Nilai Rupiah
Nilai Rupiah Makin Terpuruk, Hampir Sentuh Rp17 ribu Per Dollar AS & Jadi Mata Uang Terlemah di Asia
Nilai tukar rupiah terus melemah dan mendekati level psikologis 17.000 per dollar AS. Rupiah dibuka di level Rp16.898 per dollar Amerika Serikat (AS).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nilai-Rupiah-dshfgsgdfgdbdcca.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM-Usai libur Lebaran Idulfitri 1446 H, Nilai rupiah diperediksi akan bergerak melemah hingga nyaris menyentuh Rp17 ribu per Dollar AS pada Selasa (8/4/2025).
Jika dilihat Nilai tukar rupiah tertekann dan dibuka melemah siginifikan pada awal perdagangan Senin (7/4/2025). Rupiah dibuka di level Rp16.898 per dollar Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari data Bloomberg, Senin (7/4/2025) pukul 09.13 WIB, rupiah di pasar spot berada di level 16.920,5 per dollar AS. Angka ini turun 1,61 persen atau setara 268 poin dibandingkan penutupan sebelumnya.
Sebelumnya, kurs rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) bahkan sempat menembus 17.000 per dollar AS.
Sebagai catatan, NDF merupakan kontrak derivatif valas yang memungkinkan dua pihak menukar mata uang dengan kurs tertentu di masa mendatang.
Baca juga: Isak Tangis Dadang Kosasih Kabid Dishub Bogor saat Ditelepon Dedi Mulyadi, Bahas Apa?
Baca juga: Jumran Anggota TNI AL Diduga Pakai Kaus Tangan saat Bunuh Juwita, Bikin Skenario Kecelakaan Motor
Pengamat pasar uang Lukman Leong menyebut tekanan terhadap rupiah masih besar.
“Melihat sentimen risk off yang sangat kuat di pasar dan berbagai mata uang emerging yang masih melemah cukup besar pagi ini,” kata Lukman kepada Kompas.com, Senin (7/4/2025).
Ia menambahkan, sentimen risk off dipicu oleh pernyataan Menteri Perdagangan Amerika Serikat (AS) Howard Lutnick yang menegaskan bahwa kebijakan tarif tidak akan ditunda.
Risk off merujuk pada situasi saat investor menarik dana dari aset berisiko dan memilih instrumen safe haven, seperti dollar AS, emas, atau obligasi.
Lukman juga mencatat, Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan dagang hanya akan terjadi jika defisit perdagangan AS bisa diatasi.
Selain itu, ketegangan perang dagang diperkirakan meningkat. Setelah China, Uni Eropa juga disebut berpeluang merespons tarif impor AS dengan kebijakan serupa.
Sementara itu, beberapa mata uang utama justru menguat terhadap dollar AS pada pagi ini. Penguatan tercatat pada yuan China (CHY), yen Jepang (JPY), euro (EUR), dan poundsterling Inggris (GBP).
BI Turun Gunu Intervensi Pasar
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 7 April 2025 memutuskan untuk melakukan intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward / NDF). Tujuannya untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah dari tingginya tekanan global.
Sebagaimana diketahui, kebijakan tarif resiprokal yang diumumkan pemerintah Amerika Serikat pada 2 April 2025 dan respons kebijakan retaliasi tarif oleh pemerintah Tiongkok pada 4 April 2025, telah menimbulkan gejolak pasar keuangan global.
Salah satunya termasuk arus modal keluar dan tingginya tekanan pelemahan nilai tukar di banyak negara khususnya negara emerging market.
Sehingga tekanan terhadap nilai tukar Rupiah telah terjadi di pasar NDF di tengah libur panjang pasar domestik dalam rangka Idulfitri 1446H.
Baca juga: Pedagang di Terminal Andalas Gorontalo Mulai Bongkar Lapak, Minta Wali Kota Sediakan Lahan Baru
Baca juga: Presiden Prabowo Tak Setuju Koruptor Dihukum Mati: Namun Apa Yang Dicuri Harus Dikembalikan
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, intervensi di pasar off-shore (Non Deliverable Forward / NDF) dilakukan Bank Indonesia secara berkesinambungan di pasar Asia, Eropa, dan New York.
BI juga akan melakukan intervensi secara agresif di pasar domestik sejak awal pembukaan tanggal 8 April 2025 dengan intervensi di pasar valas (Spot dan DNDF) serta pembelian SBN di pasar sekunder.
BI juga akan melakukan optimalisasi instrumen likuiditas Rupiah untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan domestik.
"Serangkaian langkah-langkah Bank Indonesia ini ditujukan untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah serta menjaga kepercayaan pelaku pasar dan investor terhadap Indonesia," kata Ramdan.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.