Warga Gorontalo Disekap
Sosiolog Ungkap Akar Masalah Fenomena Warga Gorontalo Nekat Bekerja di Kamboja
Menurut Halid Lemba, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Gorontalo, gejala ini merupakan fenomena sosial yang dipengaruhi oleh banyak faktor
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Dosen-Sosiologi-Universitas-Negeri-Gorontalo-Halid-Lemba.jpg)
"Saya tidak bisa komputer, jadi tidak tahu harus bagaimana. Saya tidak mau kerja menipu orang," ujar Agus lirih.
Karena menolak bekerja, Agus justru dimintai uang tebusan puluhan juta rupiah agar bisa pulang.
Gaji yang dijanjikan tidak pernah ia terima.
Ibu Agus, Hadija B Tuli, bersama keluarganya telah melaporkan kejadian ini ke Polda Gorontalo, meski pihak kepolisian menyatakan belum menerima laporan resmi.
Pihak Polda Gorontalo menegaskan bahwa mereka sangat terbuka untuk menerima laporan terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Agus Dikabarkan Melarikan Diri
Agus Hilimi dikabarkan telah berhasil melarikan diri.
Ia kini berada dalam perlindungan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kamboja dan akan segera kembali ke Tanah Air.
Agus berhasil kabur dari markas sindikat dan tiba di KBRI sekitar pukul 10.00 Wita pada Rabu (27/8/2025). Ia dibantu oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang berada di Kamboja.
Kabar ini dikonfirmasi langsung oleh Kepala Desa Tolotio, Sandra Djafar Biu.
"Dia (Agus) telah berhasil melarikan diri ke KBRI," ungkap Sandra kepada TribunGorontalo.com, pada Rabu (27/8/2025) malam.
Kepulangan Agus tidak terlepas dari bantuan banyak pihak.
Pemerintah Kabupaten Gorontalo, sejumlah legislator, serta organisasi Apdesi Merah Putih Gorontalo bergotong royong menggalang dana untuk membiayai tiket pesawatnya.
Rencananya, Agus akan terbang dari Phnom Penh, Kamboja, menuju Jakarta pada Jumat (29/8/2025) sore.
Setibanya di Jakarta, ia akan disambut oleh legislator Algazali Katili sebelum melanjutkan perjalanan ke Gorontalo untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.