Siswi Gorontalo Dikeroyok
Buntut Kasus Kekerasan, Dinas Pendidikan Gorontalo Screening Psikologis Siswa SMA
Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif yang signifikan guna merespons insiden kekerasan yang melibatkan pelajar SMA.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepala-Bidang-SMA-Dinas-Pendidikan-Provinsi-Gorontalo-Since-Ladji.jpg)
Since mengajak para orang tua untuk terlibat lebih aktif dalam menjaga stabilitas emosional anak. Dukungan masyarakat sekitar juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi pertumbuhan remaja.
“Tentu ini harus dibantu oleh para orang tua dan masyarakat, meyakinkan bahwa anak-anak kita bisa merasa aman dan nyaman kembali,” ujarnya.
Sebagai bentuk nyata dari kepedulian pemerintah, Dinas Pendidikan Gorontalo telah menjalin koordinasi lintas sektor. Hal ini dilakukan agar penanganan dampak psikologis terhadap siswa dapat dilakukan secara profesional.
Pemerintah Provinsi Gorontalo telah menyiapkan tim pendampingan yang melibatkan ahli dari berbagai instansi terkait. Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan solusi komprehensif dari sisi kesehatan maupun perlindungan anak.
Since menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menjadi salah satu mitra strategis dalam program ini. Tim medis dan ahli kesehatan mental akan dilibatkan untuk memantau kondisi para siswa secara berkala.
Selain itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) juga turut ambil bagian dalam proses pendampingan. Sinergi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus kekerasan di tingkat pelajar secara tuntas.
Langkah konkret yang paling mendesak adalah pelaksanaan screening psikologis yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Seluruh siswa di sekolah terkait wajib mengikuti prosedur pemeriksaan ini tanpa terkecuali.
“Besok hari Selasa akan dilakukan screening bagi seluruh murid-murid kita untuk mengetahui kondisi psikologis mereka secara mendalam,” jelas Since.
Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah untuk memetakan kondisi kejiwaan siswa secara kolektif. Dengan mengetahui kondisi psikologis mereka, pihak sekolah dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat sasaran.
Dinas Pendidikan ingin memastikan tidak ada lagi benih-benih konflik yang tersimpan di lingkungan sekolah. Screening ini diharapkan mampu meminimalisir kondisi-kondisi negatif yang tidak diinginkan oleh semua pihak.
Mengenai status siswa yang terlibat dan saat ini dikenakan sanksi skorsing, Since memberikan jaminan terkait hak pendidikan mereka. Ia menegaskan bahwa pemberian sanksi tidak berarti menghentikan hak belajar siswa tersebut.
“Anak-anak yang diskorsing dipastikan tetap mendapatkan pembelajaran sebagaimana mestinya,” kata Since menepis kekhawatiran publik mengenai putusnya akses pendidikan pelaku.
Hanya saja, untuk sementara waktu, proses pembelajaran bagi siswa yang diskorsing dialihkan ke rumah masing-masing. Langkah ini diambil untuk mendinginkan suasana dan mencegah potensi konflik susulan di sekolah.
Guru-guru di sekolah pun diinstruksikan untuk tetap melakukan pendampingan secara intensif. Pemantauan tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi juga melalui pendekatan personal kepada siswa yang bersangkutan.
Koordinasi antara guru dan orang tua kini diperketat, baik melalui komunikasi telepon maupun kunjungan rumah secara langsung. Hal ini bertujuan agar siswa tetap disiplin mengikuti materi pelajaran meski tidak hadir secara fisik di kelas.
Baca juga: Kronologi Siswi SMA Gorontalo Dikeroyok Teman Sekolahnya, Ortu Sebut Pelaku Anak Guru