Ramadan 2026
Persiapan Ketuk Sahur, Sekelompok Remaja di Liluwo Gorontalo Latihan Genderang Setiap Sore
Suara genderang bertalu-talu memecah suasana sore di Kelurahan Liluwo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
"Biasanya kami mulai latihan dari sore, kadang sampai menjelang Magrib," ujarnya.
Rafli menjelaskan bahwa saat tiba waktunya membangunkan warga, mereka tidak hanya berkeliling di sekitar Kecamatan Kota Tengah.
Bersama kelompoknya, mereka kerap menyusuri berbagai wilayah di Kota Gorontalo.
Bahkan, sesekali mereka menggunakan mobil pikap untuk menjangkau wilayah Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Kekompakan tim terlihat jelas. Ada yang bertugas memegang ritme dasar, sementara yang lain memainkan variasi pukulan agar irama terdengar lebih dinamis.
Tanpa aba-aba formal, latihan berjalan rapi; isyarat kecil antaranggota sudah cukup untuk menyesuaikan tempo yang meleset.
Tradisi genderang sahur ini telah dijalani secara turun-temurun setiap tahun.
Selain menyemarakkan Ramadan, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi bagi pemuda Liluwo.
Baca juga: Banjir di Desa Datahu Mulai Surut, BPBD Kabupaten Gorontalo Imbau Warga Tetap Siaga
Menariknya, seluruh biaya operasional—mulai dari perawatan alat hingga akomodasi—berasal dari iuran mandiri para anggota.
"Kalau sudah turun membangunkan sahur, yang ikut biasanya banyak, bisa belasan orang," kata Rafli. Baginya, ada kepuasan tersendiri saat bisa berbagi semangat Ramadan dengan warga sekaligus menjaga tradisi lama agar tetap hidup.
Menjelang senja, suara genderang perlahan mereda.
Alat-alat disusun kembali di sudut jalan, sementara sebagian anak muda masih duduk bercengkerama menunggu azan Magrib. Sore itu, latihan ditutup dengan tawa renyah. (*)