Berita Kota Gorontalo
Dana Koperasi Siswa SMP 1 Kota Gorontalo Dipertanyakan Orang Tua
Dugaan raibnya dana simpanan Koperasi Siswa (Kopsis) di SMP Negeri 1 Kota Gorontalo kembali mencuat.
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/BSU-MASUK-REKENING-Siap-siap-menerima-dana-BSU.jpg)
“Harga pasfoto tidak sampai segitu. Dan kalau pun ada pembiayaan semacam itu, seharusnya bisa dari BOS,” ujarnya tegas.
Ia pun menuding kepala sekolah saat ini tidak lepas tanggung jawab, meski program itu bukan digagas olehnya.
Kepala Sekolah Membantah Ada Penyimpangan
Dikonfirmasi terpisah, Kepala SMP Negeri 1 Kota Gorontalo, Rosmawati Bilondatu, memberikan klarifikasi.
Ia menegaskan program Kopsis bukan inisiatif dirinya, melainkan peninggalan dari kepemimpinan sebelumnya.
“Saat saya masuk, program ini sudah tidak dilanjutkan. Namun, pemanfaatan dana itu sudah dibahas bersama orang tua siswa dan komite,” ujarnya.
Rosmawati menegaskan, dana simpanan digunakan untuk kebutuhan administrasi kelulusan, seperti pasfoto dan DVD kenangan siswa.
Ia mengklaim semua keputusan telah dibahas secara terbuka dalam rapat yang disertai notulen dan dokumentasi.
“Untuk siswa tidak mampu, biaya kami gratiskan. Sementara Rp 30 ribu dari dana awal sudah dikembalikan ke orang tua siswa,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa dana BOS hanya digunakan untuk siswa yang tidak mengikuti program simpanan Kopsis, dan tidak bisa mengakomodasi seluruh siswa dalam hal pembiayaan pasfoto.
Data terakhir mencatat, terdapat 258 siswa yang menyetor dana simpanan, dengan total nilai mencapai Rp 25,8 juta.
“Jadi, waktu pengumpulan dana, saya belum bertugas di SMP 1. Tapi sekarang semuanya sudah diselesaikan,” pungkas Rosmawati.
Meski pihak sekolah mengklaim masalah sudah selesai, sebagian orang tua siswa masih menyimpan tanya. Mereka menilai informasi yang diberikan sekolah tidak sepenuhnya transparan, terutama terkait penggunaan dan pengembalian dana.
Kisruh ini menjadi pelajaran penting mengenai pentingnya pengelolaan dana secara transparan di lingkungan sekolah. Niat baik membangun usaha koperasi tak seharusnya berujung ketidakpercayaan publik.
“Jangan sampai semangat gotong royong siswa dan orang tua malah jadi kekecewaan karena ketidakjelasan laporan penggunaan uang,” pungkas Aan. (*/Jian)