Berita Internasional
Negara-negara Di Dunia Cuek saat Trump Minta Bantuan Kirim Kapal ke Selat Hormuz
Presiden Donald Trump pada Sabtu (15/3/2026) menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke jalur pelayaran utama di lepas pantai Iran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Selat-Hormuz.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Presiden Donald Trump pada Sabtu (15/3/2026) menyerukan sejumlah negara untuk mengirim kapal ke jalur pelayaran utama di lepas pantai Iran, sebagai upaya membantu Amerika Serikat dalam konflik militer di Timur Tengah.
Namun, hingga Minggu siang, seruan ini tampak tidak mendapat respons signifikan.
Seruan Trump muncul menyusul pengepungan militer gabungan AS-Israel yang dilancarkan akhir bulan lalu.
Iran menegaskan akan menyerang setiap kapal yang dianggap berafiliasi dengan AS dan sekutunya yang melewati Selat Hormuz, jalur vital yang menyalurkan 20 persen perdagangan minyak dunia.
Baca juga: Enam Kru Militer Amerika Meninggal dalam Kecelakaan Pesawat KC-135 di Irak Barat
Kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan membuat harga minyak melonjak, memicu kepanikan di dalam pemerintahan Trump.
“Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain yang terdampak pembatasan buatan ini, mau mengirim kapal ke wilayah tersebut, sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah benar-benar lumpuh,” tulis Trump dalam unggahan media sosialnya pada Sabtu.
Namun lebih dari 24 jam kemudian, seruan Trump “tidak mendapat komitmen nyata dari negara-negara yang disebutnya,” lapor The Wall Street Journal pada Minggu.
Respons paling menonjol datang dari Korea Selatan, yang melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan “mencatat” permintaan Trump dan akan “koordinasi secara ketat serta meninjau konflik ini dengan hati-hati,” lapor Nikkei Asia.
Ketegangan AS-Israel-Iran mengguncang stabilitas global dan memicu gejolak ekonomi dunia.
Dampaknya sangat dirasakan hingga International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan cadangan minyak darurat terbesar dalam sejarah pada Minggu, sebagai langkah menstabilkan pasar energi dunia. (*)