Rabu, 18 Maret 2026

WN Brasil Jatuh

Picuh Kemarahan, Pendaki Rinjani Asal Brasil Masih Sempat Hidup Usai Jatuh, Evakuasi Dinilai Lambat

Juliana Marins ternyata masih hidup setelah terjatuh di jurang pada Sabtu pagi (21/6/2025). Namun, proses penyelamatan dinilai lambat karena berlangsu

Tayang:
Editor: Ponge Aldi
zoom-inlihat foto Picuh Kemarahan, Pendaki Rinjani Asal Brasil Masih Sempat Hidup Usai Jatuh, Evakuasi Dinilai Lambat
Humas Kantor SAR Mataram dan IG resgatejulianamarins
PENDAKI BRASIL TEWAS - Proses evakuasi pendaki wanita asal Brasil, Juliana Marins (27), yang tewas saat mendaki di Gunung Rinjani. Juliana Marins, yang tewas terjatuh mendaki Gunung Rinjani, berhasil diangkat dari jurang kedalaman 600 meter, Rabu (25/6/2025). 

TRIBUNGORONTALO.COM - Proses evakuasi terhadap  Juliana Marins (26) pendaki Gunung Rinjani asal Brasil menuai sorotan.

Juliana Marins ternyata masih sempat hidup setelah terjatuh di jurang pada Sabtu pagi (21/6/2025).

Namun, proses penyelamatan dinilai lambat karena berlangsung beberapa hari hingga ditemukan meninggal pada Selasa (24/6/2025).

Kendati upaya evakuasi terganggu karena medan dan cuaca, muncul kritik dan kemarahan publik Brasil dan tanah air karena upaya evakuasi tim SAR dinilai lambat. 

Juliana jatuh pada Sabtu pagi (21/6/2025), saat mendaki bersama lima temannya dan seorang pemandu di jalur curam dekat kawah Rinjani. Jenazahnya berhasil dievakuasi pada Rabu (25/6/2025).

Beberapa rekaman video dari drone dan kamera pendaki yang beredar di media Brasil menunjukkan bahwa Juliana masih hidup usai terjatuh.

Ia terlihat duduk dan berdiri di atas tanah berwarna abu-abu, jauh di bawah jalur pendakian.

 Tim penyelamat sempat mendengar teriakan minta tolong dari korban tak lama setelah insiden.

Namun, upaya penyelamatan gagal dilakukan dalam waktu cepat karena lokasi jatuhnya berada di jurang sedalam 600 meter dengan medan yang sangat ekstrem serta cuaca berkabut tebal.

Pihak keluarga, dalam pernyataan di media sosial, menyatakan duka yang mendalam atas kematian Juliana dan mengungkapkan rasa syukur atas doa dan dukungan publik.

Namun, banyak warganet Brasil menyampaikan kekecewaan mereka terhadap penanganan insiden ini oleh otoritas Indonesia.

Basarnas bantah lamban, jelaskan tantangan medan

Menanggapi kritik tersebut, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsdya TNI Mohammad Syafii membantah tudingan bahwa proses penyelamatan berjalan lambat.

Menurutnya, upaya penyelamatan telah dimulai sejak Sabtu pukul 10.21 WITA, hanya beberapa jam setelah insiden dilaporkan.

"Saya pastikan bahwa kejadian ini sebenarnya direspons sangat cepat oleh berbagai potensi SAR yang ada di wilayah Mataram," ujar Syafii dalam konferensi pers, Selasa (24/6/2025).

Ia menjelaskan bahwa medan yang dihadapi luar biasa sulit. Lokasi korban berada di tebing curam pada ketinggian 9.000 kaki.

Tim penyelamat harus membawa peralatan vertical rescue dan menghadapi cuaca buruk, termasuk kabut tebal dan hujan yang mengganggu jarak pandang.

Meski drone thermal sempat digunakan, alat itu gagal mendeteksi posisi korban pada hari pertama. Baru pada Senin, drone berhasil mengidentifikasi tubuh Juliana yang sudah tidak bergerak.

Proses pencapaian titik korban pun sangat menantang. Tali evakuasi yang tersedia hanya sepanjang 250 meter, sementara jurang tempat korban jatuh sedalam 600 meter.

