Minggu, 8 Maret 2026

Siswi Gorontalo Dikeroyok

Buntut Kasus Kekerasan, Dinas Pendidikan Gorontalo Screening Psikologis Siswa SMA

Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif yang signifikan guna merespons insiden kekerasan yang melibatkan pelajar SMA.

Tayang:
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Buntut Kasus Kekerasan, Dinas Pendidikan Gorontalo Screening Psikologis Siswa SMA
TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga
KASUS PENGEROYOKAN -- Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo, Since Ladji, saat diwawancarai TribunGorontalo.com, pada Senin (26/1/2026). Dinas Pendidikan melakukan screening psikologis untuk para pelajar SMA di Kota Gorontalo. (Sumber foto: TribunGorontalo.com/Jefri Potabuga) 

Since juga mengonfirmasi bahwa tim telah melakukan kunjungan kepada pihak korban maupun terduga pelaku. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan moral dan memastikan proses rekonsiliasi berjalan baik.

Ia sangat berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Gorontalo. Kekerasan di sekolah harus dihentikan dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah dalam fase pencarian jati diri remaja.

Pentingnya kerja sama semua pihak kembali ditekankan sebagai kunci utama dalam memutus mata rantai kekerasan pelajar. Tanpa adanya keselarasan gerak antara sekolah dan rumah, kejadian serupa berpotensi terulang kembali.

Since mengingatkan pihak sekolah agar lebih jeli dalam mengawasi gerak-gerik siswa di area pendidikan. Pihak keamanan sekolah dan guru piket diminta untuk lebih proaktif dalam memantau sudut-sudut sekolah yang rawan.

“Sekolah kalau perlu meniadakan setiap kesempatan atau ruang bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik,” tegasnya lagi.

Peran orang tua di rumah dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang anti-kekerasan. Komunikasi yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi sangat krusial di era informasi saat ini.

Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan fasilitas materi, tetapi juga pengawasan terhadap pergaulan sosial anak-anak mereka. Intensitas komunikasi di meja makan atau saat waktu santai bisa menjadi detektor awal masalah anak.

Since meyakini bahwa pada dasarnya tidak ada orang tua yang mengarahkan anaknya menuju jalan kekerasan. Setiap orang tua pasti mendambakan masa depan yang cerah dan aman bagi putra-putri mereka.

Oleh karena itu, penanganan kasus pengeroyokan ini diupayakan agar tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar bagi siswa lainnya. Ketenangan di lingkungan sekolah harus segera dipulihkan sepenuhnya.

Berdasarkan kronologi kejadian, dugaan pengeroyokan ini terjadi pada Senin malam pekan lalu di luar lingkungan sekolah. Insiden tersebut melibatkan tiga siswi yang melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap rekan sejawatnya.

Akibat dari tindakan tersebut, korban dilaporkan mengalami luka fisik di bagian dahi dan perut. Namun, yang paling memprihatinkan adalah trauma psikis berat yang dialami korban pasca-kejadian.

Pihak SMAN Gorontalo (tempat siswa bersangkutan) pun bertindak cepat dengan memanggil seluruh orang tua siswa yang terlibat pada Selasa pagi harinya.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh pihak pelaku, korban, serta saksi-saksi kunci.

Meskipun secara kekeluargaan pihak pelaku sudah meminta maaf dan dimaafkan, proses hukum tetap berjalan di kepolisian. Hal ini dikarenakan pihak korban memilih untuk mencari keadilan melalui jalur hukum yang berlaku.

Sanksi skorsing yang dijatuhkan pihak sekolah merupakan langkah administratif sambil menunggu hasil penyelidikan kepolisian.

Sementara itu, korban diberikan dispensasi khusus untuk fokus pada pemulihan kesehatan total.

(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Minggu, 08 Maret 2026 (18 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:31
Subuh 04:41
Zhuhr 12:02
‘Ashr 15:11
Maghrib 18:05
‘Isya’ 19:13

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved