Berita Nasional
Perang Harga Mobil di China Memanas, BYD Jual Mobil Rp 120-an Juta
Industri otomotif di China sedang menghadapi gejolak persaingan harga yang semakin ketat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-HARGA-MOBIL-Langkah-BYD.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Industri otomotif di China sedang menghadapi gejolak persaingan harga yang semakin ketat.
Sebab, kini perusahaan mobil listrik terkemuka, BYD, secara signifikan memangkas banderol sejumlah produknya.
Hal ini pun menimbulkan kekhawatiran mendalam di kalangan pabrikan lain hingga mengakibatkan nilai saham mereka merosot tajam.
Sebagaimaan dikutip dari Reuters, BYD baru-baru ini mengurangi tarif jual lebih dari selusin tipe kendaraannya yang dipasarkan di Tiongkok.
Penurunan harga yang paling mencolok terlihat pada model termurahnya, hatchback Seagull.
Mobil tersebut kini ditawarkan dengan harga awal 55.800 yuan atau setara dengan kira-kira Rp 126,09 juta.
Harga ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan sebelumnya yang hampir mencapai angka USD 10.000 atau sekitar Rp 162,94 juta.
Kebijakan agresif BYD dalam memangkas harga jual ini seketika membuat para produsen mobil lainnya merasa gelisah.
Kecemasan akan perang tarif yang semakin mendalam menghantui benak mereka.
Perusahaan-perusahaan otomotif dengan daya saing yang kurang kuat kini harus berpikir keras.
Para produsen mesti mencegah kerugian yang berpotensi bertambah besar akibat penurunan harga yang diterapkan oleh BYD.
Direktur Eksekutif dari lembaga konsultan Sino Auto Insights, Tu Le, bahkan menggambarkan situasi ini sebagai "pertumpahan darah menjelang akhir tahun."
Ia berpendapat bahwa langkah BYD ini berpotensi memicu efek domino yang pada akhirnya akan memberikan tekanan berat kepada para pemain yang lebih lemah.
Bahkan perusahaan rintisan seperti Neta dan Polestar yang kondisi finansialnya sudah cukup rapuh, bisa jatuh.
Sebelumnya, pemimpin utama Great Wall Motors, Wei Jianjun, juga telah menyampaikan peringatan serius mengenai kondisi sektor otomotif China yang dianggapnya tidak sehat.
Menurutnya, perang harga yang sedang terjadi sangat membebani keuntungan perusahaan dan para pemasok komponen.
Ia bahkan mengibaratkan kondisi industri otomotif China saat ini dengan krisis utang besar yang dialami oleh pengembang properti Evergrande yang akhirnya mengalami likuidasi pada tahun lalu.
"Saat ini, fenomena Evergrande di industri otomotif sudah ada, meskipun belum sampai pada tahap kehancuran," ujar Wei Jianjun dalam wawancaranya dengan media Sina Finance.
Pasar kendaraan listrik di China memang diramaikan oleh kehadiran berbagai perusahaan rintisan dalam satu dekade terakhir.
Akan tetapi, persaingan harga yang sangat ketat terbukti menjadi tantangan yang berat bagi banyak di antara mereka.
Data dari perusahaan riset Jato Dynamics menunjukkan bahwa dari 169 pabrikan mobil yang beroperasi di China saat ini, lebih dari separuhnya hanya mampu meraih pangsa pasar di bawah 0,1 persen, yang menggambarkan betapa sengitnya kompetisi di pasar tersebut.
Selain perang harga, praktik penjualan mobil bekas dengan jarak tempuh nol kilometer juga menjadi perhatian dan menimbulkan kekhawatiran.
Metode ini dianggap sebagai strategi yang digunakan oleh para produsen dan dealer untuk mencapai target penjualan mereka, yang semakin memperburuk kondisi pasar otomotif di China.
Catatan: Kurs USD ke IDR yang digunakan adalah sekitar Rp 16.294,05 berdasarkan data terkini. Perlu diingat bahwa nilai tukar mata uang dapat berubah sewaktu-waktu.
(*)
| Jenazah Wanita Dihadang Warga saat Diantar ke Pemakaman, Terungkap Rupanya Punya Hutang Belum Lunas |
|
|---|
| Guntur Romli Soroti Tak Ada Ucapan Duka Prabowo atas Wafatnya Ali Khamenei |
|
|---|
| Konflik Iran Vs Amerika Ganggu Harga Bahan Bakar hingga Berpotensi Picu PHK Massal di Indonesia |
|
|---|
| Pengumuman THR dan BHR Ojol 2026 Ditunda, Pemerintah Jadwalkan Ulang Besok |
|
|---|
| Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Bertepatan 13 Ramadan, Ini Jadwal Lengkapnya |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.