Siswi Gorontalo Dikeroyok
Buntut Kasus Kekerasan, Dinas Pendidikan Gorontalo Screening Psikologis Siswa SMA
Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif yang signifikan guna merespons insiden kekerasan yang melibatkan pelajar SMA.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kepala-Bidang-SMA-Dinas-Pendidikan-Provinsi-Gorontalo-Since-Ladji.jpg)
Ringkasan Berita:
- Menyusul kasus pengeroyokan siswi SMAN Gorontalo, Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo menggelar screening psikologis menyeluruh bagi seluruh siswa
- Penanganan kasus dilakukan secara kolektif dengan menggandeng Dinas Kesehatan dan Dinas P3A untuk memberikan pendampingan mental profesional
- Meski pelaku dijatuhi sanksi skorsing, Dinas Pendidikan menjamin hak belajar tetap berjalan melalui skema pembelajaran di rumah
TRIBUNGORONTALO.COM – Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo mengambil langkah proaktif yang signifikan guna merespons insiden kekerasan yang melibatkan pelajar SMA.
Sebagai upaya pemulihan pasca-kejadian pengeroyokan siswi, otoritas pendidikan akan menggelar pemeriksaan atau screening psikologis secara menyeluruh.
Langkah ini diambil menyusul adanya kasus pengeroyokan yang melibatkan siswa dari SMA negeri di Kota Gorontalo beberapa waktu lalu. Insiden tersebut memicu keprihatinan mendalam di kalangan pendidik dan masyarakat luas.
Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Pendidikan menegaskan bahwa aspek mental peserta didik kini menjadi prioritas utama.
Hal ini dilakukan untuk mendeteksi dini potensi gangguan emosional yang bisa memicu tindakan agresif serupa di masa depan.
Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo, Since Ladji, menyampaikan komitmen instansinya dalam menjaga marwah dunia pendidikan.
Menurutnya, sekolah harus tetap menjadi tempat yang suci dari segala bentuk tindakan kekerasan.
Dinas Pendidikan menegaskan bahwa keamanan dan kenyamanan siswa adalah harga mati yang harus dijamin oleh negara. Keberadaan para siswa di sekolah tidak boleh dihantui oleh rasa takut akan perundungan maupun kekerasan fisik.
Meskipun peristiwa pengeroyokan tersebut terjadi di luar lingkungan sekolah, Since Ladji menekankan bahwa tanggung jawab pembinaan tidak lantas lepas begitu saja.
Pihak sekolah tetap memegang peran penting dalam memantau perilaku siswanya kapan pun dan di mana pun.
“Pada kondisi seperti ini tentu dinas pendidikan mengedepankan keamanan dan kenyamanan anak,” tegas Since Ladji saat memberikan keterangan resmi di Gorontalo, Senin (26/1/2026).
Menurut Since, dinas pendidikan dan pihak sekolah harus berdiri di garda terdepan dalam proses penyelesaian masalah ini.
Tidak boleh ada pembiaran terhadap perilaku yang melanggar norma dan hukum, meski kejadiannya berlangsung di luar jam sekolah.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penanganan kasus ini memerlukan pendekatan kolektif yang melibatkan banyak pihak. Dinas Pendidikan tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan penuh dari elemen lainnya.
Since mengajak para orang tua untuk terlibat lebih aktif dalam menjaga stabilitas emosional anak. Dukungan masyarakat sekitar juga sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan sosial yang sehat bagi pertumbuhan remaja.
“Tentu ini harus dibantu oleh para orang tua dan masyarakat, meyakinkan bahwa anak-anak kita bisa merasa aman dan nyaman kembali,” ujarnya.
Sebagai bentuk nyata dari kepedulian pemerintah, Dinas Pendidikan Gorontalo telah menjalin koordinasi lintas sektor. Hal ini dilakukan agar penanganan dampak psikologis terhadap siswa dapat dilakukan secara profesional.
Pemerintah Provinsi Gorontalo telah menyiapkan tim pendampingan yang melibatkan ahli dari berbagai instansi terkait. Kerja sama ini diharapkan mampu memberikan solusi komprehensif dari sisi kesehatan maupun perlindungan anak.
Since menyebutkan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo menjadi salah satu mitra strategis dalam program ini. Tim medis dan ahli kesehatan mental akan dilibatkan untuk memantau kondisi para siswa secara berkala.
Selain itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) juga turut ambil bagian dalam proses pendampingan. Sinergi ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus kekerasan di tingkat pelajar secara tuntas.
Langkah konkret yang paling mendesak adalah pelaksanaan screening psikologis yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Seluruh siswa di sekolah terkait wajib mengikuti prosedur pemeriksaan ini tanpa terkecuali.
“Besok hari Selasa akan dilakukan screening bagi seluruh murid-murid kita untuk mengetahui kondisi psikologis mereka secara mendalam,” jelas Since.
Tujuan utama dari pemeriksaan ini adalah untuk memetakan kondisi kejiwaan siswa secara kolektif. Dengan mengetahui kondisi psikologis mereka, pihak sekolah dapat mengambil langkah pencegahan yang lebih tepat sasaran.