Tim harus menyambung tali secara manual dan memasang tambatan di medan yang sangat curam, dengan pasokan oksigen terbatas di ketinggian.

"Kedalaman sejauh 400–500 meter ini bukan sesuatu yang gampang. Tambatan tali tidak bisa dipasang dengan aman," jelas Syafii.

Evakuasi dilakukan dengan sistem vertical lifting

Setelah jasad Juliana ditemukan pada Rabu (25/6/2025), tim SAR melakukan evakuasi dengan sistem vertical lifting.

Jenazah kemudian dibawa menyusuri jalur pendakian menuju Posko Sembalun, dan dari sana dievakuasi menggunakan helikopter ke RS Bhayangkara Polda NTB untuk penanganan lebih lanjut.

Syafii menegaskan bahwa semua prosedur dijalankan sesuai standar operasi, dengan prioritas pada keselamatan personel.

"Kami turut berduka cita atas kejadian ini. Kami juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu proses evakuasi di medan yang sangat sulit," pungkasnya.

Diketahui, Gunung Rinjani, yang memiliki ketinggian 3.726 meter, dikenal sebagai salah satu destinasi favorit pendakian di Indonesia.

Namun, insiden pendaki jatuh atau meninggal dunia bukan yang pertama. Pada Mei lalu, seorang wisatawan asal Malaysia juga tewas saat mencoba mendaki gunung tersebut.

Kronologi Turis Brasil Juliana Marins Jatuh di “Jalur Neraka” Rinjani

Seorang turis asal Brasil, Juliana Marins (26), dilaporkan terjatuh ke jurang sedalam ratusan meter di kawasan Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Sabtu (21/6/2025).

Peristiwa ini menyita perhatian publik karena proses evakuasi yang kompleks serta lokasi jatuh yang ekstrem.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas), Marsekal Muda TNI Mohammad Syafii, dalam keterangannya di akun resmi Basarnas, Selasa, (24/6/2025) malam, memastikan korban ditemukan tidak bernyawa di kedalaman 600 meter.

Berikut kronologi kejadian jatuhnya turis asal Brasil, Juliana Marins di “jalur neraka” Gunung Rinjani berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun.

- Pendakian Menuju Puncak

 Juliana Marins melakukan pendakian ke Gunung Rinjani bersama enam orang rekannya dan seorang pemandu lokal. Mereka memilih jalur Sembalun dan pada Sabtu (21/6/2025) dini hari.

Juliana melanjutkan perjalanan menuju puncak bersama lima pendaki lain dan pemandu.

Saat tiba di titik Cemara Nunggal, Juliana dilaporkan merasa kelelahan dan diminta oleh pemandu untuk beristirahat.

Pemandu kemudian melanjutkan perjalanan ke puncak bersama kelima pendaki lainnya, meninggalkan Juliana sendirian di titik istirahat.

- Hilangnya Kontak dan Penemuan Awal

Saat Juliana tidak kunjung menyusul rombongan, pemandu memutuskan kembali ke lokasi tempat Juliana terakhir beristirahat.

Namun, Juliana tidak ditemukan di sana. Dari titik tersebut, pemandu melihat cahaya senter di bawah jurang yang mengarah ke Danau Segara Anak.

Ia menduga cahaya itu berasal dari Juliana yang terjatuh dan segera menghubungi otoritas untuk meminta bantuan.

Mengenal Kesulitan Penyelamatan dengan Teknik "Vertical Rescue" seperti di Gunung Rinjani

Ahmad Barqu Syudjai, Staf Tanggap Darurat Pemulihan dan Rekonstruksi (TDPR) sekaligus rescuer dari Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa, menegaskan bahwa prinsip utama dalam setiap operasi penyelamatan adalah keamanan. 

“Yang pertama harus aman dulu. Aman untuk rescuer, aman untuk lingkungan, baru terakhir aman untuk korban,” jelasnya.

Hal ini menjadi sangat penting ketika menghadapi medan ekstrem seperti lereng curam atau jurang, yang menjadi ranah kerja dari vertical rescue.

Vertical rescue merupakan operasi evakuasi yang dilakukan di ketinggian atau tempat yang memiliki risiko jatuh tinggi. 

