Berita Internasional
FBI Peringatkan Potensi Serangan Drone Iran ke Amerika, Ungkap Kapal Misterius di Lepas Pantai
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) memperingatkan aparat kepolisian di California mengenai kemungkinan rencana Iran melancarkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SERANGAN-Ada-dugaan-serangan-Iran-ke-California-Amerika.jpg)
Ringkasan Berita:
- FBI memperingatkan aparat kepolisian di California tentang kemungkinan rencana Iran melancarkan serangan drone mendadak dari kapal tak dikenal di lepas pantai Amerika Serikat.
- Meski belum ada informasi detail mengenai target maupun waktu serangan, otoritas AS tetap meningkatkan kewaspadaan.
- Pemerintah California menyatakan tidak ada ancaman langsung saat ini, namun aparat keamanan tetap bersiaga di tengah meningkatnya ketegangan global.
TRIBUNGORONTALO.COM - Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) memperingatkan aparat kepolisian di California mengenai kemungkinan rencana Iran melancarkan serangan drone mendadak ke wilayah Pantai Barat Amerika Serikat.
Dalam sebuah buletin intelijen yang ditinjau oleh ABC News, disebutkan bahwa Iran diduga pernah mempertimbangkan serangan menggunakan pesawat tanpa awak atau drone yang diluncurkan dari kapal tak dikenal di lepas pantai AS.
“Baru-baru ini kami memperoleh informasi bahwa pada awal Februari 2026, Iran diduga memiliki aspirasi untuk melakukan serangan mendadak menggunakan kendaraan udara tak berawak dari sebuah kapal tak dikenal di lepas pantai Amerika Serikat, khususnya terhadap target yang tidak ditentukan di California,” demikian isi peringatan tersebut.
Baca juga: Serangan Drone Iran Guncang Dubai hingga Bahrain, PBB Minta Dihentikan
Namun buletin itu juga menegaskan bahwa hingga kini belum ada informasi tambahan mengenai waktu, metode, target, maupun pihak yang akan terlibat dalam serangan tersebut.
Peringatan tersebut diedarkan pada akhir Februari, tidak lama sebelum pemerintahan Presiden AS saat itu melancarkan serangan terhadap Iran.
Setelah serangan tersebut, Teheran dilaporkan melakukan serangan balasan menggunakan drone terhadap berbagai target di Timur Tengah.
Seorang pejabat senior penegak hukum yang dikutip ABC News mengatakan bahwa informasi intelijen mengenai rencana Iran tersebut sebenarnya diperoleh sebelum serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap negara itu terjadi.
Pejabat tersebut juga menyebut bahwa pemboman selama 12 hari terhadap Iran diyakini telah sangat melemahkan kemampuan negara tersebut untuk melaksanakan rencana serangan seperti yang dikhawatirkan.
Pihak FBI di Los Angeles menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut, sementara Gedung Putih juga belum memberikan tanggapan resmi.
Selain ancaman dari Iran, pejabat intelijen Amerika Serikat juga semakin khawatir terhadap penyebaran teknologi drone di kalangan kartel narkoba Meksiko.
Mereka khawatir teknologi tersebut dapat digunakan untuk menyerang personel militer maupun aparat penegak hukum AS di dekat perbatasan selatan.
Sebuah buletin intelijen pada September 2025 bahkan menyebut adanya laporan yang belum terverifikasi bahwa beberapa pemimpin kartel Meksiko sempat mempertimbangkan serangan menggunakan drone pembawa bahan peledak terhadap aparat AS di perbatasan.
Meski skenario tersebut dinilai masih jarang terjadi, pihak berwenang menyebut ancaman itu tetap realistis mengingat perkembangan teknologi drone yang semakin cepat.
Pemerintah California sendiri menyatakan terus memantau situasi dengan serius.
Gubernur California Gavin Newsom mengatakan dirinya terus berkoordinasi dengan pejabat keamanan dan intelijen negara bagian untuk memantau potensi ancaman yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah.
“Untuk saat ini kami tidak mengetahui adanya ancaman langsung, tetapi kami tetap siap menghadapi keadaan darurat apa pun di negara bagian kami,” tulis Newsom melalui media sosial.
Kantor Layanan Darurat California juga disebut sedang bekerja sama dengan aparat keamanan negara bagian, lokal, dan federal untuk melindungi masyarakat.
Sementara itu, Departemen Sheriff Los Angeles menyatakan pihaknya meningkatkan tingkat kesiapsiagaan.
Patroli juga diperbanyak di tempat ibadah, lembaga budaya, serta lokasi-lokasi penting lainnya sebagai langkah antisipasi.
Analis keamanan menilai penyebaran teknologi drone militer menjadi tantangan baru bagi aparat keamanan.
John Cohen, mantan kepala intelijen Departemen Keamanan Dalam Negeri AS, mengatakan Iran memiliki jaringan luas di Amerika Latin serta kemampuan teknologi drone yang signifikan.
“Kita tahu Iran memiliki kehadiran luas di Meksiko dan Amerika Selatan, mereka memiliki hubungan dan teknologi drone, serta kini memiliki motivasi untuk melakukan serangan,” ujarnya.
Menurut Cohen, peringatan yang dikeluarkan FBI penting agar aparat keamanan di tingkat negara bagian dan lokal dapat mempersiapkan diri menghadapi potensi ancaman tersebut. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.