Berita Internasional

Harga Emas Tembus Rekor 5.100 Dolar per Ons, Apa Penyebabnya dan Apa Dampaknya?

Harga emas dunia mencetak rekor baru di atas US$5.100 per ons seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan krisis kepercayaan terhadap

Editor: Wawan Akuba
Tribunnews
HARGA EMAS NAIK - Ilustrasi Emas Antam 

Ringkasan Berita:
  • Harga emas dunia mencetak rekor baru di atas US$5.100 per ons seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan krisis kepercayaan terhadap kebijakan Amerika Serikat. 
  • Lonjakan ini dipicu permintaan aset aman, pelemahan dolar AS, serta pembelian agresif bank sentral dunia. 
  • Analis memproyeksikan harga emas masih berpotensi naik hingga US$6.000 per ons meski diwarnai koreksi jangka pendek.

 

TRIBUNGORONTALO.COM — Harga emas dunia mencetak sejarah baru setelah menembus level psikologis US$5.100 per ons pada perdagangan hari ini.

Lonjakan ini memperpanjang reli panjang emas yang kini menjadi aset paling diburu investor global di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan keguncangan kepercayaan terhadap aset Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot naik 2,2 persen ke level US$5.089,78 per ons, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.110,50 per ons.

Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Februari ikut menguat ke US$5.086,30 per ons.

Ketidakpastian Global dan Krisis Kepercayaan AS

Kenaikan harga emas ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sepanjang tahun 2025, emas telah melonjak hingga 64 persen, menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak 1979.

Lonjakan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor: meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven), pelonggaran kebijakan moneter AS, pembelian agresif bank sentral, serta arus dana besar ke produk ETF berbasis emas.

Analis menilai pemicu terbaru datang dari krisis kepercayaan terhadap pemerintahan Amerika Serikat. Keputusan Presiden AS Donald Trump yang dinilai inkonsisten, mulai dari ancaman tarif tinggi terhadap Eropa, Kanada, hingga Prancis, membuat investor global khawatir terhadap stabilitas kebijakan ekonomi dan perdagangan dunia.

Senior market analyst Capital.com, Kyle Rodda, menyebut kebijakan Trump telah menciptakan “ruptur permanen” dalam tata kelola global.

Kondisi ini mendorong investor mencari satu-satunya aset yang dianggap benar-benar aman, yakni emas.

Dolar Melemah, Emas Makin Bersinar

Dari sisi teknikal, reli emas juga diperkuat oleh melemahnya dolar AS. Penguatan yen Jepang memicu tekanan terhadap dolar, sementara pasar bersikap hati-hati menjelang rapat Federal Reserve.

Melemahnya dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih murah bagi investor global, sehingga permintaannya semakin meningkat.

Di sisi lain, bank sentral dunia, termasuk China yang telah membeli emas selama 14 bulan berturut-turut, terus memperkuat cadangan emas mereka sebagai upaya diversifikasi dari aset berbasis dolar.

Dampak: Logam Mulia Lain Ikut Meroket

Lonjakan emas turut menyeret naik harga logam mulia lainnya. Harga perak melonjak 4,8 persen ke US$107,903 per ons, sempat mencetak rekor di US$109,44.

Platinum dan palladium juga menyentuh level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh ketatnya pasokan fisik dan spekulasi investor ritel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved