Info Kesehatan
Penderita Diabetes Lebih Rentan Alami Depresi, Begitu Pun Sebaliknya
Hubungan antara penyakit diabetes dan depresi ternyata bersifat dua arah. Bahkan hal ini berlaku sama di berbagai negara
Hasilnya, meski peluang terkena diabetes atau depresi berbeda-beda antarnegara, hubungan antara kedua penyakit ini tetap sama di semua tempat.
Misalnya, risiko diabetes terendah ada di Belanda, sementara tertinggi di Portugal.
Untuk depresi, risiko terendah ada di Denmark dan tertinggi di Italia. Namun, pola kaitan antara diabetes dan depresi tidak berubah.
Faktor Individu yang Berperan
Menariknya, hanya ada satu faktor individu yang terbukti memengaruhi hubungan diabetes dan depresi, yaitu indeks massa tubuh (BMI).
Pada penderita diabetes, setiap kenaikan 1 poin BMI meningkatkan risiko gejala depresi berat sebesar 2,1 % .
Sementara pada orang tanpa diabetes, kenaikan 1 poin BMI meningkatkan risiko depresi sebesar 1,3 % .
Faktor lain seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, merokok, maupun status sosial ekonomi tidak banyak mengubah pola hubungan tersebut.
Implikasi bagi Kebijakan Kesehatan
Dr. Gottfried menjelaskan, temuan ini memberikan pesan penting bagi dunia medis dan pembuat kebijakan.
“Cara diabetes dan depresi saling terkait ternyata sama di seluruh Eropa, tanpa dipengaruhi kualitas layanan kesehatan maupun tingkat kemiskinan. Artinya, strategi untuk mencegah pasien diabetes jatuh dalam depresi – atau mencegah penderita depresi terkena diabetes – bisa diterapkan secara luas lintas negara,” katanya.
Peneliti menekankan, pemahaman ini penting agar tenaga medis dan pemerintah dapat menargetkan perawatan medis sekaligus kesehatan mental kepada kelompok paling rentan.
Tujuannya, mencegah pasien dengan salah satu penyakit berkembang ke penyakit lainnya.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/DIABETER-KOREA.jpg)