinping.

Dalam pembicaraan itu, Rusia menilai Amerika Serikat tidak merespons usulan perpanjangan yang sebelumnya diajukan Moskow.

Penasihat Kremlin Yuri Ushakov menyebut Rusia akan mengambil langkah yang seimbang dan bertanggung jawab berdasarkan analisis menyeluruh terhadap situasi keamanan global.

Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menegaskan Rusia memandang berakhirnya perjanjian tersebut secara negatif.

Meski demikian, Moskow menyatakan tetap membuka peluang dialog apabila mendapat respons konstruktif dari pihak Amerika Serikat.

Rusia juga menegaskan akan mempertimbangkan langkah militer-teknis tegas guna menghadapi potensi ancaman tambahan terhadap keamanan nasionalnya.

AS dan Rusia Sepakat Hidupkan Dialog Militer

Di tengah berakhirnya New START, Amerika Serikat dan Rusia sepakat untuk kembali membuka jalur komunikasi militer tingkat tinggi.

Kesepakatan tersebut dicapai setelah pertemuan pejabat senior kedua negara di Abu Dhabi.

Baca juga: Prakiraan Cuaca Besok Sabtu 7 Februari 2026: Berpotensi Hujan di Boalemo, Pohuwato, Gorontalo Utara

Dialog militer tersebut sebelumnya dihentikan pada 2021 saat hubungan kedua negara memburuk menjelang invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Langkah pembukaan kembali komunikasi militer dinilai sebagai upaya menjaga stabilitas di tengah ketegangan geopolitik yang terus meningkat.

Isi Perjanjian New START

Perjanjian New START ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev.

Kesepakatan tersebut membatasi masing-masing negara hanya boleh memiliki maksimal 1.550 hulu ledak nuklir yang ditempatkan pada tidak lebih dari 700 rudal dan pesawat pengebom strategis yang siap digunakan.

Perjanjian ini awalnya dijadwalkan berakhir pada 2021, namun kemudian diperpanjang selama lima tahun.

Kesepakatan tersebut juga mengatur inspeksi langsung untuk memastikan kepatuhan, meski kegiatan itu dihentikan sejak pandemi COVID-19 pada 2020 dan tidak pernah dilanjutkan kembali.

Pada Februari 2023, Putin menangguhkan partisipasi Rusia dalam perjanjian tersebut.

Ia beralasan Rusia tidak dapat mengizinkan inspeksi fasilitas nuklirnya ketika Amerika Serikat dan sekutu NATO secara terbuka menargetkan kekalahan Rusia dalam konflik Ukraina.

Meski demikian, Rusia saat itu tetap berjanji mematuhi batas persenjataan yang telah disepakati.

Trump Dorong China Ikut Kesepakatan Baru

Trump menyatakan tetap mendukung pembatasan senjata nuklir, namun menilai kesepakatan baru harus melibatkan China.

Ia sebelumnya mencoba mendorong pembentukan perjanjian nuklir tiga pihak, tetapi gagal karena penolakan Beijing.

Pemerintah China menegaskan kekuatan nuklirnya tidak sebanding dengan AS dan Rusia sehingga menolak ikut perundingan pelucutan senjata pada tahap saat ini.

Beijing justru meminta Amerika Serikat kembali melanjutkan dialog nuklir dengan Rusia serta merespons positif usulan Moskow untuk tetap mematuhi batasan utama perjanjian sementara waktu.

Rusia sendiri menghormati sikap China. Namun, pejabat Moskow juga menilai bahwa jika perjanjian nuklir baru ingin diperluas, maka harus melibatkan negara anggota NATO yang memiliki senjata nuklir seperti Prancis dan Inggris.

Ancaman Perlombaan Senjata Baru

Para aktivis pengendalian senjata menyatakan kekhawatiran besar terhadap berakhirnya New START.

Direktur Eksekutif Arms Control Association di Washington, Daryl Kimball, menilai jika Amerika Serikat meningkatkan jumlah senjata nuklir strategisnya, Rusia kemungkinan akan mengikuti langkah tersebut.

Menurutnya, situasi tersebut juga dapat mendorong China mempercepat pembangunan kekuatan nuklirnya guna menjaga kemampuan serangan balasan strategis terhadap Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dikhawatirkan memicu perlombaan senjata nuklir tiga arah yang berbahaya dan berlangsung dalam jangka panjang. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved