Kamis, 19 Maret 2026

WN Brasil Jatuh

Picuh Kemarahan, Pendaki Rinjani Asal Brasil Masih Sempat Hidup Usai Jatuh, Evakuasi Dinilai Lambat

Juliana Marins ternyata masih hidup setelah terjatuh di jurang pada Sabtu pagi (21/6/2025). Namun, proses penyelamatan dinilai lambat karena berlangsu

Tayang:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Picuh Kemarahan, Pendaki Rinjani Asal Brasil Masih Sempat Hidup Usai Jatuh, Evakuasi Dinilai Lambat
Humas Kantor SAR Mataram dan IG resgatejulianamarins
PENDAKI BRASIL TEWAS - Proses evakuasi pendaki wanita asal Brasil, Juliana Marins (27), yang tewas saat mendaki di Gunung Rinjani. Juliana Marins, yang tewas terjatuh mendaki Gunung Rinjani, berhasil diangkat dari jurang kedalaman 600 meter, Rabu (25/6/2025). 

"Vertical rescue sudah dianggap berlaku jika ketinggian medan lebih dari dua meter, karena pada titik tersebut sudah dibutuhkan penggunaan alat pelindung standar tinggi," ujarnya.

Risiko, alat, dan tantangan vertical rescue di gunung 

Penerapan vertical rescue menjadi krusial dalam kasus evakuasi di gunung, seperti insiden korban jatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani. 

Barqu menjelaskan, penyelamatan di medan seperti ini bukan hanya tentang menurunkan tali dan menarik korban. 

Perlu perhitungan matang terkait cuaca, medan, distribusi peralatan, hingga kondisi tubuh penyelamat di ketinggian lebih dari 3.000 meter.

"Kondisi di pegunungan memiliki risiko tersendiri seperti oksigen menipis, angin kencang, dan suhu rendah yang memengaruhi stamina tim penyelamat," jelasnya.

Sementara alat yang dibutuhkan sangat beragam dan berat, seperti tali kermantel sepanjang 500 meter, tripod dengan sistem CD3, harness, carabiner, hingga peralatan pengaman lainnya. 

"Dalam konteks gunung Rinjani, berdasarkan informasi evakuasi korban berjarak sekitar 600 meter, sejauh yang saya ketahui persediaan tali paling panjang yang diproduksi di Indonesia hanya 200 meter," terangnya.

Distribusi alat ke lokasi juga memerlukan waktu dan tenaga besar, belum termasuk analisis risiko yang menyertai setiap langkah penyelamatan.

Tantangan tambahan di medan berpasir

Di lokasi gunung aktif seperti Rinjani yang memiliki kontur tanah berpasir, tantangan pun bertambah. 

Sulitnya menemukan titik tambatan atau anchor point membuat tim penyelamat harus membuat sistem tambatan altrnatif seperti dead man atau dead boy.

Dead man atau dead boy adalah besi atau plat yang dikubur di dalam pasir untuk menahan tali evakuasi. 

“Kita harus gali dulu pasir untuk tambatan karena tidak ada pohon atau struktur keras yang bisa digunakan,” ungkap Barqu.

Menurutnya, evakuasi di gunung tak semudah yang dibayangkan. Banyak masyarakat mengira evakuasi korban di gunung bisa dilakukan dengan cepat. 

Namun kenyataannya, faktor medan dan distribusi alat membuat proses ini tidak bisa diselesaikan dalam hitungan jam. 

“Mau tidak mau, pendakian, distribusi alat, sampai analisis medan semua butuh waktu. Bisa saja evakuasi memakan waktu seharian penuh. Dalam kondisi tertentu bahkan bisa lebih dari satu atau dua hari,” tambahnya.

Menurut Barqu, medan gunung tidak bisa disamaratakan. Setiap gunung juga memiliki karakteristik sendiri yang memengaruhi jalannya operasi. 

Petugas keselamatan (safety officer) harus mempertimbangkan banyak faktor sebelum turun melakukan evakuasi, terutama jika korban berada di lokasi curam atau jauh dari titik awal.

Helikopter bukan solusi instan

Penggunaan helikopter sering disebut sebagai alternatif evakuasi cepat, tetapi dalam kondisi nyata di pegunungan, hal ini tidak sesederhana yang dibayangkan. 

“Masalahnya bukan soal terbang ke lokasi, tapi saat helikopter harus stay atau tetap melayang di udara dalam kondisi cuaca buruk. Itu yang sangat berisiko,” terang Barqu. 

Turbulensi, kabut tebal, dan angin kencang membuat manuver penyelamatan udara menjadi pilihan terakhir yang sangat dipertimbangkan.

Barqu berharap masyarakat lebih memahami kompleksitas dan risiko yang dihadapi oleh tim penyelamat di medan ekstrem. 

Penyelamatan di gunung berbeda jauh dengan evakuasi di wilayah kota atau industri. 

“Petugas keselamatan perlu waktu, tenaga, dan strategi yang matang. Jadi hargai setiap proses yang dilakukan di lapangan,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Juliana Marins Sempat Masih Hidup Usai Jatuh di Rinjani

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved