Kamis, 12 Maret 2026

Lipsus Harga Beras

Lonjakan Harga Beras Bikin Penjual 'Nasi Kucing' Gorontalo Berencana Kurangi Porsi

Kenaikan harga beras di Kabupaten Gorontalo terus berlanjut dan kini mulai menghimpit geliat usaha kecil, khususnya pedagang makanan

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Lonjakan Harga Beras Bikin Penjual 'Nasi Kucing' Gorontalo Berencana Kurangi Porsi
TribunGorontalo.com
NASI KUCING -- Ilustrasi nasi kucing dijual. Pengusana nasi kucing harus putar otak memikirkan dampak kenaikan harga beras di Gorontalo. 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Kenaikan harga beras di Kabupaten Gorontalo terus berlanjut dan kini mulai menghimpit geliat usaha kecil, khususnya pedagang makanan seperti penjual 'nasi kucing' dan prasmanan.

Nasi kucing merujuk pada nasi dengan porsi yang kecil. Ini adalah istilah yang lebih dulu populer di Jawa untuk penyebutan nasi dengan porsi kecil layaknya makanan kucing. 

Dalam beberapa bulan terakhir, mereka terpaksa memutar kepala agar tetap bisa berjualan tanpa menaikkan harga jual. 

Hal ini terpaksa dilakukan agar pelanggan kabur. Salah satu pelaku usaha yang terdampak langsung adalah Yahya Yusuf, penjual nasi di Desa Luhu, Kecamatan Telaga, Kabupaten Gorontalo. 

Ia mengeluhkan lonjakan harga beras yang telah terjadi sejak tiga bulan terakhir.

"Saya ada usaha jual nasi kucing dan nasi prasmanan, yang jelas itu berdampak," kata Yahya mengaku terdampak atas kenaikan harga beras.

Baca juga: Akademisi Gorontalo Ungkap 3 Pemicu Kenaikan Harga Beras: Kemarau Panjang hingga Panen Tak Serentak

Yahya yang biasa membeli beras di kios-kios terdekat mengaku bahwa harga beras saat ini berkisar antara Rp 750 hingga Rp 800 ribu per koli (50 kg

Namun kata dia, paling banyak penjualan berkisar di harga Rp 750 ribu. 

Ia menduga, harga yang terus meroket ini disebabkan oleh mahalnya harga pupuk serta dampak kemarau yang memicu gagal panen.

Meski demikian, Yahya belum menaikkan harga jual nasinya. 

Ia memilih opsi lain demi tetap bisa menjual tanpa kehilangan pembeli.

"Harganya tetap hanya saja porsinya yang kita kurangi," ungkapnya.

Hal serupa juga dialami oleh Sutrianti Musa, penjual nasi lainnya. 

Ia turut merasakan dampak langsung dari kenaikan harga beras. Menurutnya, harga beras yang sudah mencapai Rp 800 ribu lebih per koli secara otomatis membuat harga beli per liter ikut naik.

"Ini harga beras sudah Rp 800 ribu lebih berarti kalau beli per liter sudah pasti naik lagi," keluhnya.

Sutrianti pun memilih langkah serupa dengan Yahya, yakni mengurangi porsi nasi ketimbang menaikkan harga. 

Ia mengaku khawatir pelanggan akan berkurang jika harga jual dinaikkan.

"Masih tetap seperti itu harganya, tapi porsi sedikit dikurangi," ujarnya.

Ia menduga, salah satu penyebab naiknya harga beras adalah banyak sawah di Desa Luhu yang terendam banjir, menyebabkan gagal panen. 

Akibatnya, beras yang tersedia dalam gudang semakin langka dan otomatis mengalami kenaikan harga.

Memang harga beras di Kabupaten Gorontalo kembali melonjak tajam dan membuat resah warga serta pedagang.

Di Pasar Sentral Limboto, harga beras kini mencapai Rp820 ribu per koli, naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan harga yang mulai terasa sejak Juni 2025 ini dinilai sangat membebani, terutama bagi masyarakat yang bisa dikatakan berpenghasilan rendah. 

Salah satu pedagang, Emus Kadir (48), mengungkapkan bahwa harga tergantung kualitas dan asal beras. 

‎"Harga beras sekarang di Limboto Kabupaten Gorontalo ini tembus Rp820 ribu per koli, tapi tergantung dari kualitas beras. Ada juga yang Rp800 ribu, ada juga yang Rp750 ribu untuk beras lokal," ungkap Emus saat ditemui TribunGorontalo.com di lapaknya, Selasa (22/7/2025).

Dalam hal ini, jika beras dijual eceran kata Emus bisa berkisar antara Rp13.500 hingga Rp14.00 per liter. Ia menjual berbagai macam beras seperti ciheran, nurdin dan beras lokal.

Emus mengaku sebagian besar beras yang dijualnya berasal dari Sulawesi Tengah, sementara sisanya dari petani lokal di Gorontalo.

‎‎Namun, Emus menilai bahwa kualitas beras lokal masih belum bisa bersaing.

"Sebelumnya itu per koli hanya Rp650 ribu. Sekarang sudah naik jadi Rp820 ribu. Menurut saya, ini karena panen di Kabupaten Gorontalo masih kurang, dan kualitas beras lokal itu juga masih di bawah," jelasnya. (*/Jian) 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved