Berita Viral
VIRAL INTERNASIONAL: Influencer Asal Meksiko Ditembak Saat Live Streaming di TikTok
Seorang influencer bernama Valeria Marquez di Zapopan, Meksiko tewas disaat lagi live streaming.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/srghsrthrt.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Seorang influencer bernama Valeria Marquez di Zapopan, Meksiko tewas disaat lagi live streaming.
Dirinya tewas usai di tembak di bagian dada dan kepala.
Hal itu menyebabkan dirinya tewas seketika.
Dilansir dari TribunMedan.com, Hingga kini, belum ada tersangka yang ditangkap, namun pihak kepolisian mencurigai bahwa kematiannya terkait dengan kekerasan berbasis gender yang masih tinggi di negara tersebut.
Baca juga: Cek Harga BBM di Pertamina Se-Indonesia Hari Ini Jumat 16 Mei 2025: Ada Pertamax hingga Solar
Dikutip dari Dailystar.co.uk Kamis (15/5/2025), dalam siaran langsung yang berlangsung saat kejadian, Marquez sempat terlihat berbicara dengan seorang pria pengantar barang yang tidak terekam kamera.
“Dia seperti anak babi kecil!” candanya sambil kembali menyapa para penonton dan membuka boneka binatang yang ia terima, sambil tersenyum dan melempar rambut pirangnya ke belakang bahu.
Beberapa saat kemudian, ia ditemukan terkulai tak bernyawa di kursinya.
Darah terlihat menggenang di meja tempat ia duduk, sementara siaran langsung terus berlanjut.
Baca juga: Rachmat Gobel, Mantan Menteri Perdagangan Jadi Saksi di Sidang Tom Lembong Soal Korupsi Impor Gula
Tayangan tersebut baru berhenti ketika seseorang mengambil ponsel Marquez, dan wajahnya sempat terlihat oleh para penonton.
Sebelumnya, dalam siaran tersebut, Marquez sempat menyebutkan bahwa ia menerima sebuah hadiah mahal di salon saat ia keluar sebentar.
Hal itu membuatnya merasa tidak nyaman, dan ia memutuskan untuk tidak menunggu orang yang mengirimkan hadiah tersebut datang kembali.
Hanya beberapa jam setelah kejadian itu, seorang mantan anggota parlemen dari Partai PRI, Luis Armando Cordova Diaz, juga ditemukan tewas tertembak di sebuah kafe di wilayah yang sama.
Baca juga: GORONTALO TERPOPULER: Larangan Waria Manggung hingga Kisah Perjuangan Irwan Hunawa
Pihak berwenang di negara bagian Jalisco, wilayah tempat kedua kejadian terjadi, masih belum memastikan apakah pembunuhan Marquez secara resmi diklasifikasikan sebagai femicide, namun kejahatan terhadap perempuan masih menjadi persoalan serius di Meksiko.
Berdasarkan data terbaru, Meksiko berada di urutan keempat tertinggi di Amerika Latin dan Karibia dalam kasus femicide, bersama dengan Paraguay, Uruguay, dan Bolivia.
Negara bagian Jalisco sendiri menempati peringkat keenam dalam jumlah kasus pembunuhan dari total 32 negara bagian termasuk Mexico City.
Direktur Human Rights Watch wilayah Amerika, Juanita Goebertus, menyampaikan kepada CNN bahwa pada tahun 2022, sekitar 4.000 perempuan dibunuh di Meksiko, mewakili 12 persen dari total kasus pembunuhan di tahun itu.
Namun, hanya sekitar 67 persen kasus yang berhasil sampai pada tahap putusan hukum.
Baca juga: Sofyan Puhi Bupati Gorontalo Gelar Rapat Evaluasi dengan Perusahaan Retail, Syaratkan Ikuti Aturan
Ia menekankan bahwa tantangan terbesar adalah meningkatkan kapasitas otoritas untuk menyelidiki kasus serta melindungi korban dan saksi.
Sementara itu, akun Instagram pribadi Marquez kini dipenuhi komentar dari para pengikutnya yang mengungkapkan duka dan rasa kehilangan.
“Kasus ini benar-benar menyentuh hati saya... Kejahatan yang ada di hati manusia, rasa iri, dan kehilangan jati diri sungguh tak masuk akal,” tulis salah satu pengikutnya.
“Ini sangat menyedihkan. Video-videonya sangat menginspirasi,” tulis pengikut lain.
Baca juga: Tonny Junus Terpilih Jadi Ketua LPTQ, Berkomitmen Kembangkan Sektor Keagamaan di Kabupaten Gorontalo
Meskipun pemerintah Meksiko telah mengesahkan berbagai undang-undang untuk memerangi kekerasan berbasis gender, tingkat femicide di negara tersebut tetap menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
Sosiolog Paulina Garcia-Del Moral dari University of Guelph, Kanada, mengaitkan tingginya kekerasan terhadap perempuan dengan budaya machismo, seksisme yang mendalam, serta kegagalan institusi dalam mengatasi dan mengakui peran mereka dalam melanggengkan kekerasan terhadap perempuan.
"Masih banyak pria di Meksiko—dan di wilayah Amerika Latin serta berbagai belahan dunia lain—yang merasa berhak atas tubuh perempuan," ujar Dr. Garcia-Del Moral.
"Pola pikir seperti ini terbukti sangat kuat dan sulit untuk diubah," sambungnya. (*)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.