Berita Internasional
Misteri Kota Rudal Bawah Tanah Iran: Dibom Berkali-kali, Tetap Aktif
Tiga pekan serangan intensif oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur rudal balistik Iran telah menghancurkan sistem radar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-Komando-Pusat-AS-CENTCOM-merilis-rekaman-yang-menunjukkan.jpg)
Wilayah ini telah menjadi target serangan berulang kali oleh AS dan Israel, termasuk pada:
- 1 Maret
- 6 Maret
- 17 Maret
- dan beberapa hari setelahnya
Namun, analis independen Shanaka Anslem Perera menilai kerusakan yang terlihat hanya sebagian kecil dari keseluruhan sistem.
Ia menyebut jaringan terowongan di bawahnya tetap berfungsi, dengan pintu keluar alternatif dan sistem rel yang bisa mengalihkan jalur jika satu akses dihancurkan.
Mengapa Bom Tak Mampu Menembus?
Masalah utama terletak pada faktor geologi.
Mantan Komandan Angkatan Udara Garda Revolusi Iran menyatakan bahwa fasilitas rudal dibangun hingga kedalaman 500 meter.
Sebagai perbandingan, bom penghancur bunker terkuat milik AS, GBU-57 Massive Ordnance Penetrator, hanya mampu menembus:
sekitar 60 meter beton bertulang atau sekitar 40 meter batuan sedang. Artinya, kedalaman fasilitas Iran lebih dari 12 kali lipat kemampuan penetrasi bom tersebut.
Menurut Perera, ini bukan sekadar keterbatasan teknis, melainkan “ketidakmungkinan secara fisika”.
Gunung, katanya, menjadi sistem pertahanan alami yang tidak bisa ditembus oleh serangan udara.
Strategi Iran: Infrastruktur, Bukan Sekadar Senjata
Perera menjelaskan, logika strategi Iran cukup sederhana namun efektif:
Setiap rudal yang menghantam wilayah Israel seperti Arad, Dimona, atau wilayah tengah, dirakit di bawah tanah, dipindahkan melalui rel, lalu diluncurkan dari pintu yang bisa dihancurkan dan dibangun kembali berkali-kali.
Ia menegaskan:
“Iran tidak mempersiapkan perang ini dengan membangun roket, tetapi dengan membangun rel kereta di dalam gunung.”