Siswa SD di NTT Meninggal
Tak Mampu Beli Buku Rp 10 Ribu, Siswa SD Diduga Akhiri Hidup, DPR Soroti Sistem Pendidikan
Kasus meninggalnya YBS (10), siswa SD di Ngada, NTT, mengguncang publik. Diduga nekat karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kasus-meninggalnya-YBS-10-siswa-SD-di-Ngada-NTT-mengguncang-publik.jpg)
Berkaca dari tragedi ini, Hetifah mendesak pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh.
Ia menyoroti setidaknya tiga aspek krusial yang harus dibenahi, yakni sistem pendidikan, perlindungan sosial, serta kepedulian lingkungan sekitar.
Menurutnya, konsep sekolah gratis tidak boleh diterapkan setengah-setengah dan berhenti sebatas jargon.
Negara harus memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok rentan.
“Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kemiskinan orang tua tidak boleh menjadi tembok penghalang bagi anak untuk memperoleh pendidikan yang layak.
Baca juga: Aksi Kucing-Kucingan ASN Saat Razia di JDS Kota Gorontalo, Endingnya Motor Diamankan
Beban ekonomi keluarga semestinya tidak dibebankan kepada anak-anak yang sedang berada pada masa tumbuh kembang.
“Pendidikan dasar seharusnya benar-benar gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin,” tegas Hetifah.
Ke depan, Komisi X DPR RI mendorong agar jaminan pendidikan gratis tidak hanya menyentuh aspek biaya sekolah atau SPP, tetapi juga mencakup perlengkapan belajar yang menjadi kebutuhan dasar siswa.
“Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar,” imbuhnya.
Baca juga: Pakar Pariwisata UNS Nilai Promosi Banda Neira Pakai AI oleh Fadli Zon Kurang Tepat
Pentingnya Kepedulian Sosial dan Lingkungan
Selain menyoroti peran negara, Hetifah juga mengingatkan pentingnya sistem perlindungan sosial yang bersifat proaktif.
Bantuan bagi keluarga miskin dan rentan tidak boleh menunggu laporan atau tragedi terlebih dahulu.
“Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi,” jelas Ketua Kesatuan Perempuan Partai Golkar ini.
Lebih jauh, ia mengajak masyarakat, lingkungan sekolah, dan tetangga sekitar untuk meningkatkan kepekaan sosial.
Anak-anak yang hidup dalam keterbatasan tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian menghadapi tekanan hidup.