"Vertical rescue sudah dianggap berlaku jika ketinggian medan lebih dari dua meter, karena pada titik tersebut sudah dibutuhkan penggunaan alat pelindung standar tinggi," ujarnya.

Risiko, alat, dan tantangan vertical rescue di gunung 

Penerapan vertical rescue menjadi krusial dalam kasus evakuasi di gunung, seperti insiden korban jatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani. 

Barqu menjelaskan, penyelamatan di medan seperti ini bukan hanya tentang menurunkan tali dan menarik korban. 

Perlu perhitungan matang terkait cuaca, medan, distribusi peralatan, hingga kondisi tubuh penyelamat di ketinggian lebih dari 3.000 meter.

"Kondisi di pegunungan memiliki risiko tersendiri seperti oksigen menipis, angin kencang, dan suhu rendah yang memengaruhi stamina tim penyelamat," jelasnya.

Sementara alat yang dibutuhkan sangat beragam dan berat, seperti tali kermantel sepanjang 500 meter, tripod dengan sistem CD3, harness, carabiner, hingga peralatan pengaman lainnya. 

"Dalam konteks gunung Rinjani, berdasarkan informasi evakuasi korban berjarak sekitar 600 meter, sejauh yang saya ketahui persediaan tali paling panjang yang diproduksi di Indonesia hanya 200 meter," terangnya.

Distribusi alat ke lokasi juga memerlukan waktu dan tenaga besar, belum termasuk analisis risiko yang menyertai setiap langkah penyelamatan.

Tantangan tambahan di medan berpasir

Di lokasi gunung aktif seperti Rinjani yang memiliki kontur tanah berpasir, tantangan pun bertambah. 

Sulitnya menemukan titik tambatan atau anchor point membuat tim penyelamat harus membuat sistem tambatan altrnatif seperti dead man atau dead boy.

Dead man atau dead boy adalah besi atau plat yang dikubur di dalam pasir untuk menahan tali evakuasi. 

“Kita harus gali dulu pasir untuk tambatan karena tidak ada pohon atau struktur keras yang bisa digunakan,” ungkap Barqu.

Menurutnya, evakuasi di gunung tak semudah yang dibayangkan. Banyak masyarakat mengira evakuasi korban di gunung bisa dilakukan dengan cepat. 

Namun kenyataannya, faktor medan dan distribusi alat membuat proses ini tidak bisa diselesaikan dalam hitungan jam. 

“Mau tidak mau, pendakian, distribusi alat, sampai analisis medan semua butuh waktu. Bisa saja evakuasi memakan waktu seharian penuh. Dalam kondisi tertentu bahkan bisa lebih dari satu atau dua hari,” tambahnya.

Menurut Barqu, medan gunung tidak bisa disamaratakan. Setiap gunung juga memiliki karakteristik sendiri yang memengaruhi jalannya operasi. 

Petugas keselamatan (safety officer) harus mempertimbangkan banyak faktor sebelum turun melakukan evakuasi, terutama jika korban berada di lokasi curam atau jauh dari titik awal.

Helikopter bukan solusi instan

Penggunaan helikopter sering disebut sebagai alternatif evakuasi cepat, tetapi dalam kondisi nyata di pegunungan, hal ini tidak sesederhana yang dibayangkan. 

“Masalahnya bukan soal terbang ke lokasi, tapi saat helikopter harus stay atau tetap melayang di udara dalam kondisi cuaca buruk. Itu yang sangat berisiko,” terang Barqu. 

Turbulensi, kabut tebal, dan angin kencang membuat manuver penyelamatan udara menjadi pilihan terakhir yang sangat dipertimbangkan.

Barqu berharap masyarakat lebih memahami kompleksitas dan risiko yang dihadapi oleh tim penyelamat di medan ekstrem. 

Penyelamatan di gunung berbeda jauh dengan evakuasi di wilayah kota atau industri. 

“Petugas keselamatan perlu waktu, tenaga, dan strategi yang matang. Jadi hargai setiap proses yang dilakukan di lapangan,” tandasnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Juliana Marins Sempat Masih Hidup Usai Jatuh di Rinjani

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved