Tribun Podcast
Kadis Dikbud Gorontalo Abdul Waris Bicara Restorasi Pendidikan, Perkuat Sistem hingga Karakter Siswa
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Gorontalo, Abdul Waris, menegaskan komitmennya melakukan pembenahan pendidikan
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
Menurutnya, profesionalisme tidak hanya sekadar menjalankan tugas, tetapi mampu mencapai bahkan melampaui target kerja.
“Profesional itu secara sederhana, Anda bekerja melebihi target yang Anda ditentukan,” tegas Abdul Waris.
Selain itu, kecepatan dalam bekerja juga menjadi indikator penting dalam profesionalisme.
“Indikator bahwa Anda profesional adalah Anda cepat. Tidak ada dalam indikasi apapun yang namanya profesional tidak mungkin lambat,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa para kepala sekolah pada dasarnya merupakan pelayan masyarakat dan peserta didik.
“Yang harus Anda ingat adalah anda pelayan daripada anak-anak, anda pelayan dari masyarakat,” ungkapnya.
Fokus Kesejahteraan Guru
Dalam dialog tersebut, Waris juga menyinggung persoalan kesejahteraan guru, khususnya guru non-ASN.
Ia menegaskan jika masih ada guru yang merasa tidak nyaman bekerja, maka hal itu menjadi tanggung jawab pimpinan.
“Kalau ada guru saya yang tidak nyaman, itu sebenarnya saya yang tidak bekerja bagus,” bebernya.
Ia menjelaskan pihaknya telah menyelesaikan persoalan guru non-ASN yang telah tersertifikasi namun belum menerima haknya karena terkendala administrasi.
“Ternyata kan terkendala dengan SK. Setelah kami konsultasikan, alhamdulillah dikasih solusi oleh sesjen GTK,” tuturnya.
Saat ini ratusan guru non-ASN di Kabupaten Gorontalo telah mendapatkan surat keputusan penugasan sehingga bisa menerima sertifikasi.
“Sekarang mereka sudah ada SK, sudah SK penugasan oleh pimpinan, sudah menerima sertifikasi. Jadi selesai yang 338 orang,” tambah Abdul.
Baca juga: Kisah Fatmawaty Mile, Kepsek SD Tibawa Gorontalo Rela 3 Kali Ganti Kendaraan Tiap Hari Demi Murid
Tantangan Internet di Sekolah
Waris juga mengakui masih ada sejumlah sekolah di Kabupaten Gorontalo yang mengalami keterbatasan jaringan internet. Hal ini menjadi tantangan dalam peningkatan literasi digital siswa.
Untuk solusi jangka pendek, pihaknya akan memobilisasi siswa ke sekolah yang memiliki akses internet saat dibutuhkan.