Berita Internasional
Maduro Klaim Gagalkan Rencana Serangan ke Kedutaan AS di Caracas
Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengklaim pasukan keamanannya berhasil menggagalkan upaya operasi “bendera palsu”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/2025-10-07_PRESIDEN-Presiden-Venezuela-Nicolas-Maduro.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, mengklaim pasukan keamanannya berhasil menggagalkan upaya operasi “bendera palsu” yang bertujuan menanam bahan peledak di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Caracas.
Menurutnya, rencana tersebut dimaksudkan untuk memicu ketegangan antara Venezuela dan Washington di tengah meningkatnya aktivitas militer AS di lepas pantai negara Amerika Latin itu.
Dalam wawancara televisi pada Senin malam, Maduro menyebut bahwa dua sumber tepercaya, satu dari dalam negeri dan satu dari luar negeri, telah memberikan informasi tentang kemungkinan serangan yang direncanakan oleh “kelompok ekstremis kanan Venezuela”.
Setelah mendapat laporan itu, pemerintah langsung mengirim pasukan tambahan untuk memperkuat keamanan di sekitar kedutaan.
“Sumber-sumber tersebut sepakat bahwa ada kemungkinan kelompok teroris lokal berusaha menempatkan bahan peledak di Kedutaan AS di Caracas,” ujar Maduro.
“Operasi ini didukung oleh seseorang yang akan segera diketahui identitasnya, dan diperintahkan oleh orang lain yang juga akan segera kami ungkap. Semua masih dalam proses penyelidikan,” tambahnya.
Maduro mengatakan tujuan utama dari rencana serangan tersebut adalah untuk menyalahkan pemerintah Venezuela, yang kemudian akan digunakan sebagai alasan untuk “memulai eskalasi konflik” dengan Amerika Serikat.
Sejak hubungan diplomatik antara Caracas dan Washington putus pada tahun 2019, Kedutaan Besar AS di Venezuela memang sudah tidak beroperasi penuh.
Namun, masih ada sejumlah staf yang bertugas menjaga keamanan dan perawatan gedung kedutaan.
Kabar tentang dugaan rencana penyerangan ini muncul di tengah laporan bahwa Presiden AS saat itu, Donald Trump, telah membatalkan upaya diplomasi dengan Venezuela.
Ia dilaporkan memerintahkan utusannya, Richard Grenell, yang sebelumnya memimpin negosiasi dengan pemerintahan Maduro, untuk menghentikan seluruh kontak dengan Caracas.
Menurut seorang pejabat senior AS yang tidak disebutkan namanya, Trump menyampaikan perintah tersebut langsung kepada Grenell dalam pertemuan di Oval Office bersama para pejabat militer tinggi pada Kamis lalu.
Pejabat yang sama juga mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Trump belum memutuskan apakah akan melanjutkan kampanye militernya ke tahap kedua.
Saat ini, operasi militer AS disebut masih berfokus pada penyerangan kapal-kapal Venezuela yang dituduh membawa narkoba di Laut Karibia.
Tahap berikutnya, menurut laporan, akan melibatkan serangan ke sejumlah lokasi di wilayah Venezuela sendiri.
Situasi ini menambah ketegangan hubungan antara kedua negara, yang selama beberapa tahun terakhir memang dibayangi sanksi ekonomi, tuduhan konspirasi, dan saling tuding terkait campur tangan politik.(*)