Berita Internasional
AS Umumkan Penjualan Senjata Rp170 Triliun ke Taiwan, China Makin Tertekan
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penjualan senjata dalam jumlah besar kepada Taiwan dengan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Senjata-api-laras-panjang.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana penjualan senjata dalam jumlah besar kepada Taiwan dengan nilai mencapai sekitar US$11 miliar atau setara £8,2 miliar.
Paket alutsista ini mencakup peluncur roket canggih, howitzer swagerak, serta berbagai jenis rudal berteknologi tinggi.
Kesepakatan tersebut masih menunggu persetujuan Kongres AS, namun jika disahkan, ini akan menjadi penjualan senjata kedua ke Taiwan sejak Donald Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu.
Langkah Washington ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. China, yang memandang Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri, terus meningkatkan tekanan dengan latihan militer berskala besar serta pelanggaran rutin wilayah perairan dan udara Taiwan.
Menanggapi pengumuman tersebut, Kementerian Pertahanan Taiwan pada Kamis menyampaikan apresiasi kepada Amerika Serikat.
Baca juga: Bansos 2025 Segera Berakhir Desember Ini, Cek Status Penerima Sekarang!
Taipei menyebut paket senjata itu akan membantu Taiwan dalam “membangun kemampuan penangkal yang kuat secara cepat” demi menghadapi ancaman keamanan yang terus berkembang.
Secara diplomatik, Amerika Serikat memang memiliki hubungan resmi dengan Beijing, bukan Taipei, dan selama puluhan tahun harus menjaga keseimbangan hubungan yang rumit.
Namun demikian, AS tetap menjadi sekutu penting Taiwan dan sekaligus pemasok senjata terbesar bagi pulau tersebut.
Hingga kini, China belum memberikan komentar resmi terkait pengumuman terbaru ini.
Namun sebelumnya, Kementerian Luar Negeri China telah memperingatkan bahwa kesepakatan senjata AS-Taiwan senilai US$330 juta pada November lalu, yang mencakup penjualan jet tempur dan suku cadang pesawat, telah “melanggar secara serius kedaulatan dan keamanan China.”
Berdasarkan keterangan US Defense Security Cooperation Agency, paket penjualan senjata terbaru ini mencakup High Mobility Artillery Rocket Systems (HIMARS) senilai US$4 miliar serta howitzer swagerak dengan nilai yang sama, yakni US$4 miliar.
Rincian tersebut diumumkan pada Rabu malam waktu setempat.
Baca juga: Bansos 2025 Segera Berakhir Desember Ini, Cek Status Penerima Sekarang!
Jika kesepakatan ini terealisasi, nilainya akan melampaui 19 putaran penjualan senjata era Presiden Joe Biden yang totalnya mencapai US$8,38 miliar.
Pada masa jabatan pertamanya, Donald Trump sebelumnya telah menyetujui penjualan senjata ke Taiwan senilai total US$18,3 miliar, dengan paket terbesar mencapai US$8 miliar.
Departemen Luar Negeri AS menegaskan bahwa kesepakatan ini sejalan dengan kepentingan Washington karena mendukung upaya Taiwan memodernisasi angkatan bersenjatanya dan mempertahankan kemampuan pertahanan yang kredibel.
China sendiri telah lama berikrar untuk “menyatukan kembali” Taiwan dan secara terbuka tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer demi mencapai tujuan tersebut.
Ancaman ini semakin dianggap serius oleh Taiwan. Pemerintah Taipei berencana meningkatkan anggaran pertahanan hingga lebih dari 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun depan, dan bahkan menargetkan hingga 5 persen PDB pada 2030.
Pada Oktober lalu, Presiden Taiwan Lai Ching-te mengumumkan rencana pembangunan sistem pertahanan udara berbentuk kubah untuk melindungi wilayahnya dari “ancaman bermusuhan”, tanpa secara eksplisit menyebut China.
Di kawasan Asia-Pasifik, China juga semakin menunjukkan sikap agresif yang kerap memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga.
Pada Juni lalu, Jepang melayangkan protes keras setelah China menggelar latihan angkatan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan kapal induk di Samudra Pasifik.
Ketegangan kembali meningkat ketika kedua negara saling berbalas pernyataan terkait usulan Perdana Menteri Jepang yang menyebut Jepang dapat mengerahkan pasukan bela diri jika China menyerang Taiwan.
Situasi memanas lebih jauh bulan ini ketika kapal-kapal dari kedua pihak berhadapan di dekat pulau-pulau sengketa, sementara jet tempur China dilaporkan mengunci radar ke arah pesawat Jepang, menandai eskalasi serius di kawasan yang sudah sarat konflik geopolitik. (*)
| Kongres Amerika Siapkan 10 Pertanyaan “Interogasi” untuk Presiden Trump Terkait Perang Iran |
|
|---|
| Tegang! Iran Enggan Main Sepak Bola di Amerika, Negosiasi ke FIFA untuk Pindah Venue |
|
|---|
| Negara-negara Di Dunia Cuek saat Trump Minta Bantuan Kirim Kapal ke Selat Hormuz |
|
|---|
| Iran Klaim Serang Pusat Data Amazon dan Pangkalan Udara AS di Bahrain |
|
|---|
| Trump Minta Dunia Kirim Kapal Perang ke Selat Hormuz, Banyak Negara Pilih Diam |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.