Info Kesehatan

Penderita Diabetes Lebih Rentan Alami Depresi, Begitu Pun Sebaliknya

Hubungan antara penyakit diabetes dan depresi ternyata bersifat dua arah. Bahkan hal ini berlaku sama di berbagai negara

Editor: Wawan Akuba
ilustrasi
Peneliti menegaskan bahwa orang yang mengalami gejala depresi berat memiliki peluang lebih besar menderita diabetes. Begitu pula sebaliknya, pasien diabetes juga lebih rentan mengalami depresi. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Health – Hubungan antara penyakit diabetes dan depresi ternyata bersifat dua arah.

Bahkan hal ini berlaku sama di berbagai negara, tanpa dipengaruhi kualitas layanan kesehatan maupun kondisi sosial ekonomi.

Hal ini terungkap dalam sebuah studi besar yang dipresentasikan pada Annual Meeting of the European Association for the Study of Diabetes (EASD) di Wina, Austria, 15–19 September 2025. 

Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Jaroslav Gottfried dari University College Dublin, Irlandia, dengan dukungan pendanaan dari Ireland’s Health Research Board.

Diabetes dan Depresi Saling Berkaitan

Peneliti menegaskan bahwa orang yang mengalami gejala depresi berat memiliki peluang lebih besar menderita diabetes. Begitu pula sebaliknya, pasien diabetes juga lebih rentan mengalami depresi.

Orang dengan gejala depresi tinggi memiliki risiko 15 persen lebih besar terkena diabetes dibanding mereka yang tidak depresi.

Penderita diabetes memiliki risiko 48 % lebih besar mengalami gejala depresi dibanding orang sehat.

Data dari 18 Negara Eropa

Studi ini menganalisis data lebih dari 45.000 orang berusia 50 tahun ke atas dari 18 negara Eropa, dengan periode tindak lanjut hingga 11 tahun.

Data tersebut bersumber dari tiga penelitian besar, yaitu English Longitudinal Study on Ageing, Irish Longitudinal Study on Ageing, dan Survey on Health, Ageing and Retirement in Europe.

Sekitar 20 persen partisipan berasal dari Irlandia dan Inggris, dengan rincian lebih dari 5.000 responden dari Irlandia dan lebih dari 3.800 dari Inggris.

Rata-rata usia responden adalah 65 tahun, dan sekitar 57 persen di antaranya perempuan.

Penelitian ini juga mengkaji faktor-faktor negara, seperti kualitas layanan diabetes, pengeluaran untuk diabetes, risiko kemiskinan, ketimpangan gender, hingga kesenjangan kekayaan.

Austria digunakan sebagai negara pembanding, mengingat abjad dan juga kebetulan lokasi EASD tahun ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved