Berita Internasional
AS Umumkan Kirim Lagi Senjata ke Ukraina, Trump Ubah Haluan Setelah Sempat Hentikan Bantuan
emerintah Amerika Serikat kembali memutuskan mengirimkan senjata tambahan ke Ukraina, demikian diumumkan Pentagon pada Senin malam waktu setempat (Sen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Presiden-AS-Donald-Trump-kiri-dan-Pete-Hegseth-menteri-pertahanan-AS-terlihat-saat-makan-malam.jpg)
TRIBUNNEWS.COM – Pemerintah Amerika Serikat kembali memutuskan mengirimkan senjata tambahan ke Ukraina, demikian diumumkan Pentagon pada Senin malam waktu setempat (Senin pagi WIB).
Pengumuman ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS "harus" memberikan lebih banyak kemampuan pertahanan kepada Ukraina.
Langkah ini menandai perubahan sikap mendadak dari pemerintahan Trump.
Sebelumnya, pada Rabu pekan lalu, Departemen Pertahanan AS menyatakan akan menghentikan sementara pengiriman sejumlah senjata, termasuk sistem pertahanan udara, ke negara yang sedang dilanda perang tersebut.
"Kami akan mengirim lebih banyak senjata. Kami harus melakukannya," kata Trump kepada wartawan saat menghadiri jamuan makan malam bersama Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, di Gedung Putih.
"Mereka harus bisa membela diri. Mereka sedang diserang sangat hebat saat ini. Sangat, sangat hebat. Begitu banyak orang tewas dalam kekacauan itu. Jadi kami harus kirimkan senjata lebih banyak, terutama senjata pertahanan," ujar Trump menekankan.
Trump, yang selama kampanye pilpres 2024 berulang kali menyatakan mampu mengakhiri perang Rusia-Ukraina hanya dalam 24 jam setelah kembali menjabat, diketahui tengah berupaya mewujudkan kesepakatan gencatan senjata.
Namun ironisnya, di tengah serangan udara besar-besaran dari Rusia ke Ukraina pekan lalu, Trump justru menghentikan sebagian pengiriman senjata.
Sikap Trump terhadap dukungan militer ke Ukraina sejak awal memang penuh tanda tanya.
Ia dikenal kritis terhadap kebijakan pengiriman bantuan militer ke Kyiv dan beberapa kali memuji Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Ketika kembali ke Gedung Putih pada 20 Januari lalu, pemerintahan Trump menyatakan bahwa akhir dari perang tidak akan mengembalikan wilayah Ukraina seperti semula.
Ketika ditanya pekan lalu soal keputusan menghentikan pengiriman senjata, Trump menyalahkan pendahulunya, Joe Biden.
Ia mengatakan bahwa Biden telah “menguras seluruh persenjataan negara” selama masa jabatannya.
"Kita harus punya cukup senjata untuk diri kita sendiri," kata Trump saat itu.
Lebih lanjut, Trump dikabarkan melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis.
Namun, Trump mengaku tidak ada kemajuan signifikan yang dicapai untuk mewujudkan gencatan senjata.
Keesokan harinya, Rusia meluncurkan gelombang serangan udara terbesar sepanjang konflik ke wilayah Ukraina.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Senin malam, Pentagon menyampaikan bahwa atas arahan Presiden Trump, Departemen Pertahanan akan segera mengirimkan “senjata pertahanan tambahan ke Ukraina agar mereka dapat mempertahankan diri, sembari kami terus bekerja untuk mencapai perdamaian yang abadi dan menghentikan pertumpahan darah.”
Pernyataan itu juga menegaskan bahwa kerangka kebijakan evaluasi pengiriman militer oleh presiden akan tetap digunakan sebagai bagian dari strategi "America First" dalam kebijakan pertahanan AS.
Dengan dinamika ini, masa depan dukungan militer Amerika Serikat untuk Ukraina kembali menjadi sorotan dunia.
Perubahan arah kebijakan yang cepat memunculkan pertanyaan: apakah ini sinyal keterlibatan lebih dalam dari Washington, atau sekadar manuver politik demi agenda domestik Trump sendiri? (*)
| Alarm Bahaya! Harga BBM yang Naik Gila-gilaan Memukul Pariwisata Asia |
|
|---|
| Ultimatum Trump Dibalas Keras, Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz |
|
|---|
| Trump Ancam Iran Hancur Total, AS Siapkan Serangan Darat dengan Kerahkan 4.500 Marinir |
|
|---|
| Iran Janjikan Pasokan Minyak untuk Sri Lanka di Tengah Krisis Global |
|
|---|
| Misteri Kota Rudal Bawah Tanah Iran: Dibom Berkali-kali, Tetap Aktif |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.