Berita Kota Gorontalo
Arkeolog Gorontalo Soroti Nasib Kota Tua di Tengah Modernisasi, Terancam Kehilangan Identitas
Wajah Kota Tua Gorontalo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, geliat modernisasi terus melaju, ditandai pembangunan gedung baru.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-pembangunan-di-Kota-Tua-Kota-Gorontalo.jpg)
Sementara itu, Intramuros di Manila, Filipina, hampir kehilangan legitimasinya. Sebaliknya, Kota Lama Hanoi dan Kayutangan Malang justru sukses menjaga dan menghidupkan kawasan tuanya.
Pelestarian sebagai Strategi Ekonomi
Menurut Faiz, kunci pelestarian terletak pada perubahan paradigma.
Selama ini, pelestarian dianggap sebagai beban biaya, padahal jika dikelola dengan strategi adaptif, bangunan tua bisa menjadi sumber ekonomi baru.
"Caranya adalah mengubah pelestarian dari beban biaya menjadi sumber ekonomi. Heritage walk, kafe, galeri, hingga homestay bisa menghidupkan bangunan tua dan memberi nilai tambah," katanya.
Selain itu, ia menekankan perlunya kebijakan tegas. Pemerintah daerah dapat memberikan insentif berupa potongan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), subsidi renovasi, dan izin adaptif reuse.
Kolaborasi lintas profesi juga mutlak diperlukan, melibatkan arkeolog, arsitek konservasi, sejarawan, planolog, hingga pelaku pariwisata.
Peran Penting Edukasi dan Generasi Muda
Pelestarian tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat, terutama generasi muda.
Menurut Faiz, edukasi harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan.
"Kesadaran masyarakat akan lahir dari rasa bangga, bukan sekadar larangan. Heritage walk, festival, dan media digital interaktif bisa membuat generasi muda merasa memiliki warisan itu," tuturnya.
Ia meyakini Kota Tua Gorontalo sangat berpotensi menjadi living heritage city, bukan sekadar museum mati, melainkan ruang kota yang tetap dihuni, digunakan, dan dihidupkan oleh masyarakat, sambil menyimpan jejak sejarahnya.
Kota Tua Gorontalo kini menghadapi pilihan penting: apakah akan kehilangan identitasnya dan tumbuh menjadi kota tanpa wajah, atau bangkit menjadi living heritage city yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus kebanggaan budaya.
"Wajah kota tua Gorontalo sedang berada di persimpangan: hilang atau hidup kembali. Dengan regulasi ditegakkan, insentif nyata, dan kolaborasi lintas sektor, kota ini bisa bangkit sebagai living heritage city," tutup Faiz.
Fenomena pembongkaran bangunan tua di Gorontalo bukan sekadar soal arsitektur, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan arah pembangunan.
Jika pelestarian dikelola dengan benar, kota tua tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan ruang belajar sejarah bagi generasi mendatang.
(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)