Siswi Gorontalo Dikeroyok
Kronologi Siswi SMA Gorontalo Dikeroyok Teman Sekolahnya, Ortu Sebut Pelaku Anak Guru
Seorang siswi kelas XI SMA Negeri harus menelan pil pahit setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/R-orang-tua-siswa-SMA-di-Kota-Gorontalo-saat-diwawancarai-TribunGorontalocom.jpg)
Ringkasan Berita:
- Seorang siswi kelas XI SMA Negeri di Kota Gorontalo diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan di lapangan eks Agussalim
- Korban mengalami luka fisik dan trauma psikis berat, hingga menarik diri dari lingkungan sosial dan tidak sanggup memberikan keterangan
- Orang tua korban menolak jalur damai karena menilai tidak ada itikad baik dari pihak pelaku
TRIBUNGORONTALO.COM – Tragedi kekerasan di lingkungan remaja kembali mencoreng dunia pendidikan di Kota Gorontalo.
Seorang siswi kelas XI SMA Negeri harus menelan pil pahit setelah diduga menjadi korban pengeroyokan brutal oleh tiga remaja perempuan.
Kasus ini menjadi sorotan tajam setelah orang tua korban mengungkap fakta mengejutkan mengenai latar belakang pelaku.
Di balik aksi kekerasan yang terencana tersebut, salah satu terduga pelaku disinyalir merupakan anak dari seorang tenaga pendidik atau guru.
Kejadian yang berlangsung di tengah kegelapan malam itu menyisakan trauma mendalam bagi korban. Luka fisik mungkin perlahan memudar, namun guncangan psikis yang dialami remaja ini dilaporkan masuk dalam kategori trauma berat yang sangat mengkhawatirkan.
Kronologi peristiwa kelam ini bermula pada Senin malam (19/1/2026). Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul 18.30 WITA, waktu di mana aktivitas masyarakat mulai melambat dan malam mulai turun menyelimuti kota.
Korban yang dikenal sebagai sosok remaja pendiam dan tertutup, berpamitan kepada ibunya, R. Ia menyampaikan niat untuk berkumpul di rumah seorang temannya guna urusan pertemanan biasa.
Tanpa sedikit pun firasat buruk, R mengizinkan putrinya pergi. Baginya, sang anak hanya ingin menghabiskan waktu sejenak untuk bersosialisasi dengan rekan sebayanya.
Namun, yang tidak diketahui oleh korban maupun keluarganya, sebuah skenario kekerasan telah disiapkan di lokasi tujuan. Di rumah rekan yang dijanjikan, tiga orang remaja perempuan sudah menunggu dengan suasana penuh ketegangan.
Salah satu dari ketiga remaja tersebut ternyata bukan orang asing bagi korban. Ironisnya, ia adalah teman sekelas korban sendiri yang seharusnya menjadi mitra dalam menuntut ilmu di sekolah.
Negosiasi yang Gagal dan Tekanan Pelaku
Menyadari adanya gelagat tidak baik dari rombongan tersebut, korban sempat berupaya melakukan negosiasi. Ia meminta agar masalah yang mereka hadapi dibicarakan baik-baik di dalam rumah saja.
Upaya perlindungan sebenarnya sempat datang dari pemilik rumah lokasi pertemuan. Pemilik rumah tersebut melarang rombongan remaja itu untuk keluar karena kondisi di luar sudah mulai gelap dan dianggap tidak aman.
Akan tetapi, tekanan dan intimidasi dari ketiga pelaku jauh lebih kuat. Mereka memaksa korban untuk ikut dengan alasan ingin menyelesaikan urusan di tempat lain yang lebih tertutup.
Korban yang merasa terdesak dan berada dalam posisi tidak berdaya akhirnya terpaksa mengikuti kemauan para pelaku. Mereka beranjak menuju sebuah lokasi yang kelak menjadi saksi bisu aksi kekerasan tersebut.