Lipsus Harga Beras
Harga Beras Naik, Warga Gorontalo Pilih Beras Jagung hingga Umbi-umbian
Warga Gorontalo menjadikan beras jagung sebagai bahan pangan alternatif akibat naiknya harga beras.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Aldi Ponge
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Potret-beras-yang-dijual-pedagang-di-Pasar-Liluwo-gtggg.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Warga Gorontalo menjadikan beras jagung sebagai bahan pangan alternatif akibat naiknya harga beras.
Warga Gorontalo mengaku mengganti makanan dengan makanan lebih murah.
Mutia Badu Warga Batudaa mengungkapkan dengan adanya kenaikan harga cukup tinggi dirinya menyiasati dengan mengurangi porsi makanan beras dengan menjadi lebih hemat.
Dia ke depan akan lebih banyak mengganti beras dengan makan umbi-umbian hingga beras jagung.
"Contohnya itu beras akan kita ganti dengan umbi-umbian, beras jagung dan talas," ungkapnya kepada Tribun Gorontalo, Rabu (23/7/2025).
Selain itu, dengan kenaikan beras ini uang Rp100 ribu pun cepat habis
"Berdampak sekali, biasa Rp100 ribu sudah mencangkup semuanya tapi sekarang hanya bisa beli dua item bahan pokok," terangnya.
Tiran Wabo'o warga Desa Barakati mengaku melakukan berbagai cara untuk bisa tetap menikmati beras meski saat ini harganya cukup mahal.
Salah satu cara yang ia lakukan mencampurkan beras premium dengan beras murah.
"Kalau yang bagus itu kan harga sekarang mahal sekali jadi untuk makanan saya campur dengan beras yang murah kualitas di bawah, biar hemat," terangnya.
Ia pun mengatakan kenaikan beras sangat berdampak bagi keuangan rumah tangga.
"Sangat berdampak sekali apalagi seperti kami yang rakyat kecil," ucapnya.
Tiran menyebutkan dirinya harus putar otak untuk tetap bisa makan beras meski porsinya akan berkurang saat beras masih murah.
"Jadi harus pintar-pintar untuk mengelola apalagi beras lagi mahal-mahalnya," tegasnya.
Wahyuni pedagang Pasar Liluwo mengaku harga beras naik sudah hampir dua bulan lebih. Kondisi ini membuatnya pusing karena memikirkan beras yang sedikit terjual.
"Pusing sekali pak, ini pendapatan menurun," ucapnya.
Ia memiliki beberapa langganan penjual nasi kuning dan rumah makan. Kini mengurangi jumlah beras yang dibeli.
"Rata-rata langganan saya membeli beras tinggal sedikit mereka juga tidak bisa memaksa karena harga jual dengan beras sudah sangat beda," ucapnya.
Ia menyebutkan di tempatnya beras dijual Rp 800 ribu per koli atau karung. Sedangkan pengambilan Rp 750 ribu.
"Saya jual Rp800 karena sama hitung dengan ongkos muat dan lain-lainnya kalau bersih untungnya sedikit," jelasnya.
Untuk beras berlian ia jual Rp 17 ribu per liter dan Rp 14,500 per kilogram. Beras super win dijual Rp14 ribu per liter dan Rp 16 ribu per kilogramnya.
Kemudian beras pandan wangi Rp16 ribu per liter dan per kilogram Rp 18 ribu. "Kalau beras pandan wangi ini kualitas paling terbaik banyak juga yang membeli beras ini ketimbang yang lain," ucapnya.
Terlihat harga beras di Pasar Liluwo hampir sama semua, beberapa beras terjadi perbedaan tapi tidak melampaui jauh.
Harga Beras di Gorontalo Tembus Rp 17 Ribu per Kg dan Rp 820 Ribu per Koli
Plt Kepala Dinas Perdagangan dan Pendistribusian Kota Gorontalo, Haryono Soeronoto, menjelaskan tren naik-turun harga beras di Kota Gorontalo disebabkan faktor pasokan dan permintaan yang belum stabil.
“Harga beras saat ini fluktuatif ya, berada kisaran antara Rp 15 ribu sampai Rp 16 ribu per kilogramnya,” ujar Haryono saat ditemui Tribun Gorontalo, Rabu (23/7/2025).
Di Kota Gorontalo, harga beras medium berada di kisaran Rp 15 ribu per kilogram, sedangkan beras premium bisa mencapai Rp 16 ribu hingga Rp 17 ribu per kilogram.
Menurut Haryono, tren fluktuatif ini terjadi karena pasokan beras yang belum terdistribusi secara merata ke daerah.
“Karena kita tahu bersama, secara nasional itu kelangkaan beras khususnya premium tidak hanya terjadi di Gorontalo tapi semua daerah. Ini karena faktor pasokan dari penyedia yang belum didistribusikan ke daerah,” jelasnya.
Untuk menekan harga agar tetap stabil, Disperindag Kota Gorontalo bekerja sama dengan Bulog melalui penyaluran beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan).
Selain itu, bantuan pangan berupa beras juga disalurkan ke kelurahan-kelurahan di Kota Gorontalo.
“Kami juga bersama Bulog menyalurkan bantuan pangan berupa beras di kelurahan-kelurahan di Kota Gorontalo,” katanya.
Langkah penyaluran ini dinilai cukup efektif, meski harga beras premium masih Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu per kilogram.
Padahal, menurut Haryono, biasanya kenaikan harga hanya Rp 14 ribu per kilogram.
“Sekarang harga beras khususnya premium berada di kisaran Rp 15 ribu per kilogram, artinya itu sudah berada di harga head,” tegasnya.
Selain penyaluran beras, pihaknya juga rutin menggelar operasi pasar di distributor dan pengecer untuk menjaga rantai pasokan serta mencegah penimbunan dan kecurangan harga.
“Jadi kami melaksanakan pengawasan di distributor-distributor. Selain itu kita juga melakukan operasi pasar di pengecer-pengecer,” bebernya.
Untuk program jangka panjang, Disperindag Kota Gorontalo juga berkolaborasi dengan Dinas Pangan dan Dinas Pertanian.
“Karena dinas-dinas ini berhadapan langsung dengan para distributor-distributor, jadi kami kerja sama dengan kedua dinas tersebut untuk memastikan beras tersedia dengan jumlah yang aman,” pungkasnya.
Sementara itu di Kabupaten Gorontalo, harga beras juga terus naik drastis. Di Pasar Sentral Limboto, harga beras kini tembus Rp 820 ribu per koli.
Emus Kadir (48), seorang pedagang beras di Pasar Sentral Limboto, mengungkapkan bahwa lonjakan harga ini mulai terasa sejak bulan Juni 2025.
“Harga beras sekarang di Limboto Kabupaten Gorontalo ini tembus Rp 820 ribu per koli, tapi tergantung dari kualitas beras. Ada juga yang Rp 800 ribu, ada juga yang Rp 750 ribu untuk beras lokal,” ujar Emus saat ditemui TribunGorontalo.com di lapaknya, Selasa (22/7/2025).
Jika dijual eceran, harga beras di Limboto kini berkisar antara Rp 13.500 hingga Rp 14.000 per liter.
Emus menjual berbagai jenis beras seperti ciherang, nurdin, dan beras lokal.
Menurutnya, sebagian besar beras yang dijualnya berasal dari Sulawesi Tengah, sementara sisanya dari petani lokal di Gorontalo.
Namun, ia menilai kualitas beras lokal masih belum bisa bersaing.
“Sebelumnya itu per koli hanya Rp 650 ribu. Sekarang sudah naik jadi Rp 820 ribu. Menurut saya, ini karena panen di Kabupaten Gorontalo masih kurang, dan kualitas beras lokal juga masih di bawah,” jelasnya.
Eman (57), warga Kelurahan Dunggaluwa, Kecamatan Limboto, berharap pemerintah segera turun tangan.
“Harga beras ini kasihan, sangat mencekik masyarakat ekonomi ke bawah. Harapannya dari pemerintah provinsi dan kabupaten bisa atasi masalah ini dengan cepat,” ujarnya.
Eman menduga kenaikan harga beras dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pengelolaan pertanian hingga kondisi cuaca. Ia berharap langkah konkret seperti operasi pasar murah segera dilakukan.
“Sebelum harga bahan pokok naik lebih jauh, pemerintah harus bergerak. Bisa dengan pasar murah atau solusi lain, supaya masyarakat tidak makin terbebani,” tutup Eman. (*/Jefri/TribunGorontalo)
| Ketua DPRD Gorontalo Zulfikar Usira Sebut Operasi Pasar Jadi Solusi Sementara Tekan Harga |
|
|---|
| Panen Raya di Kabupaten Gorontalo, Harapan Baru Tekan Harga Beras Melambung |
|
|---|
| Lonjakan Harga Beras Bikin Penjual 'Nasi Kucing' Gorontalo Berencana Kurangi Porsi |
|
|---|
| Akademisi Gorontalo Ungkap 3 Pemicu Kenaikan Harga Beras: Kemarau Panjang hingga Panen Tak Serentak |
|
|---|
| Beras Mahal, Sembako Ikut Naik, Warga Gorontalo Tercekik Kenaikan Harga |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.