Minggu, 15 Maret 2026

Banjir Sumatera

Banjir Bandang Sumatera Ungkap Rapuhnya Fungsi Hidrologi, Walhi: Bukan Hujan, Tapi Kerusakan Hutan

Rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang kembali menerjang berbagai wilayah di Sumatera memperlihatkan betapa rentannya sistem hidrolog

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Banjir Bandang Sumatera Ungkap Rapuhnya Fungsi Hidrologi, Walhi: Bukan Hujan, Tapi Kerusakan Hutan
Tribunnews.com
BNPB BANJIR KRITIK - Banjir bandang di Batangtoru, Tapanuli Selatan, Selasa (25/11/2025). Ucapan Kepala BNPB yang menyebut banjir di Sumatera hanya terlihat mencekam di media sosial menuai kritik tajam. 

TRIBUNGORONTALO.COM — Rangkaian banjir bandang dan tanah longsor yang kembali menerjang berbagai wilayah di Sumatera memperlihatkan betapa rentannya sistem hidrologi di pulau tersebut.

Penurunan kualitas lingkungan akibat masifnya deforestasi disebut menjadi faktor utama yang memperburuk tingkat ancaman bencana.

Bayang-Bayang Deforestasi Sejak 1990

Data Sistem Informasi Monitoring Nasional (NFMS/SIMONTANA) yang dikelola Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa tutupan hutan alam Sumatera terus berkurang sejak 1990 hingga 2024.

Penyebabnya beragam, mulai dari alih fungsi kawasan menjadi perkebunan sawit, pertanian lahan kering, hingga perluasan hutan tanaman industri (HTI) untuk bahan baku kayu.

Dua ekosistem yang paling terdampak adalah hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa, padahal keduanya berperan penting sebagai daerah resapan sekaligus penyimpan air di wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS).

Ketika kawasan yang sebelumnya berhutan lebat berubah menjadi bentangan perkebunan monokultur, kemampuan tanah menahan air melemah drastis. Kondisi ini mendorong peningkatan limpasan air permukaan setiap kali hujan deras turun.

Walhi: Ini Bukan Semata-Mata Soal Curah Hujan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menilai rangkaian bencana yang terjadi bukan dipicu semata-mata oleh tingginya intensitas hujan.

Banjir besar yang melanda Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, dan Sibolga pada Selasa (25/11/2025) disebut sebagai bukti nyata kerusakan hutan yang sudah berlangsung lama.

Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumut, Jaka Kelana Damanik, menegaskan bahwa Ekosistem Batang Toru telah mengalami degradasi serius.

“Bukan hujan yang menyebabkan bencana ini, tetapi kerusakan ekosistem hutan Batang Toru. Di lapangan terlihat banyak kayu terbawa banjir, dan citra satelit menunjukkan hutan gundul di sekitar lokasi,” ujar Jaka seperti dikutip Tribun Medan.

Walhi Sumut telah sejak lama mengingatkan pentingnya menjaga hutan tropis terakhir di Sumut.

Kawasan Batang Toru dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, termasuk habitat Orangutan Tapanuli, salah satu spesies primata paling langka di dunia.

Organisasi itu bahkan menduga bahwa kerusakan tersebut turut diperparah oleh kebijakan pemerintah yang memberi izin operasi kepada perusahaan-perusahaan di kawasan sensitif tersebut.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 15 Maret 2026 (25 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:04
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved