Berita Internasional
Kenapa Armada Amerika Terbesar Dunia Tak Berani Masuk Selat Hormuz? Ternyata Ini Alasannya
Armada laut terbesar dan termahal di dunia justru berada jauh di luar jalur strategis tersebut, seolah hanya menyaksikan tanpa mampu berbuat banyak
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/KAPAL-PERANG-Kapal-induk-Angkatan-Laut-AS-USS-Abraham-Lincoln-CVN-72.jpg)
Namun situasi mulai berubah ketika intelijen Amerika mendeteksi pembangunan militer Iran di pulau Abu Musa dan Tunbs, serta di pesisir Bandar Abbas, yang berada dekat Selat Hormuz.
Iran memasang rudal anti-kapal dalam bunker yang diperkuat beton dan baja, memungkinkan mereka menargetkan kapal yang melintas dengan mudah.
Sejak saat itu, Angkatan Laut AS mulai mengurangi aktivitasnya di selat tersebut. Kini, kapal induk Amerika beroperasi jauh di luar jangkauan rudal Iran.
Era “anti-access/area denial” pun dimulai, di mana sistem pertahanan berbasis darat, khususnya rudal, menjadi lebih dominan dibanding kekuatan laut.
Wilayah seperti “Yankee Station” tidak lagi mungkin diterapkan di area yang dipenuhi rudal murah namun akurat.
China Ikuti Jejak, Ancaman Kian Nyata
Langkah Iran tidak luput dari perhatian China. Negara tersebut kemudian mengembangkan sistem “anti-Navy” dengan rudal yang dirancang untuk menghancurkan kapal perang AS, terutama jika terjadi konflik di sekitar Taiwan.
China kini memiliki berbagai sistem rudal canggih, termasuk seri DF (Dong Feng), yang mampu melacak dan menyerang kapal dari jarak ribuan kilometer.
Berbagai simulasi perang menunjukkan bahwa Angkatan Laut AS berpotensi mengalami kerugian besar jika menghadapi China.
Risiko Tinggi, Biaya Membengkak
Saat ini, Angkatan Laut AS menyadari bahwa memasuki Selat Hormuz bukan tanpa risiko besar.
Kapal-kapal mereka rentan terhadap rudal, ranjau laut, serta sistem tanpa awak di permukaan maupun bawah laut.
Langkah untuk menghindari wilayah berbahaya ini justru meningkatkan biaya operasi, termasuk kebutuhan pengisian bahan bakar udara secara terus-menerus.
Meski berbagai sistem pertahanan telah diterapkan, jarak dekat dengan ancaman membuat waktu reaksi menjadi sangat terbatas.
Pelajaran dari perang Rusia-Ukraina juga memperkuat kekhawatiran ini.
Ukraina berhasil memukul mundur armada Rusia di Laut Hitam menggunakan rudal dan drone, teknologi yang juga dimiliki Iran.
Tidak Ada Solusi Militer Instan
Inilah alasan mengapa Angkatan Laut AS tidak mencoba memaksa masuk ke Selat Hormuz.