Sabtu, 7 Maret 2026

Warganet Brasil Murka, Ini Alasan Evakuasi Juliana Marins di Rinjani Butuh Waktu Berhari-hari

Warganet Brasil murka dan menyebut Tim SAR Indonesia lamban, padahal banyak kendala yang ditemui Basarnas dalam proses evakuasi Juliana Marins.

Tayang:
Editor: Andriyani
zoom-inlihat foto Warganet Brasil Murka, Ini Alasan Evakuasi Juliana Marins di Rinjani Butuh Waktu Berhari-hari
Kolase Instagram sar_nasional/ajulianamarins
EVAKUASI JULIANA MARINS - Tangkap layar video proses evakuasi pendali asal Brasil di Gunung Rinjani, Juliana Marins. Warganet Brasil murka dan menyebut Tim SAR Indonesia lamban, padahal banyak kendala yang ditemui Basarnas dalam proses evakuasi Juliana Marins. 

TRIBUNGORONTALO.COM - Jatuhnya pendaki asal Brasil, Juliana Marins (27) di Gunung Rinjani menyita perhatian publik.

Pasalnya, Juliana Marins ditemukan dalam kondisi tewas setelah menunggu proses evakuasi yang berlangsung selama berhari-hari.

Juliana Marins dilaporkan terjatuh di Cemara Nunggal Sabtu (21/6/2025) dan jasadnya berhasil dievakuasi Rabu (25/6/2025).

Lamanya proses evakuasi terhadap Juliana Marins menimbulkan banyak pertanyaan tentang betapa sulitnya kondisi yang dialami pendaki tersebut.

Warganet Brasil bahkan sempat menyerbu akun media sosial Basarnas untuk menyampaikan kekecewaannya dan menyebut Tim SAR Indonesia lamban.

Namun, di balik lamanya proses evakuasi Juliana Marins, ada banyak kendala yang ditemui Basarnas.

Kepala Basarnas Marsdya TNI Mohammad Syafii menyebut, pihaknya langsung memulai operasi penyelamatan sesaat setelah laporan masuk pada Sabtu (21/6/2025).

Adapun kendala yang ditemui dalam proses evakuasi tersebut berupa kondisi geografis yang ekstrem, cuaca buruk, serta keterbatasan peralatan.

Inilah sejumlah alasan proses evakuasi Juliana Marins membutuhkan waktu berhari-hari.

Baca juga: Picuh Kemarahan, Pendaki Rinjani Asal Brasil Masih Sempat Hidup Usai Jatuh, Evakuasi Dinilai Lambat

1. Medan Ekstrem di Ketinggian 9.000 Kaki

Juliana terjatuh di jurang curam kawasan Cemara Nunggal, jalur menuju puncak Rinjani. Lokasinya berada di ketinggian 9.000 kaki atau sekitar 2.743 meter di atas permukaan laut.

“Medan tempat korban jatuh adalah tebing terjal dengan kedalaman lebih dari 600 meter. Lokasinya benar-benar sulit dijangkau dan tidak memungkinkan dilakukan evakuasi biasa,” ujar Syafii dalam konferensi pers, Selasa (24/6/2025).

Tim SAR memerlukan waktu 8 jam hanya untuk mencapai titik awal pencarian dari Pos Sembalun.

Perjalanan menempuh tebing berbatu, semak belukar, dan jalur licin akibat hujan yang mengguyur kawasan pegunungan selama dua hari berturut-turut.

2. Drone Thermal Gagal, Pencarian Terhambat Cuaca

Pada hari pertama dan kedua, tim Basarnas mengerahkan drone thermal untuk mendeteksi panas tubuh korban. Namun, drone gagal mendeteksi keberadaan Juliana akibat kabut tebal dan hujan deras.

“Pada awalnya, drone tidak bisa melihat apa pun. Jarak pandang kami hanya sekitar 5 meter. Ini sangat menyulitkan observasi,” jelas Syafii.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved