Sabtu, 28 Maret 2026

Berita Nasional

Pakar Pariwisata UNS Nilai Promosi Banda Neira Pakai AI oleh Fadli Zon Kurang Tepat

Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam promosi wisata Banda Neira yang diunggah Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Pakar Pariwisata UNS Nilai Promosi Banda Neira Pakai AI oleh Fadli Zon Kurang Tepat
TribunGorontalo.com
WISATA -- Banda Neira atau Banda Naira adalah salah satu pulau di gugusan kepulauan Banda, Provinsi Maluku. 

Ringkasan Berita:
  • Dosen bisnis wisata UNS Tomi Agfianto menilai promosi Banda Neira menggunakan AI oleh Menbud Fadli Zon kurang tepat karena pemerintah seharusnya menampilkan dokumentasi asli.
  • Menurutnya, AI memang bermanfaat dalam industri pariwisata, namun hanya sebagai pendukung dan tidak boleh menggantikan keaslian destinasi.
  • Penggunaan AI yang berlebihan dikhawatirkan dapat mengikis kepercayaan wisatawan dan memicu kekecewaan publik.

TRIBUNGORONTALO.COM -- Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam promosi wisata Banda Neira yang diunggah Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menuai sorotan dari kalangan akademisi.

Dosen bisnis wisata Universitas Sebelas Maret (UNS), Tomi Agfianto, menilai langkah tersebut kurang tepat, mengingat posisi Fadli Zon sebagai representasi pemerintah.

Menurut Tomi, pemerintah seharusnya menjadi contoh dalam menampilkan keaslian destinasi wisata.

Dengan sumber daya yang dimiliki, promosi Banda Neira dinilai lebih ideal jika menggunakan dokumentasi asli berupa foto atau video lapangan, bukan visual berbasis AI.

“Sebagai representasi pemerintah, seharusnya yang ditonjolkan adalah orisinalitas dan autentikasi destinasi. Pemerintah memiliki akses dan sumber daya yang cukup untuk menghadirkan dokumentasi riil,” kata Tomi saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (2/2/2026).

Ia menambahkan, penggunaan dokumentasi asli oleh pejabat publik dapat menjadi rujukan bagi pelaku industri pariwisata dan para pemangku kepentingan dalam mempromosikan destinasi wisata secara bertanggung jawab.

Kritik publik, menurutnya, patut dijadikan bahan evaluasi agar pemerintah lebih berhati-hati dalam melakukan publikasi.

Meski demikian, Tomi tidak menampik bahwa pemanfaatan AI dalam sektor pariwisata merupakan hal yang tak terelakkan seiring pesatnya perkembangan teknologi.

Dalam praktiknya, AI banyak membantu wisatawan dalam menyusun rencana perjalanan.

“AI memudahkan wisatawan mencari rute perjalanan yang efisien, membantu proses reservasi, hingga mendukung layanan seperti check-in hotel,” jelasnya.

Ia menyebutkan bahwa industri pariwisata dan teknologi AI kini saling berkaitan dan sulit dipisahkan.

Bahkan, AI juga telah dimanfaatkan secara luas oleh pelaku usaha pariwisata untuk kepentingan promosi.

Baca juga: PPATK Endus Dana Tambang Emas Ilegal Rp 992 Triliun, DPR Minta Dikejar

Menurut Tomi, pada masa pandemi Covid-19, teknologi seperti augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) digunakan untuk menjaga minat publik terhadap destinasi wisata yang terdampak pembatasan mobilitas.

“AR dan VR digunakan untuk menarik perhatian publik dan meningkatkan minat pasar. Dalam konteks pemasaran, AI memang sangat membantu,” ungkapnya.

Namun demikian, Tomi mengingatkan bahwa secara etika, penggunaan AI dalam promosi wisata harus tetap berpijak pada prinsip keaslian destinasi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved