Berita Internasional
Kim Jong Un Perintahkan Produksi Rudal Digenjot, Korea Utara Bangun Pabrik Senjata Baru
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan para pejabatnya untuk meningkatkan produksi rudal dan amunisi artileri serta membangun
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRESIDEN-KOREA-Kim-Jong-Un-melambaikan-tangan-sementara-senjata-nuklir-diluncurkan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Kim Jong Un memerintahkan peningkatan produksi rudal dan amunisi serta pembangunan pabrik senjata baru untuk memperkuat militer Korea Utara.
- Instruksi ini disampaikan bersamaan dengan peninjauan kapal selam bertenaga nuklir dan uji coba rudal terbaru.
- Analis menilai langkah tersebut juga terkait dengan kerja sama militer Pyongyang–Moskow dan peningkatan tekanan terhadap AS serta Korea Selatan.
TRIBUNGORONTALO -- Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un memerintahkan para pejabatnya untuk meningkatkan produksi rudal dan amunisi artileri serta membangun lebih banyak pabrik senjata guna memenuhi kebutuhan militer yang terus meningkat.
Perintah tersebut disampaikan Kim saat mengunjungi sejumlah pabrik persenjataan, seperti dilaporkan kantor berita pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), Jumat.
Dalam kunjungan yang didampingi para pejabat tinggi negara, Kim meminta seluruh fasilitas produksi bersiap menghadapi tahun yang sibuk.
Ia menegaskan sektor produksi rudal dan peluru artileri memiliki peran krusial dalam memperkuat daya tangkal perang Korea Utara.
Baca juga: Bansos Maret 2026: PKH, BPNT, PIP dan Lainnya, Begini Cara Mengeceknya
“Produksi rudal dan amunisi adalah sektor dengan kepentingan tertinggi dalam memperkokoh kekuatan penangkal perang negara,” ujar Kim seperti dikutip KCNA.
Untuk memperluas kapasitas produksi dan menyesuaikan dengan kebutuhan angkatan bersenjata, Kim juga memerintahkan pembangunan pabrik-pabrik amunisi baru.
Seruan peningkatan produksi senjata ini muncul tak lama setelah Kim terlihat mengunjungi sebuah galangan kapal untuk meninjau pembangunan kapal selam bertenaga nuklir berbobot sekitar 8.700 ton.
Kapal selam tersebut diklaim mampu meluncurkan rudal dan akan menjadi salah satu aset strategis militer Korea Utara.
Foto-foto yang dirilis media pemerintah memperlihatkan Kim tengah memeriksa kapal selam berwarna merah marun, dilapisi cat antikarat, di dalam sebuah aula perakitan.
Dalam kunjungan itu, Kim didampingi pejabat senior serta putrinya. Ini menjadi pertama kalinya Korea Utara merilis gambar kapal selam tersebut secara lebih utuh sejak Maret lalu.
Peneliti senior Korea Institute for National Unification di Seoul, Hong Min, menyebut desain lambung kapal selam tersebut mengindikasikan penggunaan reaktor nuklir dan kondisinya hampir siap berlayar.
Saat inspeksi, Kim juga memperingatkan rencana Korea Selatan membangun kapal selam bertenaga nuklir akan memperburuk ketidakstabilan kawasan dan dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional Korea Utara.
Baca juga: 7 Berita Populer Gorontalo 26 Desember 2025: 11 Kasus Narkoba, Tarif Wisata Hiu Paus Botubarani
Sebelumnya, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada November lalu meminta dukungan Washington untuk pengembangan kapal selam nuklir.
Trump kemudian menyatakan AS terbuka untuk berbagi teknologi sensitif guna mendukung proyek tersebut.
Selain itu, Kim juga dilaporkan mengawasi langsung uji coba peluncuran rudal anti-pesawat jarak jauh berketinggian tinggi di atas Laut Jepang.
Ia menyebut rencana modernisasi dan produksi senjata terbaru akan diumumkan dalam kongres Partai Pekerja Korea yang dijadwalkan berlangsung awal tahun depan.
Para analis menilai peningkatan uji coba rudal ini bertujuan menyempurnakan kemampuan serangan presisi, sekaligus memberi tekanan kepada Amerika Serikat dan Korea Selatan.
Uji coba tersebut juga diduga berkaitan dengan pengujian sistem senjata sebelum diekspor ke Rusia.
Hubungan Pyongyang dan Moskow kian menguat sejak Rusia menginvasi Ukraina hampir empat tahun lalu.
Korea Utara disebut telah mengirim pasukan, peluru artileri, rudal, dan sistem roket jarak jauh untuk mendukung Rusia berdasarkan pakta pertahanan bersama antara Kim Jong Un dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Sebagai imbalan, Rusia dilaporkan memberikan bantuan finansial, teknologi militer, serta pasokan pangan dan energi kepada Korea Utara.
Washington juga menyebut ada bukti bahwa dukungan Rusia mencakup teknologi luar angkasa dan satelit canggih.
Peneliti asal Korea Utara, Ahn Chan-il, memperkirakan Pyongyang akan terus mencari teknologi militer tingkat lanjut dari Rusia, termasuk kemampuan kapal selam bertenaga nuklir dan jet tempur modern.
(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.