Lipsus Harga Beras

Panen Raya di Kabupaten Gorontalo, Harapan Baru Tekan Harga Beras Melambung

Musim panen padi telah tiba, membawa secercah harapan di tengah gejolak harga beras yang belakangan meresahkan masyarakat. 

|
Penulis: Arianto Panambang | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Panen Raya di Kabupaten Gorontalo, Harapan Baru Tekan Harga Beras Melambung
TribunGorontalo.com/Arianto Panambang
PANEN PADI - Potret petani tengah mengisi padi ke dalam karung di Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo, Rabu (23/7/2025). Terdapat tiga kecamatan sudah mulai panen yakni Tabongo, Telaga dan Mootilango. (Sumber Foto: TribunGorontalo.com/ Arianto Panambang). 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Musim panen padi telah tiba, membawa secercah harapan di tengah gejolak harga beras yang belakangan meresahkan masyarakat. 

Sejak pertengahan Juli 2025, tiga kecamatan, yakni Tabongo, Telaga, dan Mootilango sudah merayakan dimulainya panen. Adapun wilayah lain bersiap menyusul di awal Agustus.

Dinas Pertanian Kabupaten Gorontalo memikul optimisme besar. Sumadi, Kepala Bidang Tanaman Pangan, berharap panen kali ini bisa menjadi penawar untuk menekan tingginya harga beras di pasaran. 

Target yang dipasang tidak main-main, 5 hingga 6 ton gabah kering panen per hektare.

Jika tercapai, dari total 13.893 hektare sawah yang akan dipanen, produksi beras diyakini akan melimpah ruah, cukup untuk menstabilkan pasokan dan perlahan menurunkan harga.

Baca juga: Gawat! Banyak Anak SMP Menikah, Pemprov Gorontalo Siapkan Strategi Khusus Perangi Pernikahan Dini

Harga beras lokal memang cukup membebani, menyentuh angka Rp15.000 per kilogram. Panen raya ini, demikian harapan pemerintah daerah, bisa menjadi solusi jangka pendek yang sangat dibutuhkan.

Namun, tantangan tak kalah besar menghadang. Viktor Asiku, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Gorontalo, tidak menampik bahwa kenaikan harga beras sudah terasa sejak dua hingga tiga minggu terakhir. 

Salah satu penyebab utamanya adalah hasil panen yang kurang optimal dan tidak serempak. 

"Menurut pedagang, beras lokal warnanya agak hitam, jadi kurang diminati pasar. Karena itu, pasokan dari luar Gorontalo lebih banyak masuk," ungkap Viktor, menyoroti preferensi pasar yang cenderung memilih beras dengan tampilan lebih cerah.

Kini, kedua dinas berharap penuh pada momentum panen raya ini. Mereka sama-sama berharap, seiring dengan berjalannya panen di berbagai kecamatan, stabilitas pasokan dan harga beras lokal di Kabupaten Gorontalo dapat pulih dalam beberapa pekan ke depan.

Dari sisi petani, harapan besar juga tergambar jelas. Rizal Mohammad, seorang petani dari Kecamatan Telaga, telah merasakan dimulainya panen di sawahnya sejak seminggu terakhir. 

"Panen di sini sudah satu minggu ini, hasilnya juga belum kelihatan, tapi melihat harga beras yang baik, mudah-mudahan beras lokal dari hasil panen bisa bersaing dengan yang lain," ujarnya penuh harap. 

Rizal menambahkan, panen di area sekitar sawahnya juga akan berlangsung dalam beberapa hari mendatang.

Kisah panen di Gorontalo bukan sekadar tentang angka dan target, melainkan juga tentang perjuangan petani dan harapan besar masyarakat untuk menikmati beras lokal dengan harga yang lebih terjangkau. 

Akankah panen raya ini benar-benar menjadi titik balik bagi stabilitas harga beras di Kabupaten Gorontalo? Waktu yang akan menjawab.

 

 

(TribunGorontalo.com/Arianto Panambang)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved