Berita Internasional
Jenderal Paling Berpengaruh di China Tersandung Kasus Disiplin, Apa Dampaknya?
Jenderal Zhang Youxia, sosok paling berpengaruh di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA), resmi diselidiki
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Jenderal-Zhang-Youxia-figur-paling-berpengaruh-di-militer-China.jpg)
Ringkasan Berita:
- Jenderal Zhang Youxia, figur paling berpengaruh di militer China dan sekutu dekat Xi Jinping, diselidiki atas dugaan pelanggaran disiplin
- Kasus ini mencuat di tengah tuduhan serius, termasuk isu kebocoran rahasia nuklir, yang dinilai pengamat membuka sisi rapuh kepemimpinan militer di balik modernisasi besar-besaran China.
- Pembersihan elite militer tersebut dikhawatirkan berdampak pada moral, stabilitas internal, dan kesiapan strategis China, termasuk dalam isu sensitif seperti Taiwan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Beijing kembali diguncang kabar besar dari jantung kekuasaan militernya.
Jenderal Zhang Youxia, sosok paling berpengaruh di tubuh Tentara Pembebasan Rakyat China (People’s Liberation Army/PLA), resmi diselidiki atas dugaan “pelanggaran berat disiplin dan hukum”.
Pengumuman tersebut disampaikan Kementerian Pertahanan China pada akhir pekan lalu dan langsung memicu gelombang spekulasi, baik di dalam negeri maupun di kalangan pengamat internasional.
Pasalnya, Zhang bukan sekadar perwira tinggi biasa. Ia adalah jenderal berseragam tertinggi di China, figur sentral dalam struktur militer, sekaligus dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Xi Jinping.
Baca juga: Amerika Ancam Jalur Non-Damai Kuasai Greenland, Takut Didahului Rusia dan China
Situasi kian sensitif setelah laporan Wall Street Journal menyebut Zhang dituding membocorkan rahasia nuklir China kepada Amerika Serikat, tuduhan yang, jika terbukti, berpotensi menjadi salah satu skandal keamanan terbesar dalam sejarah modern China.
Dari Orang Kepercayaan ke Tersangka Disiplin
Zhang Youxia, 75 tahun, adalah veteran tempur dengan karier militer lebih dari enam dekade. Ia menjabat posisi setara Ketua Kepala Staf Gabungan di Amerika Serikat dan selama bertahun-tahun menjadi figur kunci dalam modernisasi PLA.
Latar belakang Zhang juga tak sembarangan. Ia berasal dari keluarga elite Partai Komunis China.
Ayahnya, Zhang Zongxun, merupakan tokoh revolusioner yang ikut berjuang dalam perang kemerdekaan China.
Lahir dari keluarga jenderal dan menempuh pendidikan elite, Zhang dikenal sebagai princeling—istilah untuk anak elite revolusioner yang mendominasi pucuk kekuasaan politik dan militer China.
Dengan jaringan luas yang dibangunnya selama puluhan tahun, Zhang dipandang memiliki pengaruh besar di internal militer, termasuk dalam pengambilan keputusan strategis.
Modernisasi Militer vs Masalah Kepemimpinan
Peneliti militer China dari lembaga RAND, Shanshan Mei, menilai kasus ini membuka sisi lain dari kemegahan militer China yang selama ini dipamerkan ke dunia.
Menurutnya, dunia terlalu fokus pada parade persenjataan, teknologi canggih, dan modernisasi PLA, sementara persoalan kepemimpinan dan integritas internal kurang mendapat sorotan.
Ia menyebut kasus ini sebagai momen “kaisar tanpa busana”, di mana tuduhan terhadap jenderal-jenderal puncak justru menyingkap rapuhnya fondasi kepemimpinan di balik tampilan militer yang megah.
Tuduhan Spionase Dinilai Janggal
Meski tuduhan kebocoran rahasia nuklir mencuat, Mei mengaku meragukan kebenarannya. Ia menilai politik China sangat tertutup dan sulit diverifikasi.
Selain itu, usia dan riwayat hidup Zhang membuat tuduhan tersebut dipertanyakan.
Zhang disebut telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya untuk PLA. Dengan posisi, pengalaman, dan latar ideologis seperti itu, Mei menilai tuduhan menjual rahasia negara demi keuntungan pribadi tidak mudah diterima secara logika.
Langkah Politik yang Dinilai “Personal”
Meski demikian, penyingkiran Zhang tetap dinilai sebagai langkah politik yang sangat signifikan. Mei menilai tuduhan terhadap Zhang terasa personal dan sarat pesan politik.
Ia mengaitkan hal ini dengan pola lama Partai Komunis China yang kerap menyalahkan pihak luar, khususnya Amerika Serikat—ketika menghadapi persoalan internal.
Dalam konteks ini, tuduhan membocorkan rahasia nuklir dinilai bukan hanya soal hukum, tetapi juga bentuk delegitimasi dan penghancuran reputasi.
Iklim Ketakutan di Internal Partai
Mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd sebelumnya menyebut bahwa jumlah pejabat China yang disingkirkan di era Xi Jinping mencapai ratusan ribu orang, meski angka pastinya sulit diverifikasi.
Kasus Zhang Youxia dinilai akan memperdalam iklim ketakutan di internal Partai Komunis China.
Bukan hanya militer yang terdampak, tetapi juga seluruh birokrasi pemerintahan. Banyak pejabat kini diyakini berada dalam posisi waspada, bertanya-tanya siapa yang akan menjadi target berikutnya.
Di tubuh PLA sendiri, posisi Zhang yang memiliki jaringan luas disebut memicu kepanikan. Moral dan kepercayaan internal dilaporkan ikut tertekan.
Dampak Langsung ke Struktur Militer
Pembersihan ini juga berdampak langsung pada struktur kepemimpinan militer China. Saat ini, Komisi Militer Pusat disebut semakin didominasi pejabat berlatar belakang politik, bukan operasional.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran soal kurangnya keahlian militer murni di pucuk komando, terutama dalam pengambilan keputusan strategis besar.
Pertanyaan pun mengemuka: siapa yang kini memberi nasihat militer kepada Xi Jinping dalam situasi krisis?
Taiwan Tetap Prioritas, Tapi Kesiapan Dipertanyakan
Di tengah gejolak ini, isu Taiwan kembali menjadi sorotan. Para pengamat menilai bahwa misi penyatuan Taiwan tetap menjadi fondasi utama PLA dan tidak berubah.
Namun, dalam jangka pendek, guncangan di pucuk komando dinilai berpotensi melemahkan kesiapan operasional militer, terutama dari sisi moral dan perencanaan strategis.
Nasib Zhang Masih Tertutup
Hingga kini, nasib Zhang Youxia serta dampaknya terhadap keluarga dan jaringan terdekatnya masih belum jelas. Seperti banyak kasus politik di China, prosesnya berlangsung tertutup dan minim informasi resmi.
Yang pasti, kasus ini bukan sekadar soal satu jenderal. Ia mencerminkan dinamika kekuasaan di balik tembok tebal Beijing, di mana loyalitas, disiplin, dan politik berkelindan, dan dampaknya bisa menjalar hingga stabilitas militer serta kawasan regional. (*)
Berita Internasional
Berita Internasional Terkini
Jenderal Zhang Youxia
Xi Jinping
Presiden Xi Jinping
China
| Mojtaba Khamenei jadi Pemimpin Baru Iran, Amerika Emosi Sebut tak Bakal "Hidup" Lama |
|
|---|
| Perang Iran Meluas ke Banyak Negara, Lebih dari 1.300 Orang Tewas dalam Enam Hari |
|
|---|
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.