Siswa SD di NTT Meninggal
Tak Mampu Beli Buku Rp 10 Ribu, Siswa SD Diduga Akhiri Hidup, DPR Soroti Sistem Pendidikan
Kasus meninggalnya YBS (10), siswa SD di Ngada, NTT, mengguncang publik. Diduga nekat karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kasus-meninggalnya-YBS-10-siswa-SD-di-Ngada-NTT-mengguncang-publik.jpg)
Ringkasan Berita:
- YBS (10) diduga mengakhiri hidup karena tak mampu membeli alat tulis dasar
- Hetifah Sjaifudian desak evaluasi total sistem pendidikan dan perlindungan sosial
- Negara dan lingkungan diminta lebih hadir melindungi anak dari keluarga rentan
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kasus meninggalnya YBS (10), siswa kelas IV Sekolah Dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan dan sistem perlindungan sosial di Indonesia.
Bocah tersebut diduga mengakhiri hidupnya sendiri, sebuah peristiwa memilukan yang mengguncang nurani publik.
Tragedi ini menyedot perhatian luas karena latar belakangnya yang sangat sederhana sekaligus tragis.
YBS diduga nekat mengakhiri hidup lantaran keinginannya membeli buku dan pena seharga Rp 10.000 tidak mampu dipenuhi oleh orang tuanya.
Sebuah kebutuhan dasar pendidikan yang semestinya mudah dijangkau justru berubah menjadi beban berat bagi seorang anak.
Baca juga: Mulai Cair, Cek Penerima Bansos PKH dan BPNT 2026 Lewat Situs Kemensos
Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, mengaku sangat terpukul saat mengetahui kabar tersebut.
Ia menilai peristiwa di Ngada sebagai tragedi yang sulit diterima oleh akal sehat maupun nurani kemanusiaan.
“Saya sangat berduka dan prihatin dengan adanya kejadian ini,” ungkap Hetifah saat dihubungi Tribunnews, Rabu (4/2/2026).
Menurut Hetifah, alasan di balik tindakan nekat bocah berusia 10 tahun itu terasa sangat ironis, terutama jika dibandingkan dengan besarnya anggaran pendidikan yang dimiliki negara.
Ia menilai tidak seharusnya anak di Indonesia kehilangan harapan hidup hanya karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Baca juga: Kemendes Diminta Selesaikan Tunggakan Tunjangan Pendamping Desa
“Tragedi yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa anak seusia YBS seharusnya berada dalam lingkaran perlindungan, kasih sayang, dan dukungan penuh, bukan justru memikul tekanan hidup yang berat hingga merasa putus asa.
Terlebih, keputusasaan itu muncul hanya karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan belajar yang paling mendasar.
“Anak usia 10 tahun seharusnya dilindungi dan dibantu, bukan sampai merasa putus asa hanya karena buku dan pena,” kata Politisi Partai Golkar tersebut.
Baca juga: Kemendes Diminta Selesaikan Tunggakan Tunjangan Pendamping Desa