Berita Internasional
Siapa Nouri al-Maliki dan Mengapa AS Menentang Kemungkinannya Kembali Berkuasa
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan menarik dukungan bagi Irak jika negara itu memutuskan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/AS-IRAQ-Amerika-menolak-keras-Nouri-al-Maliki-jadi-PM-Iraq.jpg)
Ringkasan Berita:
- Nouri al-Maliki adalah tokoh yang dikenal sebagai mantan pemimpin kontroversial Irak.
- Bagi Amerika Serikat, Maliki adalah sosok yang kontroversial. Selama masa jabatannya, kebijakan dan ideologinya dianggap melemahkan Irak secara politik
- Meski Maliki memiliki basis politik di dalam negeri, pengaruhnya tetap menjadi perhatian serius bagi komunitas internasional, terutama Amerika Serikat.
TRIBUNGORONTALO.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Washington akan menarik dukungan bagi Irak jika negara itu memutuskan untuk mengembalikan mantan Perdana Menteri Nouri al-Maliki ke jabatan tertinggi pemerintahan.
Trump menyebut keputusan itu sebagai “pilihan yang sangat buruk” yang dapat membawa Irak kembali ke ketidakstabilan.
Pernyataan Trump muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan perdebatan politik dalam negeri Irak mengenai calon pemimpin baru.
Mantan perdana menteri tersebut dikenal karena kebijakan dan masa jabatannya yang kontroversial antara 2006-2014.
Trump menulis dalam akun Truth Social bahwa kepemimpinan Maliki sebelumnya menyebabkan kemiskinan dan kekacauan total di Irak.
Ia menegaskan bahwa pengembalian Maliki ke jabatan perdana menteri akan berdampak buruk bagi hubungan Baghdad dengan Washington, dan berpotensi merusak stabilitas serta kemakmuran negara tersebut.
Baca juga: Anggota DPR RI Rusli Habibie Desak BPH Migas Tambah Kuota BBM untuk Gorontalo
Selain Trump, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga memperingatkan Irak untuk tidak membentuk pemerintahan yang condong ke Iran.
Dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri Irak Mohammed Shia Al-Sudani, Rubio menekankan pentingnya pemerintahan yang memprioritaskan kepentingan nasional Irak, menjauh dari konflik regional, dan menjaga kemitraan strategis dengan AS.
Alasan Kotroversi
Nama Nouri al-Maliki kembali mencuat di panggung politik Irak, memicu perhatian internasional, khususnya dari Amerika Serikat.
Mantan Perdana Menteri Irak ini menjabat selama 2006 hingga 2014, periode yang penuh gejolak politik dan kekerasan sektarian di negara tersebut.
Maliki berasal dari Partai Dawa Islami, kelompok politik mayoritas Syiah di Irak. Namun, kepemimpinannya diwarnai kritik keras karena dinilai memusatkan kekuasaan dan menyingkirkan lawan politik, sehingga menciptakan ketegangan antara komunitas Syiah, Sunni, dan Kurdi.
Masa pemerintahannya juga bersamaan dengan munculnya kelompok militan ISIS, memperburuk kondisi keamanan dan stabilitas negara.
Bagi Amerika Serikat, Maliki adalah sosok yang kontroversial. Selama masa jabatannya, kebijakan dan ideologinya dianggap melemahkan Irak secara politik dan sekuritas, sekaligus membuka peluang pengaruh Iran di negara yang strategis di Timur Tengah itu.
Baca juga: Jenderal Paling Berpengaruh di China Tersandung Kasus Disiplin, Apa Dampaknya?
Presiden AS Donald Trump bahkan memperingatkan bahwa jika Maliki kembali berkuasa, Washington bisa menarik dukungan ekonomi dan militer, yang dapat membuat Irak “tanpa peluang sukses, kemakmuran, atau kebebasan”.