Dinas Pendidikan ingin memastikan tidak ada lagi benih-benih konflik yang tersimpan di lingkungan sekolah. Screening ini diharapkan mampu meminimalisir kondisi-kondisi negatif yang tidak diinginkan oleh semua pihak.
Mengenai status siswa yang terlibat dan saat ini dikenakan sanksi skorsing, Since memberikan jaminan terkait hak pendidikan mereka. Ia menegaskan bahwa pemberian sanksi tidak berarti menghentikan hak belajar siswa tersebut.
“Anak-anak yang diskorsing dipastikan tetap mendapatkan pembelajaran sebagaimana mestinya,” kata Since menepis kekhawatiran publik mengenai putusnya akses pendidikan pelaku.
Hanya saja, untuk sementara waktu, proses pembelajaran bagi siswa yang diskorsing dialihkan ke rumah masing-masing. Langkah ini diambil untuk mendinginkan suasana dan mencegah potensi konflik susulan di sekolah.
Guru-guru di sekolah pun diinstruksikan untuk tetap melakukan pendampingan secara intensif. Pemantauan tidak hanya dilakukan secara administratif, tetapi juga melalui pendekatan personal kepada siswa yang bersangkutan.
Koordinasi antara guru dan orang tua kini diperketat, baik melalui komunikasi telepon maupun kunjungan rumah secara langsung. Hal ini bertujuan agar siswa tetap disiplin mengikuti materi pelajaran meski tidak hadir secara fisik di kelas.
Baca juga: Kronologi Siswi SMA Gorontalo Dikeroyok Teman Sekolahnya, Ortu Sebut Pelaku Anak Guru
Since juga mengonfirmasi bahwa tim telah melakukan kunjungan kepada pihak korban maupun terduga pelaku. Kunjungan ini dimaksudkan untuk memberikan dukungan moral dan memastikan proses rekonsiliasi berjalan baik.
Ia sangat berharap peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi seluruh masyarakat Gorontalo. Kekerasan di sekolah harus dihentikan dan tidak boleh dianggap sebagai hal yang lumrah dalam fase pencarian jati diri remaja.
Pentingnya kerja sama semua pihak kembali ditekankan sebagai kunci utama dalam memutus mata rantai kekerasan pelajar. Tanpa adanya keselarasan gerak antara sekolah dan rumah, kejadian serupa berpotensi terulang kembali.
Since mengingatkan pihak sekolah agar lebih jeli dalam mengawasi gerak-gerik siswa di area pendidikan. Pihak keamanan sekolah dan guru piket diminta untuk lebih proaktif dalam memantau sudut-sudut sekolah yang rawan.
“Sekolah kalau perlu meniadakan setiap kesempatan atau ruang bagi mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak baik,” tegasnya lagi.
Peran orang tua di rumah dinilai menjadi fondasi utama dalam membentuk karakter anak yang anti-kekerasan. Komunikasi yang jujur dan terbuka antara orang tua dan anak menjadi sangat krusial di era informasi saat ini.
Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan fasilitas materi, tetapi juga pengawasan terhadap pergaulan sosial anak-anak mereka. Intensitas komunikasi di meja makan atau saat waktu santai bisa menjadi detektor awal masalah anak.
Since meyakini bahwa pada dasarnya tidak ada orang tua yang mengarahkan anaknya menuju jalan kekerasan. Setiap orang tua pasti mendambakan masa depan yang cerah dan aman bagi putra-putri mereka.
Oleh karena itu, penanganan kasus pengeroyokan ini diupayakan agar tidak mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar bagi siswa lainnya. Ketenangan di lingkungan sekolah harus segera dipulihkan sepenuhnya.
Berdasarkan kronologi kejadian, dugaan pengeroyokan ini terjadi pada Senin malam pekan lalu di luar lingkungan sekolah. Insiden tersebut melibatkan tiga siswi yang melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap rekan sejawatnya.
Akibat dari tindakan tersebut, korban dilaporkan mengalami luka fisik di bagian dahi dan perut. Namun, yang paling memprihatinkan adalah trauma psikis berat yang dialami korban pasca-kejadian.
Pihak SMAN Gorontalo (tempat siswa bersangkutan) pun bertindak cepat dengan memanggil seluruh orang tua siswa yang terlibat pada Selasa pagi harinya.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh pihak pelaku, korban, serta saksi-saksi kunci.
Meskipun secara kekeluargaan pihak pelaku sudah meminta maaf dan dimaafkan, proses hukum tetap berjalan di kepolisian. Hal ini dikarenakan pihak korban memilih untuk mencari keadilan melalui jalur hukum yang berlaku.
Sanksi skorsing yang dijatuhkan pihak sekolah merupakan langkah administratif sambil menunggu hasil penyelidikan kepolisian.
Sementara itu, korban diberikan dispensasi khusus untuk fokus pada pemulihan kesehatan total.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.