Berita Nasional
Guntur Romli Soroti Tak Ada Ucapan Duka Prabowo atas Wafatnya Ali Khamenei
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menyoroti belum adanya pernyataan resmi berupa belasungkawa dari Preside
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Presiden-Prabowo-Subianto-saat-memimpin-sidang-kabinet-paripurna-di-Istana-Negara.jpg)
Ringkasan Berita:
- Politikus PDIP Guntur Romli mempertanyakan belum adanya ucapan belasungkawa dari Presiden Prabowo Subianto atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
- Ia menilai absennya pernyataan resmi tersebut kontras dengan hubungan diplomatik Indonesia dan Iran yang telah lama terjalin.
- Guntur juga menyoroti rencana Indonesia menjadi mediator konflik, yang menurutnya perlu diiringi sikap diplomatik yang konsisten.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memunculkan respons politik di dalam negeri.
Politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Mohamad Guntur Romli, menyoroti belum adanya pernyataan resmi berupa belasungkawa dari Presiden RI Prabowo Subianto hingga beberapa hari setelah kabar tersebut beredar.
Informasi mengenai meninggalnya Khamenei pertama kali disampaikan media Iran, Fars News Agency, pada Minggu (1/3/2026).
Media tersebut melaporkan bahwa Khamenei wafat akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat, saat ia disebut sedang menjalankan tugas kenegaraan.
Di Indonesia, perhatian publik kemudian tertuju pada sikap resmi pemerintah. Hingga Selasa (3/3/2026) pagi sekitar pukul 10.15 WIB, tidak ditemukan unggahan atau pernyataan duka cita di akun media sosial resmi Presiden maupun pada laman pribadinya.
Baca juga: Konflik Iran Vs Amerika Ganggu Harga Bahan Bakar hingga Berpotensi Picu PHK Massal di Indonesia
Kondisi itu dikritik Guntur Romli melalui unggahan di akun Instagram miliknya. Ia menyatakan belum menemukan ucapan belasungkawa dari kepala negara Indonesia atas wafatnya pemimpin Iran tersebut.
Menurutnya, dalam konteks hubungan antarnegara yang telah lama terjalin, penyampaian duka cita merupakan bagian dari etika diplomatik.
Sorotan Guntur tidak berhenti pada absennya pernyataan duka. Ia juga mengaitkannya dengan sikap Presiden yang sebelumnya menyatakan kesiapan Indonesia berperan dalam meredakan ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Pernyataan kesiapan itu disampaikan melalui rilis resmi Kementerian Luar Negeri pada 28 Februari 2026.
Dalam keterangan tersebut, pemerintah menyebut Presiden RI bersedia memfasilitasi dialog dan, jika disetujui para pihak, siap bertolak ke Teheran untuk menjalankan misi mediasi.
Bagi Guntur Romli, ada pertanyaan yang muncul dari dua sikap tersebut. Ia menilai tawaran menjadi penengah konflik merupakan langkah yang dapat diapresiasi sebagai komitmen terhadap perdamaian.
Namun, ia mempertanyakan bagaimana peran tersebut akan diterima oleh pihak Iran jika ucapan duka atas wafatnya pemimpin negara itu belum disampaikan secara terbuka.
Dalam unggahannya, ia juga mengutip adanya pandangan yang menilai langkah mediasi tersebut berpotensi dipersepsikan sebagai pencitraan, karena tidak diiringi gestur diplomatik dasar terhadap negara sahabat.
Baca juga: Peringatan BMKG: Cuaca Gorontalo Besok Rabu 4 Maret 2026 Diprakirakan Berawan hingga Hujan Ringan
Sebagai catatan, Indonesia dan Iran telah menjalin hubungan diplomatik sejak 1950. Kerja sama kedua negara mencakup berbagai sektor seperti perdagangan, energi, pendidikan, dan isu-isu global.
Kolaborasi itu juga berlangsung dalam sejumlah forum internasional, di antaranya Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kerja Sama Islam, D-8 Organization for Economic Cooperation, serta BRICS.
Hubungan bilateral yang telah berjalan lebih dari tujuh dekade tersebut menjadi latar yang ikut disinggung dalam kritik terhadap sikap resmi pemerintah atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran.(*)