Sabtu, 21 Maret 2026

Berita Kota Gorontalo

Arkeolog Gorontalo Soroti Nasib Kota Tua di Tengah Modernisasi, Terancam Kehilangan Identitas

Wajah Kota Tua Gorontalo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, geliat modernisasi terus melaju, ditandai pembangunan gedung baru.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Arkeolog Gorontalo Soroti Nasib Kota Tua di Tengah Modernisasi, Terancam Kehilangan Identitas
TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu
KOTA TUA -- Potret pembangunan di Kota Tua, Kota Gorontalo, Selasa (19/8/2025). Arkeolog khawatir pembangunan gedung baru bisa menghilangkan identitas Kota Tua. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Wajah Kota Tua Gorontalo kini berada di persimpangan. Di satu sisi, geliat modernisasi terus melaju, ditandai pembangunan gedung baru.

Namun, di sisi lain, jejak bangunan bersejarah terancam musnah satu per satu. 

Fenomena pembongkaran bangunan tua yang kian marak menimbulkan pertanyaan. Apakah ini bentuk ketidakpedulian terhadap warisan budaya, atau sekadar konsekuensi dari faktor ekonomi dan lemahnya regulasi?

Menurut Faiz Muhammad Anis Kaba, arkeolog dan ahli pemugaran cagar budaya dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVII, ada dua sudut pandang yang saling bertabrakan dalam fenomena ini. 

Pertama, kurangnya kepedulian dari pemilik bangunan dan pemerintah daerah. Kedua, adanya persepsi keliru bahwa pelestarian dianggap menghambat pembangunan.

"Pelestarian itu bukan menolak pembangunan, tapi mengelola perubahan agar identitas kota tetap hidup dan memberi manfaat ekonomi," tegas Faiz.

Faiz menjelaskan bahwa bangunan tua sejatinya bukan hanya dinding, atap, dan tiang. Ia adalah lapisan memori kota yang merekam perjalanan Gorontalo sejak era kesultanan, kolonial Belanda, hingga republik. 

Namun, ia menyayangkan banyak masjid tua dan bangunan kolonial di Gorontalo yang telah hilang atau diubah bentuknya tanpa memperhatikan kaidah konservasi.

"Generasi muda Gorontalo berisiko tumbuh di ruang kota modern yang kosong identitas, tanpa bisa membaca jejak leluhurnya," ujarnya.

Jika tren ini terus berlanjut, yang hilang bukan hanya bangunannya, melainkan juga narasi sejarah, memori kolektif, dan jati diri masyarakat.

Dampak Hilangnya Identitas Kota Tua

Dampak jangka panjang dari hilangnya bangunan bersejarah sangat besar. Citra Gorontalo sebagai destinasi wisata budaya disebut terancam merosot.

Wisatawan datang ke kota tua bukan hanya untuk melihat bangunan, tetapi untuk merasakan atmosfer sejarah.

"Jika wajah kota tua sudah modern semua, daya tarik itu hilang. Kota yang kehilangan warisan arsitektur akan tumbuh menjadi kota anonim, modern tapi tanpa identitas," jelas Faiz.

Ia membandingkan dengan kota-kota lain di Asia. Chinatown di Singapura berhasil diselamatkan karena pemerintah menghentikan pembongkaran. 

Sementara itu, Intramuros di Manila, Filipina, hampir kehilangan legitimasinya. Sebaliknya, Kota Lama Hanoi dan Kayutangan Malang justru sukses menjaga dan menghidupkan kawasan tuanya.

Pelestarian sebagai Strategi Ekonomi
Menurut Faiz, kunci pelestarian terletak pada perubahan paradigma. 

Selama ini, pelestarian dianggap sebagai beban biaya, padahal jika dikelola dengan strategi adaptif, bangunan tua bisa menjadi sumber ekonomi baru.

"Caranya adalah mengubah pelestarian dari beban biaya menjadi sumber ekonomi. Heritage walk, kafe, galeri, hingga homestay bisa menghidupkan bangunan tua dan memberi nilai tambah," katanya.

Selain itu, ia menekankan perlunya kebijakan tegas. Pemerintah daerah dapat memberikan insentif berupa potongan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), subsidi renovasi, dan izin adaptif reuse. 

Kolaborasi lintas profesi juga mutlak diperlukan, melibatkan arkeolog, arsitek konservasi, sejarawan, planolog, hingga pelaku pariwisata.

Peran Penting Edukasi dan Generasi Muda

Pelestarian tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat, terutama generasi muda. 

Menurut Faiz, edukasi harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih dekat dan relevan.

"Kesadaran masyarakat akan lahir dari rasa bangga, bukan sekadar larangan. Heritage walk, festival, dan media digital interaktif bisa membuat generasi muda merasa memiliki warisan itu," tuturnya.

Ia meyakini Kota Tua Gorontalo sangat berpotensi menjadi living heritage city, bukan sekadar museum mati, melainkan ruang kota yang tetap dihuni, digunakan, dan dihidupkan oleh masyarakat, sambil menyimpan jejak sejarahnya.

Kota Tua Gorontalo kini menghadapi pilihan penting: apakah akan kehilangan identitasnya dan tumbuh menjadi kota tanpa wajah, atau bangkit menjadi living heritage city yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus kebanggaan budaya.

"Wajah kota tua Gorontalo sedang berada di persimpangan: hilang atau hidup kembali. Dengan regulasi ditegakkan, insentif nyata, dan kolaborasi lintas sektor, kota ini bisa bangkit sebagai living heritage city," tutup Faiz.

Fenomena pembongkaran bangunan tua di Gorontalo bukan sekadar soal arsitektur, tetapi juga tentang identitas, sejarah, dan arah pembangunan. 

Jika pelestarian dikelola dengan benar, kota tua tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal dan ruang belajar sejarah bagi generasi mendatang.

 

(TribunGorontalo.com/Herjianto Tangahu)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved