Pemkab Gorontalo Utara

Cerita Lengkap Perjalanan Thariq Modanggu hingga jadi Bupati Gorontalo Utara

Dari mimpi masa kecil yang sempat diremehkan, hingga empat kali bertarung di Pilkada, Thariq membuktikan bahwa tekad dan keterikatan emosional

|
Penulis: Efriet Mukmin | Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com
CERITA BUPATI -- Thariq Modanggu, Bupati Gorontalo Utara cerita kehidupannya di TribunPodcast yang dipandu oleh Aldi Ponge, Manager Content Tribun Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Perjalanan Thariq Modanggu menuju kursi Bupati Gorontalo Utara bukanlah kisah instan.

Dalam TribunPodcast di Kantor Bupati Gorontalo Utara dipandu oleh Aldi Ponge, Manager Content TribunGorontalo.com, Thariq menyebut perjalanan politiknya, “siksa, tidak beraturan.” 

Dari mimpi masa kecil yang sempat diremehkan, hingga empat kali bertarung di Pilkada, Thariq membuktikan bahwa tekad dan keterikatan emosional pada daerah bisa menjadi bahan bakar utama dalam politik.

Politikus Partai Golkar ini kini menjabat sebagai Bupati Gorontalo Utara periode 2025–2030, setelah sebelumnya memimpin pada masa transisi 2022–2023.

Namun di balik jabatan itu, tersimpan kisah panjang yang dimulai dari ruang kelas, koran bekas, dan rumah papan.

Thariq lahir pada 17 Desember 1970 dari keluarga sederhana.

Ayahnya seorang guru SD dan seniman, sementara ibunya dikenal sebagai pejuang hidup.

Ia tumbuh dalam suasana demokratis, penuh diskusi dan refleksi.

“Setiap pulang sekolah saya berdiskusi dengan ayah seperti sahabat. Sikap demokratis itu terbentuk sejak kecil,” tuturnya.

Namun sisi emosional dan perkasa yang kuat ia akui berasal dari ibunya.

Kombinasi itu membentuk karakter Thariq: rasional, tapi juga sangat peka terhadap lingkungan sosial.

Saat masih SD, Thariq ingin masuk pesantren. Namun komentar dari saudara-saudaranya membuatnya ragu.

“Saya ingin sekolah di pesantren, tapi ada yang bilang, buat apa masuk pesantren kalau ujung-ujungnya cuma baca doa di kubur,” kenangnya.

Ia pun melanjutkan pendidikan formal: SDN 1 Tolinggula Tengah (1984), SMPN 5 Gorontalo (1987), dan STM Negeri Gorontalo jurusan elektronika dan komunikasi (1990).

Meski sempat ingin melanjutkan kuliah di bidang teknik, keterbatasan biaya membuatnya memilih IAIN Sultan Amai Gorontalo.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved