Berita Viral Nasional
Es Gabus Disebut Es Spons yang Ternyata Hoaks, TNI Minta Maaf dan Harap tak Dituntut
Pihak TNI menyampaikan permintaan maaf kepada Suderajat (49), pedagang es gabus asal Depok, setelah isu bahwa dagangannya berbahan spons
Ringkasan Berita:
- Es gabus yang dijual Suderajat (49) sempat dituding berbahan spons, namun laboratorium membuktikan tuduhan itu hoaks.
- TNI menyampaikan permintaan maaf dan berharap kasus ini tidak berlarut-larut, menekankan penyelesaian secara kekeluargaan.
- Insiden tersebut menyebabkan dagangan Suderajat hancur dan menimbulkan kekerasan fisik, namun kini polemik mulai mereda.
TRIBUNGORONTALO.COM — Polemik soal es gabus di Kemayoran akhirnya mendapat titik terang.
Pihak TNI menyampaikan permintaan maaf kepada Suderajat (49), pedagang es gabus asal Depok, setelah isu bahwa dagangannya berbahan spons tersebar luas dan terbukti hoaks.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat, Brigjen Donny Pramono, mengatakan pihaknya berharap kasus ini tidak berlarut-larut.
“Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan dan menghindari tuntutan atau konflik berkepanjangan,” ujarnya, Selasa (27/1/2026).
Baca juga: Anggota DPR RI Rusli Habibie Desak BPH Migas Tambah Kuota BBM untuk Gorontalo
Donny menegaskan bahwa es gabus yang dijual Suderajat aman dan terbuat dari bahan makanan asli, sesuai hasil pemeriksaan laboratorium.
Kronologi Tuduhan dan Kekerasan
Suderajat mengaku mengalami kekerasan fisik pada Sabtu (24/1/2026) setelah dituduh menjual es berbahan spons di kawasan Utan Panjang, Kemayoran.
Pagi itu, ia berangkat sejak pukul 04.00 WIB dari Depok Lama, membawa dagangan dari pabrik rumahan untuk dijual di sekitar sekolah di Kemayoran.
Sekitar pukul 10.00 WIB, empat hingga lima orang menghampirinya dengan alasan membeli es.
Namun, dagangannya dihancurkan dan ia dituduh menjual es racun.
“Es-nya dibejek sampai hancur, bahkan dilempar ke wajah saya. Pipi luka, bahu nyeri,” kata Suderajat.
Ia menegaskan es gabus yang dijualnya murni dari bahan makanan dan aman dikonsumsi, namun penjelasannya tidak digubris.
Akibat peristiwa itu, seluruh dagangannya hancur dan tidak bisa dijual kembali.
Suderajat kembali ke rumah pada Minggu (25/1/2026) sekitar pukul 05.00 WIB menggunakan KRL Commuter Line arah Bogor, membawa kerugian penuh akibat dagangannya yang hancur.
Upaya TNI Redam Polemik dan Permintaan Maaf
Brigjen Donny menegaskan bahwa insiden ini muncul karena kesalahpahaman antara aparat keamanan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, dengan warga.
TNI memilih menempuh jalur dialog dan kekeluargaan untuk meredam polemik.
“Kami juga ingin memberi pelajaran agar masyarakat tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diverifikasi,” ujarnya.
Donny menambahkan, permintaan maaf disampaikan langsung kepada Suderajat sebagai bentuk tanggung jawab institusi dan upaya memulihkan reputasi pedagang.
(*)
| DPR Soroti Dugaan Bullying di Balik Aksi Molotov Siswa SMP di Kalbar |
|
|---|
| Emosi Ditegur, Siswa SMP di Luwu Utara Aniaya Petugas Keamanan Sekolah |
|
|---|
| Kasus Dugaan Rudapaksa di Jambi, Dua Oknum Polisi Disebut Terlibat |
|
|---|
| Permintaan Maaf Kapolres Sleman Sebelum Akhirnya Dinonaktifkan Buntut Kasus Kasus Hogi Minaya |
|
|---|
| Kejar Penjambret Malah Tersangka, DPR Murka ke Polres Sleman hingga Minta Kasus Dihentikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/HOAKS-Kepala-Dinas-Penerangan-Angkatan-Darat-Kadispenad.jpg)