Berita Internasional
Demo Besar-besaran Terjadi di Iran, Trump Sebut Bakal Gunakan Kekuatan Jika Demonstran Ditembaki
Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DEMO-IRAN-Pecah-demo-Iran-namun-Presiden-Amerika-Donald-Trump.jpg)
Ringkasan Berita:
- Donald Trump memperingatkan Iran bahwa Amerika Serikat akan merespons keras jika aparat keamanan menembaki demonstran di tengah gelombang protes nasional.
- Demonstrasi telah menyebar ke lebih dari 100 wilayah dengan puluhan korban tewas dan ribuan orang ditangkap, disertai pemadaman total internet.
- Iran menuding AS berada di balik kerusuhan, sementara tekanan internasional terhadap Teheran terus meningkat.
TRIBUNGORONTALO.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di tengah gelombang demonstrasi nasional yang mengguncang Iran.
Trump menegaskan Amerika Serikat tidak akan tinggal diam apabila aparat keamanan Iran melakukan penembakan terhadap warga sipil yang turun ke jalan.
Pernyataan itu disampaikan saat situasi di Iran semakin memanas. Aksi protes yang telah berlangsung selama hampir dua pekan terus meluas, diiringi bentrokan antara aparat dan massa di berbagai kota.
Pemerintah Iran juga dilaporkan memutus total akses internet dan jaringan komunikasi, membuat negara itu praktis terisolasi dari dunia luar.
Berdasarkan catatan Human Rights Activist News Agency (HRANA), sejak aksi protes pecah pada 28 Desember, sedikitnya 62 demonstran dan sejumlah aparat keamanan dilaporkan tewas.
Selain itu, sekitar 2.200 orang ditangkap dalam operasi penindakan aparat.
Unjuk rasa dilaporkan terjadi di lebih dari 100 kota dan kabupaten, menjadikannya salah satu gelombang perlawanan terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Ribuan warga memadati jalan-jalan, menyuarakan penolakan terhadap pemerintahan saat ini.
Sejumlah rekaman yang beredar memperlihatkan kendaraan dibakar, sepeda motor ditumpuk, serta kerusakan di berbagai titik.
Donald Trump menyebut situasi di Iran berada di titik kritis. Ia mengklaim para pemimpin Republik Islam kini berada dalam tekanan besar dan bahkan “mencari tempat untuk melarikan diri.” Trump menegaskan, Amerika Serikat telah menyampaikan peringatan secara terbuka kepada Teheran.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan demonstrasi yang terjadi belum pernah terlihat sebelumnya. Ia menyebut para demonstran tidak bersenjata dan turun ke jalan karena kecintaan terhadap negara mereka. Menurut Trump, rakyat Iran menuntut perubahan setelah kondisi negara itu dinilai terus memburuk.
Trump juga menyampaikan ancaman langsung. Ia menegaskan bahwa jika aparat Iran mulai menembaki demonstran, Amerika Serikat akan merespons dengan kekuatan serupa.
Pernyataan ini semakin meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran.
Sementara itu, pemadaman internet nasional yang diberlakukan Iran sejak Kamis membuat informasi sulit keluar masuk negara tersebut.
Namun, sejumlah rekaman tetap beredar, memperlihatkan kebakaran bangunan, toko-toko rusak, serta kendaraan terbalik di jalanan.
Dari Eropa, Perdana Menteri Inggris Sir Keir Starmer mendesak pemerintah Iran untuk menahan diri.
Baca juga: Setelah Maduro Ditangkap, Trump Sebut AS Bisa Lama Mengatur Venezuela
Dalam pernyataan bersama dengan pemimpin Prancis dan Jerman, Inggris menyatakan keprihatinan mendalam atas laporan kekerasan terhadap demonstran.
Para pemimpin Eropa menegaskan bahwa Iran berkewajiban melindungi warganya dan menjamin kebebasan berekspresi serta berkumpul secara damai.
Ayatollah Ali Khamenei justru menyalahkan Amerika Serikat atas pecahnya demonstrasi.
Dalam pidato publik, ia menuding para pengunjuk rasa sebagai perusak dan agen asing yang bekerja untuk kepentingan AS dan Israel.
Khamenei menyebut aksi tersebut sebagai upaya untuk melemahkan Republik Islam dari dalam.
Pemimpin Iran itu menegaskan bahwa rezim tidak akan mundur menghadapi tekanan apa pun.
Ia mengingatkan bahwa pemerintahan Iran berdiri melalui pengorbanan besar dan tidak akan tunduk pada apa yang disebutnya sebagai intervensi asing.
Gelombang protes ini dipicu seruan Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang kini tinggal di pengasingan, yang meminta rakyat Iran turun ke jalan.
Namun, keresahan sosial telah tumbuh jauh sebelumnya, seiring krisis ekonomi berkepanjangan.
Iran saat ini menghadapi inflasi sekitar 40 persen, nilai tukar rial yang anjlok hingga 1,4 juta per dolar AS, serta tekanan berat akibat sanksi internasional yang kembali diberlakukan.
Kondisi ini diperparah oleh konflik regional, termasuk bentrokan dengan Israel dan serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa bulan lalu.
Kepala HAM PBB Volker Turk menyatakan keprihatinan serius atas laporan kekerasan dan pemadaman komunikasi nasional di Iran.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kemungkinan intervensi militer asing masih rendah.
Di sisi lain, peradilan Iran menegaskan akan menjatuhkan hukuman berat kepada pihak-pihak yang dianggap terlibat dalam kerusuhan, dengan menekankan penegakan hukum secara tegas dan maksimal.(*)
| Hari ke-25 Perang, Iran tak Lagi Percaya "Mulut Manis" Amerika, Tutup Ruang Diplomasi |
|
|---|
| Alarm Bahaya! Harga BBM yang Naik Gila-gilaan Memukul Pariwisata Asia |
|
|---|
| Ultimatum Trump Dibalas Keras, Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump Ancam Iran Hancur Total, AS Siapkan Serangan Darat dengan Kerahkan 4.500 Marinir |
|
|---|
| Iran Janjikan Pasokan Minyak untuk Sri Lanka di Tengah Krisis Global |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.