Berita Kota Gorontalo
Arkeolog Gorontalo Soroti Nasib Kota Tua di Tengah Modernisasi, Terancam Kehilangan Identitas
Wajah Kota Tua Gorontalo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, geliat modernisasi terus melaju, ditandai pembangunan gedung baru.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-pembangunan-di-Kota-Tua-Kota-Gorontalo.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Wajah Kota Tua Gorontalo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, geliat modernisasi terus melaju, ditandai pembangunan gedung baru.
Namun, di sisi lain, jejak bangunan bersejarah terancam musnah satu per satu.
Fenomena pembongkaran bangunan tua yang kian marak menimbulkan pertanyaan. Apakah ini bentuk ketidakpedulian terhadap warisan budaya, atau sekadar konsekuensi dari faktor ekonomi dan lemahnya regulasi?
Menurut Faiz Muhammad Anis Kaba, arkeolog dan ahli pemugaran cagar budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII, ada dua sudut pandang yang saling bertabrakan dalam fenomena ini.
Pertama, kurangnya kepedulian dari pemilik bangunan dan pemerintah daerah. Kedua, adanya persepsi keliru bahwa pelestarian dianggap menghambat pembangunan.
"Pelestarian itu bukan menolak pembangunan, tapi mengelola perubahan agar identitas kota tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi," tegas Faiz.
Faiz menjelaskan bahwa bangunan tua sejatinya bukan hanya dinding, atap, dan tiang. Ia adalah lapisan memori kota yang merekam perjalanan Gorontalo sejak era kesultanan, kolonial Belanda, hingga republik.
Namun, ia menyayangkan banyak masjid tua dan bangunan kolonial di Gorontalo yang telah hilang atau diubah bentuknya tanpa memperhatikan kaidah konservasi.
"Generasi muda Gorontalo berisiko tumbuh di ruang kota modern yang kosong identitas, tanpa bisa membaca jejak leluhurnya," ujarnya.
Jika tren ini terus berlanjut, yang hilang bukan hanya bangunannya, melainkan juga narasi sejarah, memori kolektif, dan jati diri masyarakat.
Dampak Hilangnya Identitas Kota Tua
Dampak jangka panjang dari hilangnya bangunan bersejarah sangat besar. Citra Gorontalo sebagai destinasi wisata budaya disebut terancam merosot.
Wisatawan datang ke kota tua bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi untuk merasakan atmosfer sejarah.
"Jika wajah kota tua sudah modern semua, daya tarik itu hilang. Kota yang kehilangan warisan arsitektur akan tumbuh menjadi kota anonim, modern tapi tanpa identitas," jelas Faiz.
Ia membandingkan dengan kota-kota lain di Asia. Chinatown di Singapura berhasil diselamatkan karena pemerintah menghentikan pembongkaran.