KESEHATAN

Studi Global Bongkar Efektivitas Puasa Intermittent, Hasilnya Mengejutkan!

Metode diet intermittent fasting atau puasa berkala semakin populer sebagai cara menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan.

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
ILUSTRASI -- Seseorang sedang memotong sayuran di meja makan dengan sejumlah bahan makanan di letakan di meja. ITERMITEN -- Intermitten atau juga disebut pausa setengah hari rupanya disebut tak efektif, benarkah? 

Ringkasan Berita:
  • Penelitian terbaru menemukan intermittent fasting tidak lebih efektif menurunkan berat badan dibandingkan diet pembatasan kalori biasa. 
  • Studi terhadap hampir 2.000 orang menunjukkan hasil penurunan berat badan relatif sama dengan diet konvensional maupun tanpa program khusus. 
  • Meski demikian, metode ini tetap berpotensi memberikan manfaat kesehatan jika disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup individu.

 

TRIBUNGORONTALO.COM — Metode diet intermittent fasting atau puasa berkala semakin populer sebagai cara menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan.

Namun penelitian terbaru dari Cochrane Collaboration mengungkap metode tersebut ternyata tidak lebih efektif dibandingkan mengikuti saran pola makan sehat biasa, bahkan dinilai hampir setara dengan tidak melakukan program diet.

Dalam tinjauan internasional tersebut, peneliti menganalisis 22 studi yang melibatkan 1.995 orang dewasa dengan kategori kelebihan berat badan hingga obesitas.

Penelitian ini bertujuan menilai efektivitas intermittent fasting dalam jangka waktu hingga 12 bulan.

Baca juga: Lovers Arch Ambruk, Ikon Romantis Italia Tinggal Kenangan Diterjang Cuaca Ekstrem

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika dibandingkan dengan diet pembatasan kalori, intermittent fasting tidak memberikan hasil penurunan berat badan yang lebih baik.

Meski begitu, para peneliti menilai metode ini tetap bisa menjadi pilihan bagi sebagian orang karena faktor kenyamanan dan kesesuaian gaya hidup.

Apa Itu Intermittent Fasting?

Intermittent fasting merupakan metode pengaturan pola makan yang berfokus pada waktu makan, bukan hanya jenis makanan. Metode ini memiliki tiga strategi utama, yaitu:

Puasa selang-seling (alternate day fasting), yaitu mengurangi asupan kalori secara drastis atau berpuasa setiap dua hari sekali.

Diet 5:2, yaitu berpuasa atau membatasi kalori satu hingga dua hari dalam seminggu.

Time-restricted eating (16:8), yaitu membatasi waktu makan harian hanya dalam rentang sekitar 8–10 jam.

Temuan Penelitian

Penelitian menunjukkan intermittent fasting menghasilkan penurunan berat badan yang hampir sama dengan diet biasa berbasis pengurangan kalori.

Penurunan berat badan peserta berkisar antara kehilangan 10 persen hingga justru mengalami kenaikan 1 persen, baik pada kelompok puasa berkala maupun diet konvensional.

Selain itu, ketika dibandingkan dengan kelompok yang tidak menjalani program diet apa pun, intermittent fasting hanya menunjukkan selisih penurunan berat badan sekitar 3 persen.

Dalam dunia medis, perbedaan tersebut dinilai belum memiliki dampak klinis yang signifikan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved