Warga Gorontalo Disekap
Sosiolog Ungkap Akar Masalah Fenomena Warga Gorontalo Nekat Bekerja di Kamboja
Menurut Halid Lemba, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo, gejala ini merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh banyak faktor
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dosen-Sosiologi-Universitas-Negeri-Gorontalo-Halid-Lemba.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Fenomena warga Gorontalo yang nekat berangkat ke Kamboja untuk mencari pekerjaan dinilai bukan sekadar masalah individual.
Menurut Halid Lemba, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo, gejala ini merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari kondisi ekonomi, budaya merantau, hingga sempitnya lapangan kerja di daerah.
“Ketika seseorang terhalang akses pekerjaan, kemungkinan-kemungkinan lain (termasuk yang berisiko) akan terbuka,” ungkap Halid kepada TribunGorontalo.com, Kamis (28/8/2025).
Ia menjelaskan, masalah ekonomi dapat mendorong seseorang mengambil jalan pintas, meskipun berisiko tinggi.
Halid menekankan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan akar persoalan kemiskinan.
Menurutnya, perlindungan dari pemerintah dan aparat hukum memang penting, tetapi tidak akan cukup jika akar masalahnya tidak disentuh.
“Ini masalah kemiskinan, itu harus disentuh. Kalau dalam analisis konflik, ini hanyalah rantingnya saja,” tegasnya.
Baca juga: Korban Scammer Kamboja Viral, Bupati Gorontalo Ingatkan Warga Waspada Tawaran Kerja Luar Negeri
Pendidikan dan Lapangan Kerja
Menurut catatan Halid, setiap tahun Universitas Negeri Gorontalo meluluskan ribuan mahasiswa.
“Setahun bisa tiga kali wisuda, tiap wisuda 700-an lebih mahasiswa. Kalau dikali tiga, sudah 2.100 mahasiswa setiap tahun,” jelasnya.
Menurutnya, jumlah lulusan yang terus bertambah tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan pekerjaan di Gorontalo.
Kondisi ini menjadi 'beban sosial' tersendiri yang pada akhirnya mendorong sebagian orang memilih jalan ke luar negeri, bahkan melalui jalur ilegal.
Halid selalu mengingatkan mahasiswanya untuk mempersiapkan diri menghadapi realitas tersebut.
"Setiap kali kuliah saya selalu mengingatkan dua hal. Yang pertama harus punya jaringan pertemanan dan kedua harus punya keahlian (skill). Dua hal ini wajib dimiliki dan saling menopang satu sama lain,” tuturnya.
Ia menilai, perlindungan paling efektif bukan sekadar menutup pintu keberangkatan, melainkan menyediakan pekerjaan yang layak di dalam negeri.