Berita Internasional
China Sinyalkan Akan Selidiki Akuisisi Platform AI Manus oleh Meta, Soroti Upaya ‘Lepas Identitas’
Otoritas China memberi sinyal kuat akan menyelidiki rencana akuisisi Meta terhadap Manus, sebuah platform kecerdasan buatan (AI) yang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/AKUISISI-Meta-resmi-mengakuisisi-Manus-AI-startup-asal-Singapura.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Otoritas China memberi sinyal kuat akan menyelidiki rencana akuisisi Meta terhadap Manus, sebuah platform kecerdasan buatan (AI) yang diketahui dikembangkan di China.
Langkah ini menandai meningkatnya kewaspadaan Beijing terhadap ekspansi perusahaan teknologi global yang melibatkan inovasi berbasis China.
Meta secara resmi mengumumkan akuisisi Manus pada 29 Desember 2025.
Dalam pengumumannya, raksasa teknologi asal Amerika Serikat itu menyebutkan bahwa Manus akan diintegrasikan ke dalam berbagai produk Meta, baik untuk konsumen maupun segmen bisnis.
Namun, pada Kamis (waktu setempat), juru bicara Kementerian Perdagangan China menyatakan bahwa pemerintah Beijing berniat menyelidiki akuisisi tersebut.
Penyelidikan dilakukan untuk memastikan transaksi itu tidak melanggar aturan pengendalian ekspor China maupun hukum investasi asing yang berlaku.
Langkah China ini dinilai cukup menarik, bahkan janggal, karena Manus dalam beberapa waktu terakhir justru tampak berupaya menjauhkan diri dari identitasnya sebagai perusahaan China.
Hal itu diungkapkan oleh Letian Cheng, mahasiswa doktoral di School of Public Policy, Georgia Institute of Technology. Menurut Cheng, setelah mengalami kesuksesan awal, Manus melakukan serangkaian langkah drastis.
“Manus menutup kantor mereka di Wuhan dan Beijing, menghapus akun media sosial berbahasa China, memberhentikan karyawan berkewarganegaraan China kecuali tim inti, dan memindahkan basis operasionalnya ke Singapura,” ujar Cheng.
Cheng menyebut langkah tersebut sebagai bentuk “Identity Engineering”, yakni rekayasa identitas korporasi.
Ia menilai Manus secara sengaja berupaya melepaskan keterkaitan dengan China setelah menerima investasi dari perusahaan modal ventura asal Amerika Serikat, Benchmark.
Tujuan langkah tersebut, menurut Cheng, adalah untuk menghindari potensi hambatan geopolitik serta memungkinkan Manus menggunakan API Large Language Model (LLM) milik Amerika, seperti Claude, tanpa kendala regulasi lintas negara.
Dari sudut pandang pemerintah China, akuisisi ini dipandang sangat mengkhawatirkan. Cheng menulis bahwa kasus Manus dapat menjadi preseden berbahaya, di mana inovator domestik yang telah menikmati dukungan ekosistem China, mulai dari talenta lokal, kebijakan pemerintah, hingga keunggulan industri—dapat dengan mudah “kabur” ke Amerika Serikat.
“Ini menimbulkan kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan inovatif China bisa meninggalkan negara asalnya begitu mereka mendapat akses ke modal dan teknologi Barat,” tulis Cheng.
Di sisi lain, dinamika ini juga terjadi di tengah ketegangan geopolitik teknologi antara China dan Amerika Serikat, khususnya terkait industri AI dan semikonduktor.
| Serangan Udara Hantam Ibu Kota Iran, Amerika Serikat Disebut Turut Terlibat |
|
|---|
| Presiden Amerika Donald Trump Heran Iran tak Juga Menyerah Padahal Diancam |
|
|---|
| Presiden Meksiko Tetap Percaya Diri Sambut Piala Dunia Meski Kartel Narkoba Mengamuk |
|
|---|
| Putusan Mahkamah Agung Gagalkan Tarif Darurat, Trump Balas dengan Skema 10 Persen |
|
|---|
| Mantan Presiden Korea Selatan Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup atas Upaya Kudeta |
|
|---|