Warga Gorontalo Disekap
Sosiolog Ungkap Akar Masalah Fenomena Warga Gorontalo Nekat Bekerja di Kamboja
Menurut Halid Lemba, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo, gejala ini merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh banyak faktor
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dosen-Sosiologi-Universitas-Negeri-Gorontalo-Halid-Lemba.jpg)
Imbauan Bupati Gorontalo
Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, mengingatkan warganya untuk berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan di luar negeri.
Beberapa waktu lalu, pemuda asal Desa Tolotio, Kabupaten Gorontalo, Agus Hilimi (28), diduga menjadi korban sindikat penipuan daring (scammer) di Kamboja.
Menurut Bupati Gorontalo, kasus yang menimpa Agus Hilimi ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh masyarakat Gorontalo.
Ia menjelaskan bahwa korban berangkat ke Kamboja tanpa melalui prosedur yang benar.
"Kalau lewat dinas, kita arahkan" ujar Sofyan Puhi kepada wartawan setelah meninjau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bongohulawa, pada Kamis (28/8/2025).
Ia menambahkan, visa yang digunakan Agus ternyata adalah visa wisata, bukan visa kerja.
"Ternyata berhasil juga, tapi awalnya tidak seperti janji. Itu kendalanya," imbuhnya.
Sofyan Puhi mengungkapkan, Agus Hilimi tidak sendirian.
Ada satu orang yang berangkat bersamanya, namun berhasil melarikan diri di Jakarta.
Teman Agus merasa curiga karena mereka diharuskan mengganti identitas.
"Dia (teman Agus Hilimi) curiga, disuruh mengganti identitasnya. Dia curiga dan dia melarikan diri," jelas Bupati.
Saat ini, pihak pemerintah daerah Gorontalo terus berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk kantor perwakilan di Manado, untuk mengupayakan pemulangan Agus Hilimi.
"Yang satu ini (Agus) sudah dijebak. Tapi kami terus berusaha bagaimana kami bisa pulangkan," terang Bupati.
Untuk mencegah kejadian serupa, Bupati Sofyan Puhi mengimbau masyarakat Gorontalo, khususnya yang mendapat tawaran kerja di luar negeri, agar berkonsultasi terlebih dahulu dengan dinas terkait.
"Pokoknya kalau ada undangan ke luar negeri, tanya di dinas. Betul enggak ini?" pungkasnya.
(TribunGorontalo.com/HT/FAK)